Hitam Legam

Oleh: Royyan J.

Sampai di villa, aku merebahkan diri ke atas sofa. Punggungku terasa letih setelah seharian berdiri di dalam kereta. Hadi duduk di sampingku. Tampaknya ia juga lelah. Mas Bebe, Zamnur, dan Jay asyik nonton sepak bola di layar teve. Tampak kepulan asap putih nyembul dari mulut Jay. Aku penasaran. Mengapa mulutnya mengeluarkan asap putih? Aku terus mengamatinya. Lalu Jay mengangkat tangannya dan menghisap rokok yang dipegangnya. Seketika itu juga aku kaget lantaran melihat wajahnya berubah menjadi hitam. Hitam legam.
“Had, Jay merokok?” tanyaku kepada Hadi setengah berbisik.
“Ya. Kamu baru tahu?” kata Hadi sekenanya.
“Kamu sendiri?” tanyaku lagi.
“Ah, aku tidak berani.”
“Kenapa?”
“Orang tuaku melarang.”
“Seandainya orang tuamu mengizinkan?”
“Aku tetap tidak akan merokok.”
“Apa Zamnur juga merokok?”
“Tidak mungkin. Atlet sepertinya tidak akan berani merokok. Bisa-bisa jantungnya lemah.”
Aku heran. Setiap aku melihat seorang pelajar atau pemuda merokok, wajahnya berubah drastis menjadi hitam legam. Aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Bapakku adalah seorang petani tembakau. Dalam sehari, bapak bisa menghabiskan belasan batang rokok, tetapi mengapa wajahnya tidak berubah menjadi hitam legam? Sekali lagi, aku tidak mengerti.
Sejak dulu, aku memang tidak suka dengan benda berbentuk tabung memanjang itu. Aku benci rokok. Berkali-kali aku ikut penyuluhan bahaya narkotika dan rokok untuk meyakinkanku apakah rokok memang benar-benar harus aku benci atau tidak. Lagi-lagi, kesimpualan yang aku peroleh tetap sama: Rokok harus kuhindari. Mengapa orang-orang suka merokok? Apa enaknya menghisap asap putih itu? Kepalaku saja bisa pusing-pusing bila berada di dekat orang yang sedang merokok. Aku alergi asap rokok. Maka, di kampus, aku bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa anti narkotika dan rokok.
Yang tak habis kupikir, mengapa setiap kali aku melihat pemuda atau pelajar yang merokok, wajah mereka berubah menjadi hitam legam? Wajah hitam legam mereka tidak seperti biasanya. Bukan hitam seperti orang Negro. Tapi, hitam legam wajah mereka mengerikan. Seandainya mereka berjalan di tempat gelap, mungkin aku akan melihat mereka tak berkepala, karena wajah mereka sepekat gulita.
Karena itulah, di dunia ini aku melihat dua wajah. Wajah hitam legam dan tidak. Bila aku melihat seorang pemuda atau pelajar merokok, wajah mereka akan berubah menjadi hitam legam dan akan selamanya hitam legam di mataku.
Terkadang, aku merasa kalau penglihatanku tidak normal. Pernah aku coba untuk memeriksa kedua mataku ke optik. Barangkali ada sesuatu yang tidak beres. Dan hasil pemeriksaan menyatakan kalau kedua mataku baik-baik saja. Tidak ada yang janggal. Tapi mengapa mataku melihat wajah mereka hitam legam? Lalu aku sadar kalau wajah hitam legam yang aku lihat itu hanya terjadi pada para pelajar dan pemuda yang merokok.
Suatu hari, aku berjalan di perempatan. Di sana, banyak kujumpai wajah hitam legam. Saat melintasi warung kopi, aku melihat Pak Toli yang pekerjaannya hanya nongkrong di warung kopi selama seharian itu berwajah hitam legam. Berbeda dengan para petani yang saat itu juga nongkrong di warung kopi. Mereka tidak berwajah hitam legam, meskipun mereka juga merokok. Andai saja orang lain memiliki penglihatan aneh sepertiku ini, mungkin mereka akan lari terbirit-birit, karena wajah hitam legam itu menyeramkan. Hitam legam tak ubahnya jelaga pekat.
Meskipun Jay telah berwajah hitam legam, aku tetap baik padanya. Bagaimana pun juga dia adalah sahabatku. Aku tidak dapat memutuskan tali persahabatan dengan teman-temanku lantaran wajah mereka berubah menjadi hitam legam. Dulu, sahabatku, Rizki yang berkulit putih itu tiba-tiba wajahnya berubah menjadi hitam legam, sehingga kelihatan seperti memakai topeng ketika aku menemukannya sedang merokok. Hatiku mengiris. Mana mungkin bisa wajah tampan putih bersih itu berubah menjadi hitam legam? Aku sangat menyesali kejadian itu. Namun, aku senang saat wajahnya kembali seperti semula. Wajah tampan yang telah lama kurindukan. Dia berhenti merokok.
Begitu pula dengan Jay. Aku berharap wajahnya kembali lagi seperti semula. Aku tak sanggup melihat wajah hitam legam sahabatku ini. Sungguh tak mampu. Aku heran, mengapa sekarang banyak gadis yang mau menjadi kekasih laki-laki berwajah hitam legam? Apakah mereka tidak takut? Atau mereka tidak dapat melihat wajah hitam legam kekasihnya? Aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, aku merasa ada yang tidak beres dengan kedua mataku ini dan keganjilan ini tidak dapat dideteksi oleh teknologi optik mana pun.
Tuhan, mengapa aku jadi seperti ini? Aku tak sanggup jika mataku terus-menerus seperti ini. Aku tak sanggup melihat sahabatku berwajah hitam legam. Apakah ini hanya perasaanku saja? Aku belum percaya, apakah memang benar kalau rokoklah yang menjadi penyebab wajah mereka menjadi hitam legam? Kalau memang benar, berarti selama ini kebencianku pada rokok memang cukup beralasan. Tapi aku masih ragu kalau sebatang rokok dapat menyebabkan wajah seseorang berubah menjadi hitam legam. Sinting! Kepalaku benar-benar sudah sinting!
Sore itu, aku melihat puntung rokok yang masih terbakar di asbak. Aku ambil puntung rokok itu. Aku amati betul benda itu. Apakah benar kalau benda sekecil itu bisa membuat wajah Jay berubah menjadi hitam legam? Tidak mungkin! Selama ini mataku sudah tertipu. Aku tidak yakin terhadap apa yang aku lihat. Aku tidak percaya kalau benda ini bisa menyebabkan wajah orang menjadi hitam legam. Lalu, aku buru-buru menghisap puntung kecil yang masih terbakar itu dalam-dalam. Akan aku buktikan kalau apa yang aku lihat selama ini salah.
Saat aku bersiap-siap bermotor bersama teman-teman, sontak mereka semua kaget dan menuju ke arahku, karena aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku terperanjat melihat bayangan wajahku di kaca spion.[]

Malang, 10 Maret 2009

?Penulis adalah mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2008

Bagikan informasi ini: