Peran Guru di Hari Bumi

Ilustrasi

Oleh Santi Suhermina

Pernahkah kita memberitahu murid kita bahwa air yang kita minum setiap hari adalah air yang sama dengan yang diminum dinosaurus jutaan tahun yang lalu? Pernahkah kita mengajari mereka bahwa udara yang mereka hirup setiap hari adalah udara yang sama yang akan dihirup anak cucu mereka kelak nantinya? Saatnya bagi kita untuk menyadarkan manusia-manusia masa depan itu bahwa apa yang mereka lakukan hari ini akan berdampak pada anak cucunya kelak.

Diakui atau tidak, kurikulum sekolah saat ini banyak yang tidak berpihak pada alam. Di sisi lain, para guru juga lebih mengutamakan berbagai pengetahuan praktis, seperti bagaimana caranya supaya bisa lulus ujian.  Belajar yang seharusnya dipandang sebagai proses yang tak pernah henti, telah  berubah menjadi tujuan pragmatis yang justru menghambat orang menjadi bijak. Pada akhirnya, mereka terjebak pada kebutuhan-kebutuhan praktis yang membuat mereka tak lagi mampu memaknai hidup.
Tujuan awal belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Manusia yang bermartabat adalah manusia yang mengenal dirinya. Manusia yang mengenal dirinya akan tahu bahwa ia adalah salah satu bagian dari alam semesta.  Bahwa  manusia tak sendiri, bahwa kita adalah satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah bernama bumi. Kita memiliki langit yang sama, bulan, bintang, dan matahari yang sama.

Bumi telah menjadi tempat tinggal dari berbaga komunitas, mulai dari dunia monera, protista, tumbuhan, binatang, temasuk manusia di dalamnya. Jumlah manusia di bumi ini hanya ada satu spesies saja, yaitu homo sapiens dari sub homo sapiens. Meskipun hanya satu spesies saja tetapi jumlahnya terus meningkat pesat hingga lebih dari sepuluh milyar jiwa. Jumlah demikian adalah jumlah yang sangat besar yang tidak bisa dikalahkan oleh makluk apa pun yang memiliki ukuran setara atau yang lebih besar dari manusia. Sebagai perbandingan, paus, mamalia terbesar di lautan, jumlahnya saat ini tak lebih dari 50.000 ribu ekor saja. Jumlah ini semakin hari akan terus menyusut. Jumlah manusia yang berlebih ini, tentu menimbulkan masalah tersendiri. Mulai dari kurangnya pangan, pekerjaan, meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas, tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah, dan eksploitasi alam tanpa ampun. Pada akhirnya semua ini akan mengarah pada pengrusakan lingkungan dan global warming.

Repro: net
Sekolah sebagai sebuah lembaga pencetak manusia masa depan jelas memiliki tanggung jawab besar dalam kapasitasnya untuk mewujudkan sebuah kesadaran kolektif  tentang pentingnya kelestarian lingkungan dalam diri siswa. Guru–sebagai model manajer utama dalam kelas- terlepas jenjang apapun dan mata pelajaran apa yang diajarkan berhak dan bertanggung jawab memasukkan dan menyelipkan  nilai-nilai cinta lingkungan dalam setiap proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan kata lain, konsep cinta lingkungan bukan hanya tanggung jawab guru Biologi atau KWn saja, tetapi guru semua mata pelajaran. Kenapa harus semua? Karena kesadaran secara kolektif itu hanya akan tercapai jika semua elemen bersatu dalam sebuah gerakan sporadis dan kontinyu. Jika hal ini terjadi maka kita akan bisa berharap bumi di masa depan akan lebih baik dari sekarang.
Sebenarnya, saat ini telah ada sekolah yang lebih menonjolkan kecintaan pada alam dalam setiap kurikulumnya, yaitu sekolah alam.  Sebagai sekolah alternatif, sekolah ini memiliki kurikulum khusus yang lebih mengutamakan kecintaan dan pelestarian alam secara aktif dan intensif  dibanding sekolah umum lainnya. Para siswa diajak berinteraksi langsung dengan alam sehingga tujuannya lebih mengena. Berbicara tentang sekolah alam membuat saya teringat pada anak tetangga saya yang kebetulan juga belajar di sekolah model ini. Suatu hari ketika pulang sekolah, ia kelihatan senang sekali. Saya yang penasaran bertanya kenapa ia terlihat begitu gembira. Ia menjawab, “ tadi aku sama pak guru diajak mandiin kerbau di sekolah, mbak!” mataya berbinar-binar. Ibu saya yang kebetulan mendengar ikut berkomentar, “wah sekolah mahal-mahal kok cuma diajarin mandiin kerbau. Bapakmu dulu kalau mau mandiin kerbau nggak usah ke sekolah, langsung ke empang saja.”  Terdengar menggelikan memang. Namun, bukan itu masalahnya. Memandikan kerbau, menanam tomat, atau menangkap kodok di sawah untuk mempelajari anatomi bisa menjadi kegiatan positif yang mengasyikkan bagi anak-anak. Mereka akan mendapatkan kesan bahwa sekolah itu menyenangkan dan tidak melulu tergantung pada text book yang monoton dan membosankan. Awalnya mungkin terkesan main-main, tetapi dari situlah timbul awal kecintaan mereka pada alam. Pada akhirnya kecintaan ini akan menimbulkan kepedulian pada alam. Diakui atau tidak, alam sekitar dibandingkan dengan waktu kita kecil dulu telah banyak berubah. Anak-anak zaman sekarang akan kesulitan menemukan burung-burung liar atau cacing tanah. Ular di sawah sudah jarang kita temui. Beberapa spesies tanaman yang banyak tumbuh pada masa kecil kita pun sudah banyak yang hilang. Keadaan topografi juga ikut menentukan. Tidak seperti di desa,  bagi anak –anak yang lahir di kota, kegiatan memandikan kerbau adalah kegiatan baru dan mengasyikkan yang hampir bisa dipastikan tidak akan mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Diantara serangan playstation dan internet, kegiatan seperti ini bisa menjadi alternatif yang membuat mereka lebih membumi dan manusiawi.   Sayangnya, seperti kata ibu saya, sekolah semacam ini masih tergolong mahal, sehingga tidak semua anak bisa mengaksesnya. Padahal, sekolah yang berbasis alam seperti ini seharusnya tidak  mahal karena alam telah menyediakan segalanya. Semuanya tinggal mengambil dari alam dan dipelajari. Tidak perlu gedung-gedung mewah dari beton atau lorong-lorong sekolah dari ubin mengkilat nan licin. Tanah basah yang berumput atau pagar dari daun penitian terasa lebih menyenangkan daripada gerbang besi yang mengekang  mereka bak penjara. Namun, tetap saja hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa sekolah alam itu masih mahal bagi sebagian orang sehingga tidak realistis menganjurkan setiap orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah ini. Namun bukan berarti sekolah formal  tak mampu menumbuhkan kecintaan siswanya pada alam. Seperti program yang dicanangkan Walikota Malang, Peni Suparto, dengan konsep  sekolah seribu bunganya patut diapresiasi. Gerakan ini merupakan upaya menanamkan dan mewujudkan rasa cinta lingkungan di dunia pendidikan di kalangan pelajar melalui berbagai momentum, misalnya pada saat MOS, kegiatan ekstrakurikuler, atau dimasukkan ke dalam kurikulum yang berbasis lingkungan. Selain itu, dengan meningkatkan peran serta sekolah untuk ikut serta dalam berbagai kompetisi berbasis lingkungan, baik tingkat lokal, regional, maupun nasional. Penghargaan Adiwiyata yang berhasil diraih beberapa sekolah di Kota Malang telah menjadi bukti nyata bahwa sekolah formal juga bisa berperan aktif mengajak siswanya untuk merawat lingkungan.
Pernahkah kita memberitahu murid kita bahwa air yang kita minum setiap hari adalah adalah air yang sama yang diminum dinosaurus jutaan tahun yang lalu? Pernahkah kita mengajari mereka bahwa udara yang mereka hirup setiap hari juga adalah udara yang sama yang akan dihirup anak cucu mereka kelak nantinya? Saatnya bagi kita untuk menyadarkan manusia-manusia masa depan itu bahwa apa yang mereka lakukan hari ini akan berdampak pada anak cucunya kelak.
Sebagai seorang pedidik, guru harus mampu menjadi pelopor bagi para siswaya untuk mengembankan perilaku ramah lingkungan. menentukan seperti apa bumi di masa yang akan dating. Hari bumi yang jatuh pada 22 April ini seharusnya menjadi momen untuk menyadarkan para siswa  bahwa bumi kita kritis. Jadi, masalah lingkungan adalah lebih besar dan penting dari sekadar mengejar nilai batas minimal lulus ujian.

Penulis adalah Alumni FS UM tahun 2005. Saat ini menjadi Pengajar di SMP Negeri Satu Atap Kucur, Kab. Malang.

Bagikan informasi ini: