Mengenal Lebih Jauh Masyarakat Desa Transisi (MDT)

Judul Buku    : Solidaritas Sosial Dan Pasrtisipasi Masyarakat Desa Transisi (Suatu Tinjauan Sosiologis)
Penulis           : Zulkarnain Nasution
Penerbit        : UMM Press
Cetakan         : I tahun 2002
Tebal             : 218 Halaman
Peresensi    : Aang S. Yahya

”Perubahan” menjadi kata yang tepat dalam memaknai pergantian  sebuah zaman. Begitu halnya dengan keadaan pada masyarakat kita. Salah satunya yaitu dengan keberadaan Masyarakat Desa Transisi yang semakin banyak ditemukan di Indonesia. Masyarakat Desa Transisi merupakan masyarakat yang di dalamnya terdapat masyarakat asli yang sudah secara turun temurun tinggal di desa tersebut dan masyarakat pendatang yang baru bertempat tinggal di desa tersebut (Zulkarnain, 2009:2).
Kajian mengenai Masyarakat Desa Transisi (MDT) sangat dibutuhkan dalam analisis sosial terhadap pelaksanaan pembangunan desa. Melalui buku ini, penulis menunjukkan dua aspek yang berhubungan dengan MDT yaitu partisipasi dan solidaritas sosial. Partisipasi merupakan istilah deskriptif yang menunjukkan keterlibatan beberapa orang dengan jumlah signifikan dalam berbagai situasi atau tindakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka (Goldsmith, 1979:4). Sedangkan, Solidaritas sosial merupakan kepedulian secara bersama kelompok yang menunjukkan pada suatu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada persamaan moral, kolektif yang sama, dan kepercayaan yang dianut serta diperkuat oleh pengalaman emosional (Johnson, 1981).
Buku setebal 218 halaman ini, dibagi ke dalam lima belas bagian yang membahas tentang: (1)Pendahuluan; (2)Tinjauan solidaritas dan partisipasi; (3)Tinjauan tentang MDT; (4)Tinjauan tentang perubahan sosial; (5)Peran lembaga lokal dan elit lokal dalam partisipasi; (6)Kerangka konseptual solidaritas sosial dan partisipasi MDT; (7)Metode penelitian; (8)Karakteristik solidaritas sosial MDT; (9)Karakteristik individu dan sosial terhadap solidaritas pada MDT; (10)Karakteristik individu dan sosial terhadap partisipasi pada MDT; (11)Solidaritas sosial dan partisipasi pada MDT; (12) Perbedaan solidaritas warga perumahan dengan warga dusun MDT (13)Perbedaan partisipasi pada MDT; (14)Implikasi empiris dan teoritis solidaritas dan partisipasi pada MDT; (15)Solusi meningkatkan solidaritas dan partisipasi pada MDT
Buku ini dan khususnya tulisan-tulisan lain di berbagai surat kabar telah turut memperkaya wacana kehidupan sosial bermasyarakat di Indonesia. Dengan memilih lokasi penelitian di Desa Saptorenggo, Kec. Pakis, Kab. Malang, Jatim, Tulisan-tulisan dalam buku ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial pada MDT secara tipologi dibangun dari dua karakteristik warga, yaitu warga dusun dan warga perumahan. Solidaritas sosial pada warga dusun, masih mempertahankan ikatan keyakinan dan kekerabatan. Tradisi terhadap keyakinan masih terus dilestarikan oleh warga dusun sampai sekarang ini, seperti: selamatan malam Jumat Legi, selamatan bersih desa, ziarah ke makam keluarga pada setiap Jumat Legi, tahlilan atau yasinan, dan peringatan hari-hari besar agama. Sebailknya, pada warga perumahan nilai-nilai tradisi tersebut sudah jarang, dan yang tidak dilakukan. Dalam pengertian ini, buku ini sendiri menjadi representasi dari fakta sosial, sebuah ekspresi tulis (dan visual) yang memberi makna pada peristiwa sehari-hari dalam kehidupan sosial bermasyarakat di sekeliling kita.
Tetapi, kemudian muncul sebuah pertanyaan: Seberapa pentingkah solidaritas sosial dan partisipasi dalam pembangunan?  Di sinilah kemudian penulis memberikan jawabannya melalui pendekatan kuantitatif dengan cara analisis statistik Rank Spearmen dan analisis Mann Whitney U-Test. Dari analisis tersebut diperoleh signifikansi 0.000 di mana pada warga perumahan sebagian besar solidaritas digolongkan ”sedang” (63%). Sebaliknya, pada warga dusun solidaritas sebagian besar digolongkan ”tinggi” (96%).  Dengan hasil yang ditunjukkan angka-angka tersebut diputuskan, pada taraf kepercayaan 95%, secara signifikan terdapat perbedaan partisipasi pembangunan antara warga perumahan dengan kelompok warga dusun pada MDT. Hal tesebut didasarkan pada nilai signifikansi sebesar 0.000 < 0.05. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan pula bahwa perbedaan partisipasi pembangunan antara warga perumahan dengan kelompok warga dusun sangat nyata, di mana tingkat partisipasi pada warga dusun lebih tinggi dibandingkan solidaritas sosial pada warga perumahan. Hal ini dapat diartikan, apabila solidaritas sosial semakin kuat dan dapat terpelihara dengan baik maka akan berpengaruh dengan semakin meningkatnya tingkat partisipasi, akan tetapi solidaritas semakin melemah dab tidak dipelihara dengan baik, akan berpengaruh dengan semakin menurunnya tingkat partisipasi pembangunan MDT. Sehingga jawaban dari pertanyaan di atas secara Analogi bertingkat dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, dengan masih dipertahankannya nilai-nilai solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat secara sukarela dari bawah akan membawa dampak pada keberhasilan pembangunan. Kedua, solidaritas sosial dan partisipasi menjadi semacam garansi agar kepentingan rakyat tidak diabaikan. Ketiga, persoalan-persoalan dalam dinamika pembangunan akan dapat diatasi dengan adanya solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat.
Tinjauan singkat ini memperlihatkan bahwa buku yang mendapat sambutan dari Prof.Dr.Salladien (Guru besar UM) dan Prof.Dr.Ir.Sanggar Kanto M.S (Pembantu Dekan I FIS UB), bukanlah sesuatu yang “dangkal dan kurang renungan”. Dalam konteks wacana ilmu sosial, buku ini memiliki nilai sama pentingnya dengan sebuah teks filsafat sosial atau analisis sosial. Buku ini, dan tulisan-tulisan lain tentunya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses konstruksi wacana sosial terhadap perubahan pola sikap masyarakat desa di Indonesia. Namun di pihak lain pula, kumpulan tulisan ini memperlihatkan bahwa konstruksi wacana sosial masyarakat kita masih didominasi oleh kecenderungan berpikir dikotomis, dan lupa akan perlunya kritik terhadap bentuk-bentuk representasi verbal, naratif, maupun visual yang tidak peka terhadap kompleksitas hubungan bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, keunggulan buku ini  terletak  pada  pembahasannya  yang menyeluruh dan lebih rinci serta dilengkapi oleh gambar dan tabel secara penting dan akurat. Buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang tertarik pada ilmu sosial, baik dari kalangan akademisi, praktisi, maupun birokrasi. Sayangnya, buku ini tidak dicetak secara full colour sehingga pembaca mungkin tidak sepenuhnya tertarik.

Peresensi adalah Mahasiswa Kimia 2008

Bagikan informasi ini:

One Comment

  1. Nice site man Ive been scouting around for such as this!