Geliat Kepenulisan dan Peran Penerbit dalam Pengembangan Perguruan Tinggi

Kepenulisan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Referensi dari perguruan tinggi seringkali menjadi rujukan ilmu dalam pendidikan tingkat SD, SMP, SMA, bahkan juga di tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi juga menjadi tempat pengembangan dan penelitian yang berguna dan dapat disebarluaskan kepada masyarakat demi meningkatkan mutu pendidikan. Berbagai ide dan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan tersebut akan dapat disampaikan dengan lebih efektif melalui tulisan. Mengingat betapa vitalnya fungsi perguruan tinggi tersebut maka geliat kepenulisan dirasa sangat perlu digiatkan di perguruan tinggi, baik  dosen, pejabat, maupun mahasiswa semua harus menggiatkan budaya menulis demi tercapainya kemajuan bangsa yang diharapkan.
Fenomena tersebut tentunya juga berlaku di UM. Selama ini, UM juga  menyadari pentingnya aktivitas kepenulisan di lingkungan perguruan tinggi. Oleh karena itu berbagai usaha dan pelatihan telah dilakukan untuk meningkatkan mutu kepenulisan di UM. Usaha tersebut telah dilakukan antara lain melalui kompetisi kepenulisan, pelatihan, dan tugas-tugas di lingkungan kampus. Menulis seringkali dijadikan syarat, misalnya dalam pengajuan beasiswa.
Potensi tersebut juga tidak terlepas dari peran berbagai pihak antara lain penerbit dan percetakan. Tanpa keberadaan penerbit, tulisan-tulisan yang mungkin memiliki manfaat dan isi yang luar biasa penting akan sulit untuk disebarluaskan. Melalui penerbit pula, tulisan yang dihasilkan akan memperoleh pengakuan sehingga menghindarkan penulis dari plagiat atau pencurian ide. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak perguruan tinggi yang sejatinya adalah pusat pengembangan ilmu, berlomba-lomba mendirikan lembaga penerbitan sendiri, yaitu university press. UM dalam hal ini bisa dikatakan cukup berpotensi karena telah memiliki lembaga penerbitan sendiri  yaitu UM Press.
Dikatakan oleh Evi Effendi S.Pd., M.M, selaku direktur UM Press, potensi kepenulisan UM sebenarnya luar biasa. Pihak UM Press juga senantiasa ingin mewadahi potensi tersebut semaksimal mungkin. Bagaimanapun sebagai university press-nya UM, UM Press berharap mampu menopang citra perguruan tinggi, dalam hal ini UM. “Kami sangat berharap dapat mengembalikan roh UM Press sebagai ikon penerbitan UM dalam mercusuar perguruan tinggi,” ungkap Pak Evi. “Bagaimanapun university press, dalam hal ini UM Press, berperan sebagai penopang citra perguruan tinggi yang menaungi. Karenanya, kami akan senantiasa menampung dan memfasilitasi siapa pun yang ingin menerbitkan bukunya melalui UM Press dengan cara-cara yang bijak,” lanjut bapak yang juga mengajar di UIN Malang ini.
Menurut Pak Evi, potensi SDM dan peralatan yang dimiliki oleh UM Press sendiri juga cukup memadai. Dibandingkan beberapa perguruan tinggi di Malang, UM Press sudah bisa dikatakan cukup baik dari segi pengelolaan dan hasil. Berbekal berbagai peralatan dan karyawan sebanyak 45 orang, UM Press selalu berusaha agar dapat mendukung pendidikan di UM melalui buku-buku yang dihasilkan warga UM. “Siapa pun yang ingin menerbitkan hasil karyanya, baik bidang pendidikan maupun non-pendidikan, selama tidak menyangkut SARA, akan kami layani sebaik mungkin. Kami juga akan mengurus ISBN buku-buku yang kami terbitkan,” lanjutnya.

Pentingnya Penulisan dalam Pandangan Dosen UM
Sebagaimana telah disampaikan di atas, kepenulisan merupakan faktor pengembangan mutu yang cukup penting dalam perguruan tinggi, bahkan dalam kehidupan di luar perguruan tinggi. Dr. Suyono, M.Pd., salah seorang dosen UM mengatakan bahwa IPTEK dan Seni dapat berkembang melalui budaya tulis-menulis. Melalui tulisan yang dihasilkan dan dibaca oleh banyak orang, akan muncul berbagai tanggapan dan reaksi yang mampu memunculkan ide-ide baru, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan pun berkembang. Selain itu, kepenulisan juga penting sebagai sarana aktualisasi diri si penulis.
Dilihat dari potensi, menurut Pak Suyono, sebenarnya cukup banyak dosen yang mampu menghasilkan karya yang bermutu. Namun selama ini, potensi-petensi tersebut belum tersalurkan dengan baik. Padahal mutu tulisan mereka bisa dikatakan cukup bagus. Karena itu harus ada usaha-usaha untuk dapat menggiatkan iklim kepenulisan di wilayah perguruan tinggi, khususnya UM. Pak Suyono juga menambahkan bahwa aktivitas menulis bisa dipicu dengan dua faktor. Faktor pertama berasal dari dalam diri dosen, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa jika dosen tersebut telah memiliki jiwa penulis yang tinggi maka dimana pun dan apa pun kondisi lingkungan tidak akan menjadi hambatan. Faktor kedua bisa diciptakan by design—dalam hal ini, gairah menulis memang harus dipacu dari luar, mengingat potensi yang besar kadang tidak dibarengi dengan penyaluran potensi yang efektif. Faktor by design bisa dilakukan antara lain melalui upaya kelembagaan yang dimulai dari tingkat jurusan, fakultas, dan universitas. Cara yang ditempuh bisa melalui pelatihan, seminar, dan berbagai cara seperti yang telah disebutkan di atas.
Salah satu cara yang cukup efektif antara lain adalah melalui relasi dengan penerbit. “Dalam lembaga, seharusnya diagendakan untuk mengundang penerbit secara periodik demi melakukan forum pertemuan dosen dengan penerbit. Melalui forum tersebut, setidaknya ada link bagi para dosen yang ingin menulis. Dalam forum tersebut, setidaknya dosen dapat menyerahkan buku baru atau setidaknya draft naskah kepada penerbit. Penerbit juga diharapkan dapat menindaklanjuti karya-karya tersebut sehingga para dosen menjadi lebih bersemangat menulis. Dalam hal ini, penerbit yang juga berperan sebagai pihak yang memasarkan, memiliki peran yang sangat vital dalam menggugah iklim kepenulisan. Semakin erat hubungan dengan penerbit, kemungkinan bahwa potensi kepenulisan dapat disalurkan dengan baik akan semakin tinggi.
“Saya sangat yakin pasti banyak buku yang dihasilkan”, ungkap dosen jurusan Sastra Indonesia yang juga telah banyak menghasilkan  karya tulisan ini. “Bagaimanapun, seharusnya para dosen lebih terbuka lagi dalam hal kepenulisan. Hal ini penting karena kepenulisan merupakan titik pokok pengembangan IPTEK,” lanjut penulis yang juga aktif dalam pengelolaan dan penyuntingan beberapa jurnal ini.

Dukungan Universitas kepada Dosen yang Aktif Menulis
Semua kegiatan di kampus, termasuk aktivitas kepenulisan yang dilakukan oleh dosen tidak terlepas dari program-program yang telah dilaksanakan universitas selama ini. Universitas sangat mendukung dan memfasilitasi dosen yang aktif menulis buku maupun karya tulis lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh pembantu rektor 1 kampus perdamaian ini, upaya yang telah dilakukan universitas antara lain mendorong dosen yang sudah S3 untuk menjadi guru besar. “Selain imbauan, universitas juga memberikan insentif bagi dosen yang akan melakukan penelitian untuk mendapatkan gelar guru besar. Ini kan juga merupakan upaya universitas untuk mendorong dosen aktif menulis,” ungkap pria berkaca mata ini. Bukan itu saja, selama ini LP3 juga menawarkan bantuan untuk penulisan dan penerbitan buku. Fakultas-fakultas juga memiliki program-program tersendiri seperti pelatihan-pelatihan bagi dosen terkait dengan karya ilmiah dan IT. Program hibah dan kerjasama yang ada di fakultas juga memberikan kontribusi yang besar bagi penerbitan karya tulis dosen. Di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam misalnya, salah satu hasil kerjasama yang dilakukan dengan JICA adalah diterbitkannya buku-buku yang ditulis oleh dosen UM sendiri. Namun universitas juga memaklumi kalau masih ada dosen yang belum tergerak untuk menulis buku karena tugas-tugas yang dilakukan dosen juga banyak. Seorang dosen harus mengajar, melakukan penelitian, membuat karya ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Tentunya kegiatan-kegiatan tersebut menyita waktu yang cukup banyak. Selain itu, minat atau bakat menulis tidak semua orang memilikinya dan tentunya universitas tidak dapat memaksakan kehendak kepada dosen untuk menulis.
Namun, selama ini banyak juga dosen yang sudah menerbitkan buku. Buku karya mereka sudah menjadi  referensi bagi sebagian besar sekolah-sekolah di semua jenjang pendidikan baik SD, SMP, maupun SMA. Untuk memfasilitasi penerbitan buku, sebenarnya UM sudah memiliki UM Press sebagai unit kegiatan yang bisa diandalkan. Namun sayangnya, fasilitas ini belum dimanfaatkan secara optimal.   Para dosen kebanyakan sudah memiliki partner lembaga percetakan untuk menerbitkan bukunya. UM Press justru banyak mencetak buku karangan guru-guru di wilayah Jawa Timur. Untuk selanjutnya mungkin dapat dibangun kerjasama antara dosen dan UM Press sehingga terbentuk sinergisme yang saling menguntungkan dan sebagai wujud kebanggaan kepada almamater.

Ris/Dew

Bagikan informasi ini:

One Comment

  1. Super story indeed. My friend have been awaiting just for this content biggest failure in recent history