Mencari Keadilan di Aceh

Judul Buku    : Bidadari Hitam
Penulis        : T.I Thamrin
Penerbit        : Imparsial dan AJMI, Jakarta
Tahun Terbit    : Cetakan I, 2008
Tebal        : vi + 252 halaman, 14×21 cm
Peresensi        : Sri Rahayu

Tema tentang HAM (Hak Asasi Manusia) untuk sebuah judul novel sa3tra memang sedang marak-maraknya. Mulai dari cerita tentang konflik negara-negara di timur tengah sampai negara barat dan negara adidaya. Tentang penindasan, kekajaman manusia yang berkedok hukum dan aturan internasional. Novel yang mengangkat latar belakang konflik ini sering kali menjadi pro-kontra diantara masyarakat umum. Mengenai relevansi dan realita dari apa yang telah ditulis oleh pengarang. Kebanyakan mereka yang berlatar belakang sebagai wartawan yang sering menelurkan karya sastra yang mengacu pada realita konflik sosial-politik.
Kebebasan pers pasca Orde Baru meniupkan udara segar bagi sastrawan untuk lebih cerdik serta kritis dalam berkarya. Novel karya T.I Thamrin ini berkisah tentang keluarga di Lampoh Santan,Aceh. Keluarga tersebut terdiri dari Ahya Ulumuddin, Mak Santan, Inong dan tetanggga mereka Guru Najib dan anak gadisnya Fitriah. Berlatar belakang dari tragedi Aceh pada masa DOM (Daerah Operasi Militer) , antara 1989 dan 1998. Pada saat itu pasukan militer NKRI di kirim ke Aceh dalam rangka ’pengamanan dan pengembalian stabilitas’ Aceh dari gerakan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Menceritakan Ahya-pemuda berani, cerdas dan keras kepala- yang tinggal bersama neneknya-Mak Santan- dengan adik angkatnya Inong. Seperti halnya cerita roman lainnya, terjadi kisah cinta segitiga antara Ahya, Fitriah dan Inong. Justru kedua gadis tersebut telah dianggap sebagai adik sendiri oleh Ahya. Adalah Teungku Murad seorang mantan geutjhik atau kepala desa yang kaya dan beristri banyak menganggap Ahya sebagai saingannya dalam mendapatkan Fitriah. Teungku Murad sendiri mempunyai pengaruh dikalangan prajurit TNI dan pejuang GAM, karena kekayaannya. Konflik antara kedua orang tersebut berkelanjutan hingga diseretnya Ahya ke pos pengamanan atas indikasi sebagai mata-mata GAM. Fitriah sendiri tertangkap oleh prajurit, namun karena kecantikannya ia diperistri oleh Lettu Anton  Singodiejo. Puncak konflik dari novel ini ketika semua tokoh telah dewasa. Pertengtangan ideologi Ahya yang memandang kedatangan pasukan NKRI ke Aceh sebagai biang keributan baru di Aceh. Pencarian jati diri oleh Inong sebagai gadis korban DOM. Perjuangan nasib Fitriah yang terjebak dalam pernikahan sehingga direndahkan martabatnya sebagai wanita Aceh terhormat.
Selain mengangkat tentang konflik sosial-politik yang terjadi di Aceh. Novel Bidadari Hitam juga mengulas kritik gender tentang kesetaraan pendidikan oleh kaum perempuan. Perempuan di Aceh masih dibatasi kebebasan untuk berpendidikan tinggi. Novel ini juga memberikan apresiasi terhadap martabat masyarakat Aceh yang memiliki keberanian individu dalam menghadapi pertikaian. Serta tentang tradisi Aceh berbasis Islam yang masih berlaku di masyarakat. Bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan dan bagaimana suatu hukum diterapkan berdasarkan asas Islam.
Hal yang menarik, Bidadari Hitam ini diterbitkan dan dicetak oleh Imparsial        ( The Indonesian Human Rights Monitor) dan AJMI (Aceh Judicial Monitoring Institute) telah diketahui bahwa kedua lembaga tersebut berbasiskan perjuangan HAM di Indonesia. Sehingga novel ini memiliki kesan tidak semata karena komersil, melainkan karena apresiasif masyarakat terkait dengan kebijakan dan isu HAM di Indonesia. Kritik sosial-politik kebijakan pemerintah terhadap rakyat Aceh banyak dimuat dalam novel ini. Novel Bidadari Hitam ini lebih dimaksudkan untuk menumbuhkan empati, keberpihakan, dan mengajak para pembaca untuk lebih peka dalam memaknai setiap peristiwa. Oleh karena itu, buku ini selayaknya menjadi bacaan pengingat bagi generasi muda tentang betapa getirnya hidup di negeri yang tak pernah reda didera konflik agar mereka lebih bijak dalam memaknai realitas. Harapan penulis, agar generasi muda lebih jeli dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi di Indonesia.

?Penulis adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: