Antara Mudik Biologis dan Mudik Spiritual

Oleh: Yusuf Hanafi

Dalam dua pekan terakhir di paroh kedua bulan Ramadhan, materi pemberitaan teraktual yang paling menyita perhatian publik adalah topik “mudik”, yang berarti kembali atau pulang ke kampung halaman. Nyaris tidak satupun media, baik cetak maupun elektronik, yang tidak menyajikan liputan seputar mudik lebaran. Memang, mudik di Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri telah menjadi semacam ritual tahunan yang sangat merepotkan sekaligus konsumtif.
Merepotkan, karena dikabarkan pihak kepolisian sampai menghabiskan lebih dari 55 milyar rupiah untuk mengawal dan mengamankan “prosesi tahunan” itu. Bahkan Departemen Perhubungan (Dephub) merilis, angkutan umum yang terlibat dalam prosesi mudik tahun 2009 ini mencapai hampir 5,3 juta unit. Konsumtif, karena begitu besarnya akumulasi penghasilan, gaji, tabungan plus THR yang dibelanjakan dalam rentang satu atau dua minggu saat berada di kampung halaman. Dan, lebih ironis lagi, ada pula yang rela berhutang dan menggadaikan barang demi keperluan mudik ke kampung halaman.
Jika dicermati lebih dalam, prosesi mudik lebaran itu ada plus minus-nya. Dari perspektif sosiologis, akan terpupuk kembali hubungan emosional si pemudik setelah sekian lama berpisah dengan orang tua, sanak saudara, dan tetangga di kampung halaman melalui silaturahmi. Dari sudut pandang ekonomis, budaya mudik itu bisa diterjemahkan sebagai pemulangan uang yang menumpuk di kota agar terdistribusi ke daerah. Inilah kesempatan orang desa untuk mencicipi dan menikmati uang dari kota. Di kampung halaman, para pemudik membagikan angpao dan membelanjakan uangnya untuk sekadar buah tangan. Namun perlu dicatat, jika tidak mampu mengendalikan diri, mudik yang konsumtif juga berpotensi menghadirkan sisi gelap. Antara lain, menjadi ajang pamer kekayaan, penampilan, perhiasaan, kendaraan, dan properti-properti kemewahan lainnya.
Mudik, sebagaimana diilustrasikan di atas, hanyalah “mudik biologis” karena ritual tahunan itu berorientasi pada pemenuhan insting dan naluri kemanusiaan semata, seperti mengobati rasa kangen dan rindu pada sanak keluarga. Padahal esensi Idul Fitri yang sesungguhnya adalah untuk menjadikannya sebagai momentum “mudik spiritual”, yakni kembali ke kampung halaman rohani yang fitri dan suci. Ini tentunya sejalan dengan makna Idul Fitri yang hakiki. ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘aada, yang berarti kembali. Sedangkan fitri bermakna “fitrah atau asal kejadian yang masih suci dan murni”. Karenanya Idul Fitri itu artinya “kembali (mudik) ke asal kejadian (ruhaniah yang masih fitri dan suci)”. Pasalnya, manusia itu memang terlahir dengan fitrah yang suci. Inilah makna mudik yang sejati, yakni mudik spiritual bukan mudik biologis.
Ramadhan telah menempa kita untuk kembali menjiwai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang selama ini terkaburkan oleh kepentingan dan nafsu duniawi. Idealnya, pasca berakhirnya Ramadhan, umat Islam telah kembali ke fitrahnya, seperti saat terlahir ke dunia. Dengan berlalunya Ramadhan, prestasi ibadah dan amal saleh yang telah diukir di bulan suci tersebut setidaknya dipertahankan, lebih baik lagi jika ditingkatkan. Jangan sampai dengan berlalunya Ramadhan, berakhir pula ibadah dan amal saleh yang dikerjakan. Mereka yang hanya giat beribadah dan beramal saleh di bulan Ramadan, seolah-olah beranggapan bahwa Allah SWT hanya ada dan hidup di bulan Ramadan. Padahal Allah SWT itu ada, hidup, dan abadi selama-lamanya, karena Dia itu Hayyun Baqq (Dzat yang Maha Hidup lagi Kekal).
Mereka yang hanya rajin beribadah dan giat beramal saleh di bulan Ramadhan, pada hakikatnya tidak menyembah Allah SWT, namun menghamba pada Ramadhan. Mereka itulah yang disindir para ulama dengan sebutan ‘Ubbad Ramadan, para penghamba Ramadhan. Dr. Yusuf al-Qardhawi malah mempunyai istilah tersendiri, yakni Ramadhaniyyun yang berarti para pengkhianat Ramadhan. Mereka dikatakan sebagai pengkhianat, karena mengingkari komitmen spiritual untuk menjadi lebih baik pasca berakhirnya Ramadan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Hakikat Idul Fitri bukanlah mudik biologis untuk sekedar berkangen-kangenan, melepas rindu, atau menghamburkan uang. Terlebih lagi, untuk pamer baju baru, unjuk kekayaan, atau plesir ke tempat-tempat hiburan. Akan tetapi esensi mudik yang sejati adalah mudik spiritual dengan kembali kepada asal kejadian yang fitri dan suci. Dalam konteks ini patut kita renungkan sebuah syair Arab yang teramat menyentuh:

Bukanlahlah disebut berhari raya, orang yang hanya memakai baju baru, akan tetapi hari raya sesungguhnya adalah orang yang ketaatannya bertambah.

Bukanlahlah disebut berhari raya, orang yang memperindah baju dan kendaraan, akan tetapi hari raya sesungguhnya adalah orang yang dosanya telah terampuni.
Malang, 06 September 2009.

Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Arab dan peneliti aktif di Universitas Negeri Malang. Saat ini, ia tengah menempuh Program Doktor Tafsir-Hadits di PPS IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Bagikan informasi ini:

One Comment

  1. Your place is valueble for me. Thanks!…