SENYUMAN ABABIL

Oleh: Rochmawati

anak-autis-2

“ Brack” tumpukkan bolu  gulamerah tumpah dari kotak kecil berpita pink itu, tangan kecil nan mungil mengaduk-aduk isi kotak yang berlepot gula-gula halus. Mata beningnya memandang isi kotak itu tanpa ekspresi, mulutnya sibuk mencercau entah apa yang diucapkannya.
“Ababil, ayo kesini” ucap suara datar, sesosok tubuh tinggi dan gemuk menghampiri gadis kecil itu. Bu Veronica, wanita tersebut biasa dipanggil ia adalah salah satu penjaga anak yang ada di sanggar penitipan anak, dengan bergegas mengumpulkan butir-butir bolu gula merah yang berserakaan di lantai marmer itu. Sorot matanya tajam memandang gadis kecil yang dipanggil Ababil itu, sementara tangannya sibuk memasukan butir-butir bolu gula merah kedalam kotaknya.
“Kamu memang bandel, tidak bisa dibilangi ya?” ucap wanita itu dengan ketusnya sementara gadis kecil yang dipanggil Ababil masih sibuk mencercau dan saat tangannya ditarik dengan paksa pandangan matanya tak lepas dari kotak yang kini tergeletak di meja.
***
Entah ini malam yang keberapa aku harus menunggu istriku pulang dari kantor. Kulihat Ababil anak semata wayangku sedang tertidur pulas diranjangnya, sementara tangan mungilnya bergayut ada ujung rambut ikalnya. Kutatap lekat-lekat putri kecilku ini, begitu cantik terasa begitu tenang dalam buaian tidurnya. Kuhembuskan nafas dalam-dalam terasa bongkah beban dihati terburai saat kupandangi wajah putri kecilku yang tenang. Sejak dokter memvonis autis pada putriku serasa kehidupan keluarga yang sudah kuarungi selama 10 tahun dengan istriku mulai meradang. Bayi yang telah lama kami idam-idamkan ternyata positif menderita autis dan hal ini benar-benr membuat istriku shock, bahkan sempat beberapa bulan petama sejak vonis dokter istriku enggan merawat putri kecil kami, namun toh pada akhirnya naluri seorang ibu terhadap anaknya bisa menerima itu semua. Kesibukan kami di kantor benar-benar sangat menyita waktu kami sehingga Ababil harus kami titipkan di sanggar penitipan anak.
“Bruuum…” terdengar deru mobil memasuki halaman rumah kami, kupandang jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku terdiam menyambut kepulangan istriku.
“Maaf Pa…tadi ada meeting di kantor” ucap istriku saat memasuki rumah
“Ababil pasti sudah tidur, papa tadi jemput jam berapa?” tanya istriku kemudian
“Seperti biasa ma, pulang kerja papa langsung jemput putri kita” ucapku dongkol, entah kenapa akhir-akhir ini istriku sering pulang telat alasan rapatlah, meeting, atau ada relasi baru. Sejujurnya aku tidak menuntut banyak tapi paling tidak dia ada waktu untuk Ababil, putrinya.
“Ma….Ababil merindukan mama,” ucapku akhirnya
“Iya Pa…tapi akhir-akhir ini mama sibuk banget di kantor, lagi pula di Sanggar dia kan banyak teman. Tenang saja Pa, yakinlah Ababil pasti akan baik-baik saja, ”ucap Istriku kemudian sambil masuk kamar. Aku hanya mampu terdiam.
***
“Ababil, jangan kesitu nak, di sini main sama Bu Vella,” ucap suara lembut seraya menghampiri Ababil yang sibuk mengamati kincir angin yang terbuat dari kertas. Seulas senyum menghiasi wajah wanita muda itu, Bu Vella yang merupakan salah satu penjaga Sanggar.
“Ababil suka kincir?” tanya Bu Vella yang tidak disahuti oleh Ababil, ia sibuk menatap benda itu, benda aneh yang selalu berputar tiap ada angin. Mata beningnya mengerjap pelan, tangannya sibuk memilin rambut ikalnya. Pikirannya mengembara dalam dunia kristalnya, dunia yang tak dapat dijelaskan oleh ucapannya, dunia yang sukar dipahami makhluk di sekitanya, tidak papanya, mama, bu Veronica, atau juga bu vella. Sebuah dunia yang hanya dia yang mampu memahaminya. Dunia Kristal miliknya.
***
Satu tangan mungil itu menarik rambut ikalnya dengan kuat, sementara tangan yang lain mengepal dan memukul-mukulkannya di atas ranjang, matanya liar, dengan suara yang mencercau tak jelas. Ada kebingungan dalam tingkahnya. Ada gurat luka disudut hatinya.
Sementara suara-suara keras terlontar dari kamar mama dan papanya.
“Cukup Ma….kita tidak bisa terus seperti ini,” suaraku keras
“Mama tahu Pa, mengapa masalah ini selalu kita ributkan,” teriak istriku keras
“ Ababil perlu kita ma, bukan penjaga-penjaga sanggar yang harus menemaninya tetapi itu kewajiban kita sebagai orang tuanya,” ucapku lantang
“Tapi Papa tahu kan pekerjaan mama banyak, nanti kalau ada waktu kan mama juga akan temani Ababil” ucap istriku mulai lembut
“Ma…untuk apa harta yang banyak sementara kita tidak mampu membuat putri kita satu-satunya bahagia? Untuk apa karier yang tinggi sementara kita melupakan kewajiban kita sebagai orang tua, Ababil tidak perlu harta yang banyak dan berlimpah, Ababil hanya perlu cinta Ma. Cinta dari kita sebagai rang tuanya,” ungkapku
“Tadi dokter dan pihak Sanggar menjelaskan bahwa beberapa minggu ini Ababil apatis erhadap hal apa pun. Bahkan tadi siang sesuap nasi pun ia tidak mau. Apa mama paham?” lanjutku kemudian
“Apa papa juga mampu memahaminya? Memahami dunianya?” tanya istriku menohok jantungku. Terksiap sejenak menelaah ucapan istriku. Yah…kami terlalu sibuk dengan rutinitas kami bekerja sehingga melupakan hal terpenting yakni pemahaman. Selama ini aku juga berfikir bahwa bisa meluangkan waktu untuk putriku adalah sebuah prestasi namun ternyata aku melupakan satu hal yang paling mendasar yaitu, sampai detik ini aku belum mampu memahami Ababil, putriku. Ketenangannya yang kulihat alam tidurnya mungkin hanya tampak terlihat tenang di mataku namun apakah aku tahu bahwa didalam hatinya dia bahagia? Apakah aku sadar.
Tanpa terasa kulangkahkan kakiku memasuki kamarnya. Kulihat putri kecilku duduk meringkuk di sudut kamarnya. “Asagfirullah…” ucapku seraya mendekatinya, mata beningnya sayu sisa-sisa air mata nampak masih menggenang di pelupuk matanya, sementara rambutnya kusut tidak karuan. Kurengkuh tubuh mungil itu dalam pelukanku, berjuta sesal membuncah dan pecah dalam tangisku, maafkan papa Ababil…maafkan papa” bisik hatiku.
***
Beberapa bulan sejak kejadian malam itu, kodisi rumah tanggaku mulai membaik. Istriku tidak pernah pulang malam lagi. Dan Ababil sekarang tidak kami titipkan di Sanggar. Meski pada awalnya aku dan istriku terlihat kaku dalam merawat Ababil namun dengan seiringnya waktu kami mulai terbiasa.
Yah…bukan seberapa lama kami menunggu kehadirannya dalam kehidupan kami, namun seberapa lama kami terbuai dalam kelalaian dan ketidaksadaran kami akan mencintainya. Anak autis bukan berarti anak yang tidak berguna melainkan merupakan anak yang memerlukan cara pemahaman yang berbeda saja, dan kami berdua bertekad memahaminya, membimbingnya keluar dari dunia kristal yang dibangunnya, mengajarkan ada dunia nyata yang harus dirasakannya, dunia yang begitu mengagumkan untuknya.
“Pha…pa…ma…ma” ucap suara kecil nan merdu menelisik pendengaranku, kutatap sosok kecil berbalut pit warna pink dengan pancaran bola mata yang bening menatap kearah kami. Seulas senyum tipis menghiasi wajah putihnya. Kami berdua terhenyak…takjub. Betapa bodohnya kami selama ini tidak menyadari bahwa kami memiliki seorang bidadari di rumah ini. Kutatap istriku dengan penuh haru dan dengan segera kami berhampur memeluk sosok kecil itu.
“Ababil tersenyum Pa….anak kita tersenyum ”ucap istriku diantar bulir linangan air matanya , anggukan kepalaku dan belaian tanganku mengusap lmbut kepala anak dan istriku.
“Dia begitu cantik ma…begitu cantik…:” ucapku parau
“Mama…papa…” ucap suara Ababil lembut, kami terdongak dan senyum lembutnya masih terhias di wajah mungilnya. Ternyata semua itu perlu cinta dan segalanya perlu cinta, dan dari cinta itu pula sebuah senyum muncul begitu halus begitu lembut. Senyuman yang beberapa tahun tidak pernah tersungging dari bibir mungilnya, sebuah senyuman yang bahkan dalam angan pun kami tidak berani memimpikannya, senyuman penuh cinta…secantik bidadari dari putri kecilku yang divonis Autis, Ababil.
? Penulis adalah mahasiswa Administrasi Pendidikan UM

Bagikan informasi ini: