Kualitas Cerpen Diawali dari Memilih Tema

Judul Buku    : Bukan Perempuan
Penulis            : Syarif Hidayatullah, dkk.
Penerbit        : Obsesi Press
Cetakan          : I, 2010
Tebal                : xii, 292 halaman
Peresensi        : Karkono, S.S.,M.A

Kecanggihan teknologi berdampak luar biasa pada semua lini kehidupan. Berkat kecanggihan teknologi, dunia seakan dibuat bergejolak setiap saat. Televisi sebagai contoh sederhana. Dari televisi kita bisa melihat betapa penuh warnanya peristiwa yang terjadi di muka bumi. Peristiwa yang mengharukan, menggelikan, menyenangkan, menyesakkan dada, sampai yang tidak dapat dipercaya oleh logika. Banyak peristiwa nyata yang lebih fiktif dari karya fiksi tersaji hampir setiap hari di televisi; ibu membunuh anaknya sendiri, kakek memerkosa bocah kecil, anak SD bunuh diri, dan beraneka peristiwa yang sejatinya luar biasa pada akhirnya menjadi biasa di telinga kita. Kecanggihan kotak ajaib yang bernama televisi hanya contoh kecil. Belum lagi kalau kita bicara tentang telepon selular dan internet.
Lalu, masih tersisakah tempat bagi karya fiksi di zaman sekarang ini?

Barangkali sebagian orang akan bertanya seperti itu. Merasa seakan tidak membutuhkan karya fiksi karena yang didengar dan dilihat setiap saat rasanya melebihi fiksi. Namun, fenomena ini sesungguhnya tantangan tersendiri bagi para penulis karya fiksi di era sekarang. Di samping dituntut kepiawaian dalam meramu kisah-kisah fiksi agar tetap menarik dibaca, ada celah lain yang luput  ditangkap kecanggihan teknologi yang bisa dimanfaatkan para penulis fiksi. Banyak fakta yang terjadi yang justru sengaja ditutup-tutupi dengan alasan tertentu. Televisi dan media lain terkadang tak cukup lihai menyajikannya di hadapan masyarakat karena beragam kepentingan. Namun, dengan bingkai karya fiksi, semua fakta itu bisa saja diungkap dengan leluasa.
Beberapa contoh nyata adalah cerita-cerita yang tersaji dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Bukan Perempuan. Selain materi cerita yang tidak biasa, yang menjadikan buku ini istimewa adalah karena buku ini merupakan kumpulan cerpen pemenang lomba tingkat mahasiswa se-Indonesia tahun 2009-2010. Status mahasiswa yang disandang para penulis cerpen dalam kumpulan ini setidaknya memberi harapan bagi pembaca tentang ide-ide segar dan kritis yang diramu dalam cerita.
Cerpen “Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah dari UHAMKA Jakarta yang merupakan pemenang pertama dan sekaligus dijadikan judul dalam kumpulan ini saya anggap sebagai contoh cerpen yang merepresentasi apa yang saya ulas di awal. Syarif berhasil mengangkat fakta yang terjadi dalam kehidupan tetapi tidak banyak diungkap atau sengaja ditutup-tutupi. Secara ringkas, cerpen tersebut bercerita tentang Ardi dan Ihsan, dua orang santri di sebuah pesantren. Ardi dikenal sebagai santri teladan dan mempunyai banyak kelebihan dalam ilmu agama, ironisnya dia mempunyai kelainan orientasi seksual, suka kepada sesama jenis; Ihsan.
Secara bahasa dan teknik penceritaan bisa dikatakan biasa, tetapi karena kejelian dan keberanian memilih tema itulah yang menjadikan cerpen ini istimewa dan akhirnya dipilih juri yang diketuai Joni Ariadinata sebagai pemenang pertama. Bahwa ada fenomena cinta sesama jenis di dalam pesantren adalah sebuah fakta yang sangat mungkin terjadi di dunia nyata, tetapi bahwa fakta itu jarang diungkap atau sengaja dianggap tidak ada, bisa saja terjadi. Syarif sudah berhasil menemukan celah penting tersebut sehingga pembaca akan menemukan warna lain dalam karya fiksi.
Begitu juga dalam cerpen “Benggel” karya Royyan Julian dari Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang yang menempati juara ke tiga dari 473 peserta. Benggel adalah gelang kaki perak yang dipakai perempuan Madura sebagai tanda bahwa sang pemakai adalah istri Kyai. Selain materi konflik cerita yang memikat, cerpen ini juga diperkuat dengan pilihan warna lokal yang kuat, dalam hal ini tradisi di lingkungan Madura. Rata-rata, tiga puluh cerpen yang terkumpul dalam kumpulan ini bisa dikatakan menyajikan tema yang tidak biasa, yaitu tema-tema yang sifatnya lokal tetapi disampaikan dengan bahasa universal. Salah satu warna lokal yang banyak diangkat dalam cerita-cerita ini adalah kehidupan di pesantren.
Teknik penceritaan yang tidak biasa bisa ditemukan pada cerpen “Mata Purnama” karya Richa Miskiyya dari IAIN Walisanga Semarang yang menempati juara ke dua. Di samping menggunakan sudut pandang penceritaan yang tidak biasa, kelebihan lain yang dimiliki cerpen ini ada pada kekuatan bahasa yang digunakan. Bahasa-bahasa indah dan simbolik yang penuh makna.
Barangkali, sedikit catatan yang bisa diberikan untuk buku ini adalah pada ilustrasi sampul.  Sampul adalah unsur penting sebuah buku dan oleh karenanya perlu konsentrasi lebih dalam pengerjaannya. Banyak pembaca di Indonesia yang membeli/membaca buku berdasar kondisi fisik buku, utamanya desain sampul. Mau tidak mau, pembaca akan mengaitkan tokoh ilustrasi pada sampul dengan cerita di dalamnya. Dari deskripsi tokoh dalam cerpen “Bukan Perempuan”, sungguh kurang sesuai dengan ilustrasi pada sampulnya.
Menulis cerpen tidak asal jadi. Dibutuhkan kelihaian dalam teknik penceritaan, estetika bahasa, eksplorasi latar, dan juga kejelian memilih tema. Ada cerpen yang secara teknik mapan, tapi tema yang diangkat sangat biasa, bisa jadi membuat cerpen tersebut menjadi biasa-biasa saja. Jika  kesadaran pada unsur-unsur ini terus dipegang, cerpen yang ditulis pun akan memikat sehingga tetap penting dibaca di tengah gempuran media yang berjejal berebut mata dan telinga. Wallahu’alam.

Peresensi adalah dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini:

8 Comments

  1. Keren… bahasanya mantab, wawasannya luas… yang diresensi sepertinya juga berkualitas… kalo mau baca, beli bukunya di mana ya?

  2. Tema memang unsur paling penting dari sebuah cerpen.

  3. terima kasih sudah mengapresiasi,
    selam hangat…

  4. Wah, ada Mas Syarif… saya salut dengan karya cerpen Bukan Perempuan… Selamat ya Mas…

  5. terima kasih Pak Karkono. mas syarif apa kabar?

  6. Utterly written content, regards for entropy.

  7. This report is well crafted

  8. Your place is perfect for me. Thanks!…