Isotonik, Amankah?

Oleh: Entin Werdyaningsih

Minuman isotonik? Apakah itu? Isotonik terdiri dari dua kata, yaitu Iso adalah sama dan tonik artinya tekanan. Tekanan yang sama artinya cairan di dalam minuman isotonik harus mempunyai tekanan yang sama dengan yang terdapat dalam sel tubuh dan darah. Dengan demikian, larutan itu memiliki tekanan yang sama dengan dinding pembuluh darah. Minuman ini biasanya kerap dihubungkan sebagai minuman penambah stamina atau minuman pengganti ion tubuh. Minuman ini biasanya dikonsumsi setelah lelah berolahraga. Setelah melakukan aktivitas yang begitu menguras tenaga pasti badan terasa letih dan ingin segera minum, untuk menghilangkan rasa haus. Hal ini dikarenakan pada saat berolahraga, atau melakukan aktivitas yang berat, kita kehilangan banyak cairan yang keluar melalui keringat. Cairan yang keluar tersebut berupa zat-zat elektrolit seperti natrium dan kalium, dan cairan tersebut harus segera digantikan. Kalau tidak dapat menyebabkan gangguan, terutama pada jantung. Pada keadaan ini minuman isotonik memang lebih baik daripada air biasa, karena minuman isotonik dapat lebih cepat menggantikan zat-zat elektrolit yang hilang.
Cairan tubuh berperan penting dalam metabolisme, diantaranya mengangkut dan menyerap zat-zat gizi di dalam darah, membantu proses pencernaan dan menjaga suhu tubuh. Mengingat fungsinya, jangan heran bila tubuh manusia membutuhkan cairan setiap hari untuk mengganti cairan yang keluar melalui pernapasan, keringat, dan urine. Jika cairan yang keluar tidak segera digantikan, lama kelamaan tubuh dapat mengalami dehidrasi. Gejala yang muncul antara lain badan lemas, mata berkunang-kunang hingga konsentrasi menurun. Aktivitas fisik yang terlampau berat juga bisa menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan yang ditandai dengan gejala mual, lelah, nyeri kepala, muntah, bahkan kejang otot. Minuman isotonik dipercaya bukan hanya mampu menggantikan cairan tubuh. Minuman ini juga konon dapat menyembuhkan demam berdarah dan tifus. Apa benar begitu? Sebenarnya, minuman ini hanya membantu mempercepat proses pemulihan penderita. Bila si pasien rajin mengonsumsi minuman isotonik, maka cairan tubuhnya yang hilang akan tergantikan secara efektif. Minuman ini juga baik dikonsumsi saat mengalami dehidrasi atau diare. Boleh dibilang fungsinya serupa dengan oralit. Tak cuma itu. Minuman isotonik juga dinilai mujarab dalam proses penyembuhan sariawan. Meski begitu, bila dikonsumsi dalam kondisi sedang tidak melakukan aktivitas fisik berat yang sampai mengeluarkan banyak keringat, kandungan ion di dalam minuman ini tak memberikan efek positif. Pasalnya dalam keadaan normal atau segar bugar, tubuh tak membutuhkan zat-zat elektrolit tersebut. Akhirnya, kandungan mineral minuman jenis ini tak termanfaatkan. Sekadar ilustrasi, dalam bidang farmasi, cairan isotonik umumnya digunakan untuk membuat larutan infus atau obat suntik. Larutan isotonik dapat dibuat dengan menambahkan garam sampai kepekatan larutan mencapai sekitar 0,9%. Disebut juga larutan garam fisiologis. Nah, larutan ini mengandung elektrolit yang diperlukan tubuh sebagai pengganti elektrolit yang hilang. Penggunaannya dengan cara disuntikkan ke pembuluh darah, bukan diminum agar larutan cepat diserap tubuh. Disebut isotonik karena keseimbangan kepekatan larutan yang masuk sama dengan kepekatan cairan darah. Mengapa harus seperti itu? Karena dia lebih encer, sel-sel darah malah bakal membengkak. Sebaliknya, bila kepekatan larutan yang masuk lebih tinggi, sel-sel darah akan mengerut.
Belakangan ini minuman isotonik semakin gencar menyerbu pasaran.  Namun, benarkah minuman isotonik memiliki khasiat sehebat yang digembar gemborkan iklannya? Bolehkah minuman ini dikonsumsi sembarang orang? Hal ini tentu menjadi perhatian publik. Apalagi masyarakat yang notabenenya bekerja seharian dan menghabiskan tenaga dan stamina. Masyarakat percaya dan bahkan terhipnotis akan hal itu, minuman itu dapat menggantikan stamina dan tenaga mereka yang terkuras seharian akibat beraktivitas. Di iklan, seolah-olah isotonik bisa diminum siapa saja dan dalam kondisi apa saja. Akan tetapi sebenarnya minuman isotonik akan lebih baik dikonsumsi jikalau dalam waktu dan porsi yang tepat. Meski isotonik tidak boleh dikonsumsi sembarangan, beberapa iklan produk isotonik justru memakai model orang biasa (bukan atlet) sebagai konsumen isotonik. Minuman isotonik itu juga ditenggak pada kondisi biasa saja, seperti terjebak macet yang tidak selalu identik dengan keluarnnya ion-ion tubuh secara berlebihan. Bahkan disebutkan, tanpa menyebut kondisinya, isotonik lebih baik dari air biasa. Dibalik kesan kesegarannya, minuman isotonik dapat berbahaya apabila dikonsumsi sembarangan.
Apa sajakah komposisi dalam minuman isotonik? Mengapa isotonik tidak dapat dikonsumsi sembarangan? Isotonik tidak bisa dikonsumsi sembarangan karena minuman ini mengandung garam natrium (NaCl). Kandungan dalam minuman isotonik adalah elektrolit (Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-), sedangkan kandungan gula cukup rendah hanya 6%-7% per 100 mL-nya (rata-rata= kurang lebih 26 kkal/ 100 mL, kebutuhan orang dewasa = kurang lebih 2.100 kkal/ hari). Gula dalam hal ini dibutuhkan untuk membantu mempercepat penyerapan elektrolit dan sudah tentu kandungan yang terbanyak adalah air. Komposisi isotonik 98 persen berupa air. Dua persen lainnya berupa ion Natrium Klorida, Kalium Fosfat, Magnesium Sitrat, dan Kalsium Laktat. Fungsi ion-ion ini dapat mengganti elektrolit tubuh yang hilang. Komposisi yang terkandung di dalam minuman isotonik ini sebenarnya sama dengan yang terdapat di dalam cairan infus. Cairan infus yang digunakan dalam dunia medis sebagai asupan bagi pasien yang mengalami dehidrasi atau kesulitan mengonsumsi makanan secara oral (melalui mulut). Ide pertamanya munculnya minuman ini konon juga berasal dari para dokter yang sering melakukan operasi. Pada saat mereka susah mengambil makanan dan minuman untuk konsumsinya, para dokter dan paramedis ini sering menggunakan cairan infus sebagai minumannya. Dengan minum cairan tersebut, stamina dan kebugarannya bisa pulih kembali. Lalu mengapa tidak diproduksi saja cairan infus untuk dikonsumsi secara luas. Nah, dari situlah akhirnya muncul ide untuk menghasilkan minuman yang komposisinya sama dengan cairan infus. Namun, karena cairan infus itu tidak enak, akhirnya minuman isotonik tersebut dimodifikasi dengan berbagai bahan perasa yang membuatnya  enak dan disukai konsumen. Secara umum minuman isotonik hanya berisi air, gula, garam dan beberapa mineral seperti kalium dan sodium.
Hati-hati terhadap minuman isotonik. Tidak menutup kemungkinan minuman tersebut mengandung bahan pengawet Penelitian Kombet yang disupervisi oleh Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan (LP3ES) Jakarta dilakukan di tiga laboratorium. Yakni di Sucofindo Jakarta, M-Brio Bogor, dan Bio-Formaka Bogor. Ada dua zat pengawet yang dicari dalam minuman kemasan, yakni natrium benzoate dan kalium sorbet. Riset tersebut dilakukan 17 Oktober hingga 3 November 2006. Pemakaian bahan pengawet tersebut dikarenakan perusahaan ingin mengambil untung yaitu dengan cara menambahkan bahan pengawet. Kebanyakan perusahaan enggan mencantumkan kandungan pengawet dalam kemasan yang terdapat dalam minuman isotonik. Padahal zat pengawet yang ada dalam minuman kemasan itu sangat berbahaya. Pengawet merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan atau pembusukan minuman atau makanan. Dengan penambahan pengawet tersebut, produk minuman diharapkan terpelihara kesegarannya. Akan tetapi penggunaannya tentu harus mengikuti takaran yang dibenarkan. Lantaran itu masyarakat perlu memahami label yang tertera pada kemasan. Sayangnya, pada label kemasan produk banyak tidak dicantuman atau dijelaskan tentang komposisi bahan pengawet yang digunakan. Kalaupun dicantumkan, penjelasan biasanya ditulis dengan huruf yang sangat kecil sehingga sulit dibaca atau menggunakan bahasa asing sehingga tak mudah dipahami konsumen. Ada tiga kelompok produk yang beredar di pasaran. Pertama, produk yang tidak menggunakan bahan pengawet. Kedua, produk yang menggunakan bahan pengawet dan mencantumkannya pada label. Ketiga, menggunakan bahan pengawet tapi tak mencantumkan pada kemasan. Padahal pencantuman komposisi kandungan bahan pada kemasan produk amatlah penting untuk diketahui. Dampak dari bahan pengawet tentu akan berakibat fatal bagi tubuh. Salah satunya bisa menyebabkan penyakit sistemik lupus ery-the-matosus (SLE), penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Dampak lain dari bahan pengawet minuman dalam kemasan adalah kanker. Dalam sebuah literatur disebutkan bahwa bila dikonsumsi secara berlebihan, dapat timbul efek samping berupa edema (bengkak) yang dapat terjadi karena retensi atau tertahannya cairan di dalam tubuh. Bisa juga naiknya tekanan darah sebagai akibat bertambahnya volume plasma lantaran pengikatan air oleh natrium.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.

Bagikan informasi ini: