Teater Pelangi Masuk Kuburan

Gelap: Suasana pementasan teater

Teater Pelangi kembali mem-ersembahkan pentas produksinya. Setelah tahun lalu berhasil mementaskan drama ”Monumen” karya Indra Tranggono, tahun ini Teater Pelangi menggarap naskah ”Gerr” karya Putu Wijaya.

Berbicara tentang pemilihan naskah ”Gerr” untuk pementasan kali ini, Chandra Rahma selaku pimpinan produksi mengaku bahwa awalnya hal ini adalah saran dari anggota senior Teater Pelangi. Naskah tersebut dianggap memiliki tantangan yang lebih besar dari naskah ”Monumen” sebelumnya karena untuk memainkannya membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi.

Pada pementasan yang berlangsung Rabu dan Kamis  (17-18/2) di gedung J9 tersebut, penonton dibawa pada suasana mistis sejak memasuki gedung. Aroma dupa dan kemenyan meruap di tengah kelambu  hitam dan lampu yang dipadamkan.
Setelah MC membuka acara, iringan musik dibarengi isak tangis para pemain menjadi pembuka yang cukup mengejutkan. Suasana semakin mencekam ketika tokoh Bima bangkit dari kematiannya. Penonton menjerit saat Bima keluar dari peti jenazah. Namun ketakutan penonton berubah tawa saat Bima yang diperankan  oleh Zacky Falucky berdialog dengan dua  penggali kubur untuk meyakinkan bahwa dirinya masih hidup.
13 pemain Teater Pelangi yang terdiri dari 10 anggota baru (Diklat ’08) dan 3 anggota lama (Diklat ’06 dan ’07) yang dipilih melalui casting berusaha menunjukkan akting terbaiknya. Sebelum pentas, para pemain mengadakan latihan selama kurang lebih dua bulan, terhitung sejak pertengahan Desember 2009 hingga H-1 menjelang pentas.
Persiapan yang matang mencerminkan totalitas semua kru Teater Pelangi dari segala aspek. Tidak hanya pemain, tetapi juga aspek lain, seperti tata lampu, latar panggung, dan musik. Ada kisah unik dibalik salah satu perlengkapan panggung yang dibocorkan pada kami. ”Untuk bunga kamboja yang diletakkan di panggung, kami ambil langsung dari kuburan Sumber Sari. Atas izin ketua RT dulu, tentunya,” ungkap Chandra lantas tertawa.
Kesuksesan pentas produksi Teater Pelangi tahun ini tentu tidak bisa terlepas dari peran serta  sutradaranya, Leo Zainy yang sudah cukup berpengalaman dalam dunia  teater. ?Nur

Bagikan informasi ini: