Shalat Membentuk Pribadi Berkarakter

Oleh Maziatul Churiyah

Sejatinya  momentum isra’ mir’aj adalah  membentuk karakter bangsa. Inti dari peristiwa  isra’ mi’raj adalah diperintahnya kita untuk mendirikan shalat dalam semua aspek kehidupan. Isra’ mir’aj mendidik kita untuk menjadi manusia yang memiliki keunggulan moral dan budi pekerti yang dibentuk melalui shalat. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari shalat. Shalat tidak hanya membentuk karakter cerdas spiritual, akan tetapi mampu membentuk karakter cerdas emosional, sosial, dan personal.

Cerdas Spritual
Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi merupakan kebutuhan manusia secara spritual. Shalat merupakan media untuk ber-taqarub kepada Allah SWT. Shalat membangun kedekatan diri pada Allah SWT.  Nabi bersabda, “Assholatu mi’rajul mukmin”. Artinya, shalat merupakan mi’raj-nya orang mukmin. Yang dimaksud dengan mi’raj adalah naiknya jiwa, pikiran, dan hati untuk bertemu dengan Allah SWT. Semakin dekat diri kita kepada Allah semakin tenang jiwa kita, tidak mudah berkeluh kesah.  Oleh karena itu, seorang mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang dan akan terhindar dari sifat keluh kesah, gelisah, serta bakhil (kikir).  Allah berfirman dalam surat Ar Ra’du  (13:28), “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’d 28). Menurut Dadang Hawari  dari sudut kesehatan jiwa, shalat merupakan pemenuhan salah satu kebutuhan dasar spritual manusia yang penting bagi ketahanan rohaniah dalam menghadapi berbagai stres kehidupan. Shalat adalah simbol penyerahan diri seorang muslim pada Allah SWT.

Cerdas Emosional
Hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma’ninah. Tuma’ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna. Sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tetapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang sama derajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu’. Ketawadhu’an adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu’ (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya.  Cirinya adalah ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya.
Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah juga mendidik kita untuk menghilangkan sikap egois dan menumbuhkan sikap sabar, sebab kita tidak mungkin mengikuti kemuauan kita untuk ruku’, sujud mendahului imam atau melakukan salam lebih dahulu. Akan tetapi kita dituntut untuk taat dan bersabar mengikuti gerak-gerik seorang imam. Dengan demikian, semakin kita sering shalat berjamaah, maka semakin terdidik diri kita untuk mengendalikan atau melunakan sikap egoisme dan menumbuhkan sikap sabar dan sungguh-sungguh, seperti firman Allah, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk” (QS. Al Baqarah 45).  “Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar “(QS. Al Baqarah: 153).

Cerdas Sosial
Shalat selalu diakhiri dengan salam yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi kamu sekalian. Mengucapan salam ketika mengakhiri shalat merupakan ikrar bahwa kita  akan memberi garansi bahwa kita tidak akan pernah berbuat zalim, keji, dan kemungkaran pada orang lain.  Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Ini adalah kunci sukses karena setiap kali kita berbuat zalim, keji, dan kemaksiatan maka kezaliman dan kemaksiatan  itu akan kembali pada diri kita.
Dari aspek sosial, shalat berjamaah  merupakan manifestasi dari itihadul muslim (bersatunya umat Islam)  tanpa adanya pecah belah di antara mereka, tanpa memandang derajat antara kaya-miskin, dan shalat yang dilakuan secara jamaah akan menciptakan rasa  empati  terhadap sesama hingga akhirnya tercipta sebuah  rasa kasih sayang antar sesama muslim yang berawal dari ta’aruf (saling mengenal).

Cerdas Personal
Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams ayat 9-10, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya”. Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk, maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih. Mulai dari dhahir, rumah harus bersih, bersih dari sampah, bersih dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih, mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Shalat memiliki rukun  dan urutan yang tertib. Jadi, hikmah  dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan prosedural dalam hidupnya.

Penulis adalah dosen FE UM sekaligus penyunting majalah Komunikasi

Bagikan informasi ini: