Fikih Bencana

Oleh: Yusuf Hanafi

Di paroh kedua tahun 2009 ini, ketika belum hilang shock dan trauma kita dengan gempa bumi yang mengguncang wilayah Tasikmalaya Jawa Barat dan sekitarnya, akhir September lalu, kisah pilu serupa kembali terulang di Tanah Minang Sumatera Barat. Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) telah memporak-porandakan daerah Padang Pariaman dan sekitarnya.
Rangkaian musibah yang dikemukakan di atas nyaris tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita terus dibuat prihatin dengan bencana alam yang susul-menyusul, mulai dari banjir yang diakibatkan oleh hujan deras dan gelombang air laut pasang, hingga musibah gempa dan tanah longsor di berbagai wilayah tanah air.  Indonesia sedang bermuram durja, itulah ungkapan yang pas untuk mengilustrasikan wajah nasional bangsa ini.
Merespon situasi yang kalut dan paruh duka tersebut, muncul beragam spekulasi yang berusaha menjelaskannya. Sebagian orang, dengan tanpa ragu, menyatakan bahwa rentetan musibah yang menimpa bangsa Indonesia maupun bangsa lain di dunia belakangan ini diakibatkan oleh alam yang telah bosan dan marah atas ulah manusia. Dengan lantang, mereka memvonis, serangkaian musibah itu sebagai azab Ilahi.
Konklusi di atas jelas sangat gegabah, karena mengabaikan sejumlah variabel lain yang semestinya juga dipertimbangkan. Selain itu, pengaitan bencana secara serampangan kepada Allah SWT merupakan sebuah penghinaan terhadap-Nya. Pasalnya, dalam Q.S. al-Maidah: 2, Allah SWT berfirman, “Nikmat apa pun yang kamu peroleh itu berasal dari Allah. Bencana apa saja yang menimpamu, maka itu  dari (kesalahan) dirimu sendiri.”
Ada pula yang menghubung-hubungkan terjadinya bencana di Indonesia dengan eskalasi kemaksiatan yang menjangkiti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan elit sampai alit, baik yang berskala personal maupun komunal. Menurut hemat penulis, pendapat ini pun tidak terlalu tepat. Sebab seandainya benar, seharusnya bukan Indonesia yang lebih dahulu didera bencana, melainkan Las Vegas (yang dikenal sebagai kota judi), Hollywood (sebagai pusat industri film), atau Israel (yang telah lebih dari setengah abad merampas bumi Palestina).
Kita harus bijak dalam memahami peristiwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, termasuk dalam menyikapi rentetan bencana akhir-akhir ini. Di sinilah letak pentingnya “fikih bencana” (kearifan dalam memahami bencana). Pada dasarnya, bencana dapat dikelompokkan menjadi dua katagori. Pertama, murni kehendak Allah SWT, seperti pergeseran lempeng pembatas antar benua, sehingga mengakibatkan gempa bumi dan tsunami. Ciri dari bencana jenis ini, kejadiannya terjadi dalam skala besar dan berada di luar jangkauan nalar keilmuan manusia. Kedua, perpaduan (kolaborasi) antara kehendak Allah dan campur tangan manusia, seperti kebakaran, kemiskinan, dan semisalnya.
Bencana apa pun yang menimpa kita, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari tujuh perspektif berikut. Pertama, sebagai “ujian” bila menimpa orang beriman dan bertakwa. Karena pada umumnya, seorang Muslim akan diuji oleh Allah SWT atas komitmen keimanan dan ketakwaannya untuk melihat sejauhmana ketabahan dan kesabarannya. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami beriman, sedang mereka tidak diuji?! Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka” (Q.S. al-‘Ankabut: 2-3). Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman, “Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu, sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan Kami akan uji orang-orang yang terpilih di antaramu” (Q.S. Muhammad: 31).
Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan kepadanya. Dalam al-Qur’an, banyak kita temukan kisah ujian yang menimpa para nabi. Nabi Nuh, misalnya, selama 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan sedikit pengikut yang beriman, sementara kebanyakan umatnya tetap kufur bahkan memperoloknya (Q.S. al-Ankabut: 14). Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrudz (Q.S. al-Anbiya’: 57-70). Nabi Ayyub diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya, serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (Q.S. Shad: 41). Dan, Rasulullah SAW diejek dan disakiti orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh. Terkait dengan ujian keimanan ini, Rasulullah pernah ditanya oleh Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya. Beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi” (H.R. al-Hakim dan al-Thabrani).
Ketiga, sebagai bukti cinta Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya dengan musibah. Siapa yang bersabar, maka dia akan diganjar pahala (atas kesabarannya itu). Sedangkan bagi yang berkeluh-kesah, ia pun hanya memperoleh keluh-kesahnya itu” (HR. Ahmad dan al-Thabrani).
Keempat, sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang atau segolongan kaum. Kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Allah kepada orang yang bersabar dalam menjalani musibah. “Umatku adalah umat yang dirahmati, di mana tidak ada atas mereka siksaan di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa, dan pembunuhan” (H.R. Abu Dawud). Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim yang menderita kelelahan, penyakit, dan kesusahan hati, bahkan gangguan berupa duri, melainkan semua kejadian itu menjadi penebus dosanya” (H.R. al-Bukhari).
Kelima, sebagai teguran atau peringatan. “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka disegerakan baginya hukuman (di dunia ini) atas dosanya” (H.R. al-Hakim).
Keenam, sebagai siksa Allah di dunia. Dalam Al-Quran,  Allah menjelaskan bahwa ketika kemaksiatan dan kejahatan merajalela, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar maka siksa Allah akan menimpa mereka secara keseluruhan. “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” (Q.S. al-Anfal: 25).
Ketujuh, manfaat dari adanya bencana adalah menjadikan yang bersangkutan yakin dan percaya perihal adanya pertolongan Allah SWT kepada dirinya. Sebab Allah pasti akan menolong hambanya, meski hambanya seringkali menyangsikan hal itu.  Dalam Q.S. al-Baqarah: 214, Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengira akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu ujian sebagaimana ujian yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang dengan bermacam-macam cobaan. Sehingga Rasul dan orang-orang yang dekat dengannya sama berkata: Kapankah pertolongan Allah itu tiba? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu teramat dekat.”
Akhirnya, semoga Allah memasukkan kita dalam golongan hamba-hambanya yang senantiasa tabah dan sabar dalam menghadapi segala musibah, serta menganugerahi kita “fikih bencana” yakni, kearifan dalam memahami dan menyikapinya. Amin.

?Penulis   adalah dosen Jurusan Sastra Arab dan peneliti aktif di Universitas Negeri Malang. Saat ini, ia tengah menempuh Program Doktor Tafsir-Hadits di PPS IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Bagikan informasi ini: