Kaleidoskop UM hingga Learning University

Memperingati Dies Natalis Universitas Negeri Malang (UM) yang ke-56, banyak rangkaian acara menarik dan berbeda yang disajikan untuk menyemarakkan ulang tahun kampus tempat kita menimba ilmu ini. Berbagai program spektakuler menjadi pelengkap betapa semaraknya peringatan HUT UM yang telah memasuki usia sangat matang ini. Hal ini seolah menunjukkan betapa UM telah meraih sebuah titik pencapaian yang tinggi dalam perjalanannya. Namun, tentunya eksistensi UM, sejak berdirinya hingga sekarang adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya berliku-liku tapi juga penuh perjuangan. Perjalanan panjang salah satu kampus tertua di Indonesia ini akhirnya sampai pula pada saat ini, yaitu proses pendewasaan lembaga telah semakin matang dan siap berjalan menuju arah yang lebih baik. Berbagai peristiwa yang dilalui tentunya akan memperkokoh UM di dunia pendidikan. Bermula dari titik nol, kini UM telah menjadi salah satu perguruan ternama dengan berbagai prestasi dan pencapaian yang signifikan. Berikut adalah rekam jejak perkembangan UM secara singkat dari awal berdiri hingga saat ini.
UM yang pada tanggal 18 Oktober 1954 silam diresmikan sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) merupakan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) pertama di Indonesia. IKIP Malang saat itu diresmikan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Prof. Mr. Muhammad Yamin, berdasarkan SK No. 38742/Kab tanggal 1 September 1954. Untuk mengepalai PTPG, ditunjuklah Prof. Sutan Adam Bachtiar menjadi rektor pertama PTPG saat itu. Dengan lima jurusan perintis yang dikelolanya, yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Sejarah dan Budaya, Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Alam, PTPG mulai melaksanakan perkuliahan  yang diselenggarakan di gedung SMA Alun-alun Bunder, dan setahun kemudian pindah ke gedung sendiri di Jalan Tumapel 1, Malang. Akhirnya, Pada tahun 1958, atas jasa Bapak Sarjono, mantan Wali Kota Malang, lembaga ini mendapatkan sebidang tanah yang kemudian membangun kompleks kampus yang berada di Jalan Semarang 5.
Awalnya, lembaga ini sangat memerlukan bantuan dari pihak luar untuk melengkapi sarana dan prasarananya. Untungnya, saat itu banyak sumbangan diterima yang dapat menunjang kelangsungan organisasi PTPG saat itu. Sumbangan yang patut dicatat pada masa itu antara lain dari Ford Foundation (berupa beasiswa pengiriman dosen ke luar negeri, beberapa fasilitas laboratorium, dan buku perpustakaan), sumbangan Pemerintah Jepang melalui Colombo Plan, Sie Twam Tjing (Samsi), dan pemilik pabrik rokok Bentoel Malang yang memberikan bantuan kafetaria modern pada waktu itu.
Seiring waktu, nama PTPG berganti menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Airlangga (Unair) karena didirikankannya Unair di Surabaya pada tanggal 10 November 1958 berdasarkan PP No. 71 Tahun 1958. PTPG yang saat itu dibilang masih belum cukup mampu berdiri sendiri akhirnya digabungkan dengan Unair. Berikut berdasarkan Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 35 Tahun 1964 tanggal 3 Januari 1963, IKIP Malang ditetapkan memiliki cabang-cabang di Surabaya (berasal dari cabang FKIP Unair), Madiun (berasal dari cabang FKIP Unair), Singaraja (dari FKIP Universitas Udayana), dan di Kupang/Endeh (dari FKIP Universitas Nusa Cendana). Namun, akhirnya pada tanggal 20 Mei 1964 IKIP Malang dinyatakan berdiri sendiri dan terlepas dari Unair dan memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS), Fakultas keguruan Ilmu Sosial (FKIS), Fakultas Keguruan Ilmu Eksakta (FKIE). Lalu satu tahun kemudian, lahir Fakultas Keguruan Teknik (FKT).
Tahun 1982, nama dan istilah fakultas yang ada di IKIP Malang disesuaikan secara nasional. FIP tidak mengalami perubahan, FKSS menjadi Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), FKIS menjadi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), FKIE menjadi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), dan FKT menjadi Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK). Kemudian pada tanggal 23 Maret 1968, beberapa fakultas cabang IKIP Malang diserahterimakan kepada induknya yang baru. Cabang Jember diserahkan kepada Universitas Jember. Cabang Singaraja kepada Universitas Udayana. Cabang Kupang dan Endeh kepada Universitas Nusa Cendana. Cabang Surabaya pada akhirnya berdiri sendiri menjadi IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya).
Selanjutnya, IKIP Malang terus mengalami perkembangan yang pesat dalam hal pendidikan. Dari tahun ke tahun, semakin banyak program studi dengan berbagai jenjang. Sampai akhirnya, Berdasarkan SK Presiden RI No. 93 Tahun 1999 menetapkan bahwa IKIP MALANG berubah menjadi Universitas Negeri Malang (UM) dan berdasarkan SK Dirjen Dikti No. 143/DIKTI/Kep/2000 UM mempunyai lima fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Sastra (FS), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Teknik (FT), serta Program Pascasarjana (PPS). Karena ada beberapa kendala, FPIPS saat itu terpaksa dibubarkan, dan beberapa jurusan di dalamnya, yaitu Jurusan Sejarah, Geografi, dan PPKn dititipkan ke fakultas lain. Sedangkan Jurusan Ekonomi dapat bertahan menjadi fakultas sendiri. Namun, jurusan-jurusan pecahan FPIPS pada akhirnya dapat disatukan kembali pada 17 Agustus 2009 dalam wadah baru yang bernama Fakultas Ilmu Sosial (FIS). FIS berdiri setahun setelah pembentukan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang diresmikan tahun 2008. Dengan demikian, saat ini UM telah memiliki tujuh fakultas, dan satu Program Pascasarjana.
Selain mengalami perkembangan signifikan dari tahun ke tahun di bidang pendidikan, UM juga mengalami perkembangan di bidang kelembagaan. Hingga saat ini, UM telah memiliki beberapa lembaga yang menunjang segala aktivitas yang dilakukan. Adapun lembaga-lembaga tersebut dibentuk secara bertahap. Berikut adalah sepintas perkembangan beberapa kelembagaan UM.

Lembaga Penelitian
Lembaga Penelitian UM lahir setengah abad yang IaIu. Semula, lembaga ini dinamakan Pusat Penelitian sebagai bagian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IKIP Malang. Seiring dengan perkembangannya yang begitu pesat, pada tahun 1982, Pusat Penelitian memisahkan diri dan LP3M menjadi unit yang berdiri sendiri, menjadi Pusat Penelitian IKIP Malang. Lebih lanjut, seiring dengan perkembangan yang semakin pesat, pada tahun 1993, Pusat Penelitian ini ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Penelitian IKIP Malang. Namun, setelah diterbitkannya Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93, tertanggal 4 Agustus 1999 tentang Perluasan Mandat IKIP Malang menjadi Universitas Negeri Malang, Lembaga Penelitian IKIP Malang menjadi Lembaga Penelitian UM.

Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat
Di samping menjalankan fungsi pengembangan pendidikan, Perguruan Tinggi (PT) dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) juga melaksanakan fungsi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yaitu kegiatan pengembangan penelitian yang hasil-hasilnya ditindaklanjuti dengan penyebarluasan dan penerapannya bagi kepentingan masyarakat.

Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran
Lemabaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) UM dibentuk berdasarkan SK Rektor Nomor: 0103/KEP/PT28.H/C/99 tanggal 22 Maret 1999 didukung dua pusat, yaitu Pusat Sumber Belajar (PSB) dan Pusat Kurikulum, Pengembangan Pembelajaran, dan Evaluasi (PKPPE). PSB merupakan pengembangan dari Learning Resources Centre (LRC) yang didirikan pada tahun 1981 di IKIP Malang. Dengan didirikannya Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) tahun 1999 dan IKIP Malang yang berubah fungsi menjadi UM tahun 2000, PSB menjadi salah satu pusat di LP3. LP3 UM bergerak dalam bidang pengembangan pendidikan dan pembelajaran yang meliputi: (1) pengembangan kurikulum dan pembelajaran, (2) pengembangan staf akademik, dan (3) pengembangan, produksi, dan layanan sumber belajar.

UM DI USIA 56 TAHUN
”Akselerasi kemajuan harus terus dipicu. Akeselerasi tersebut mencakup manajemen kelembagaan, sarana prasarana, kebanggaan terhadap almamater, dan pembentukan pola pikir atau pola pikir sebagai pribadi yang berkecukupan. Untuk itu, kemajuan pada tahun 2010 adalah modal yang besar untuk menuju UM tahun 2011. Muaranya menjadi universitas yang bermartabat, menjadi andalan bagi mahasiswa, dan memiliki alumni yang handal. Janganlah hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi orang yang dapat membentuk lapangan pekerjaan. Tugas pendidikan bukanlah mencetak generasi yang bersifat konsumtif, tapi membuat hidup menjadi lebih bermakna bagi orang lain.”
Sekelumit kutipan doa dan harapan yang disampaikan oleh Rektor UM, Prof. Dr. H. Suparno menandai bahwa UM hendaknya senantiasa berkembang menjadi lebih baik. Memasuki usia ke-56, UM memang telah melakukan pengembangan dalam beberapa aspek dalam satu tahun terakhir. Di antaranya aspek sistem manajerial, sarana prasarana, akademis, dan pengembangan karakter.
Beberapa kemajuan yang telah dicapai menunjukkan kemartabatan UM sebagai perguruan tinggi yang prestisius. Dalam sistem manajerial, disampaikan dalam pidato rektor dalam upacara Dies Natalis ke-56 UM, kemajuan yang dicapai ditandai dengan peningkatan peran dan kinerja kelembagaan. Selain itu, layanan-layanan online dan berbasis web dan peningkatan kapasitas institusi juga menandai adanya perkembangan di bidang manajerial UM. Tahun ini, calon mahasiswa baru yang hendak mendaftar tidak perlu lagi mengantri untuk mendapatkan formulir pendaftaran cetak seperti sebelumnya. Sebab, UM menyediakan pendaftaran dan pembayaran  secara online yang lebih efisien. Dari segi sumber daya manusia, terdapat 947 dosen tetap dan 668 pelaksana administrasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak tujuh dosen mendapatkan gelar doktor dan tujuh guru besar dikukuhkan dalam satu tahun terakhir.
Dari aspek pengembangan sarana prasarana, UM melakukan pengadaan beberapa fasilitas baru. Laboraturium IPA yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan canggih salah satunya. Selain itu, pembangunan Graha Serbaguna yang telah mencapai 60%, kolam renang pendidikan yang mencapai 20%, gapura dan pintu gerbang yang mencapai 40%, pusat pelatihan bisnis yang mencapai 50%, lapangan tenis yang mencapai 20%, dan Rusunawa Twinblock yang telah selesai dibangun. Penambahan gedung perkuliahan juga dilakukan di FE, FT, dan FIP.
Kemajuan sarana prasarana juga ditandai dengan kembalinya aset dari pihak ke-3 kepada UM. Aset tersebut rencananya akan digunakan sebagai lokasi pembangunan fasilitas penginapan. Pengadaan sarana perbengkelan yang bekerjasama dengan Suzuki pun dilakukan dalam pengembangan sarana prasarana UM.
Dalam satu tahun terakhir, UM menghasilkan 4.545 lulusan yang lebih dari 50% menyelesaikan studi dalam 7-9 semester dengan indeks prestasi lebih dari atau sama dengan 2,75. Hal ini mengindikasikan adanya kemajuan dari aspek akademis UM. Di usia 56, UM telah meluluskan 79.345 mahasiswa yang berasal dari tujuh fakultas dan pascasarjana. Tingkat produktivitas lulusan pun meningkat sebanyak 4,22% dari tahun sebelumnya menjadi 17,16%.
Pada tahun 2010, UM menerima sebanyak 5.528 mahasiswa. Dengan demikian, jumlah mahasiswa UM pada tahun akademik 2010/2011 adalah 23.032 mahasiswa yang berada di program studi kependidikan dan nonkependidikan. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di UM tersebut juga melewati proses pengembangan pola pikir seperti yang dilakukan oleh UPT-BK dengan mengembangkan sejumlah program yang dapat mengasah soft skill bagi mahasiswa. Keterampilan komunikasi hingga manajemen stres pun termasuk dalam program-program yang telah dilaksanakan dalam mengembangkan pola pikir peserta didik UM. Pengembangan pola pikir tampak pula dalam upaya pembangunan moral civitas akademika UM sebagai pribadi yang berkeyakinan, bermoral, percaya diri, dan berjiwa besar. Jiwa yang besar diperlukan untuk melahirkan ide-ide besar di kemudian hari.
Kemajuan yang dicapai oleh UM tidak hanya dapat dirasakan di dunia nyata. Di dunia maya, pada tahun 2010, UM berhasil meraih rangking sepuluh besar perguruan tinggi terbaik se-Indonesia dalam  Webometric. Selain pelaksanaan pelayanan online dan fasilitas pembelajaran berbasis web, Pusat TIK UM yang bekerjasama dengan PT Telkom Tbk. telah menambah bandwit secara bertahap dari tahun 2009 hingga 2010, yaitu dari 10 Mbps menjadi 24 Mbps. Di sisi lain, UPT Perpustakaan UM juga telah memiliki fasilitas e-library lengkap dengan e-jurnal, e-cliping, e-book, dan upload paper ilmiah, pidato guru besar, karya ilmiah mahasiswa yang selanjutnya akan melakukan otonomi terintegrasi dengan masyarakat umum.
Perkembangan yang diraih oleh UM di usia 56 tahun membuat wakil Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Fasli Jalal, yang disampaikan oleh Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti. Prof. Dr. Supriyadi Rustam,berharap UM dapat menjadi paran pitakon bagi semua kalangan yang ingin belajar. Kalangan tersebut tidak sebatas warga UM, tetapi juga warga luar UM. Hal ini disampaikan dalam teks pidato yang dibacakan pada upacara Dies Natalis ke-56 UM lalu. Menanggapi tantangan ini, rektor menyampaikan bahwa UM siap menjadi rujukan pembelajaran bagi berbagai pihak. Kesiapan menjadi rujukan pembelajaran tersebut termasuk kesiapan menjadi sumber informasi mengenai sistem manajerial, akademik, dan sarana-prasarana.
Setahun berlalu sejak dikukuhkannya UM sebagai The Learning University pada lustrum ke-55 lalu. The Learning University yang diilhami oleh asas universal dipadukan dengan asas Indonesiaversal menguatkan jati diri UM sebagai universitas pembelajaran. Asas universal tersebut adalah lifelong learning, lifelong education, education for all, dan education for sustainable development. Sedangkan asas lokal yang dipadukan adalah  asah, asih, asuh, dan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, serta tut wuri handayani.
Learning resource yang merupakan salah satu makna dari The Learning University inilah yang memacu UM untuk berperan sebagai sumber belajar, tempat belajar, media belajar, dan inspirator pembelajaran bagi warga UM dan lapisan masyarakat di luar UM. Salah satu contohnya adalah pembangunan kolam renang pendidikan yang merupakan hibah dari PT Pertamina. Kelengkapan fasilitas pendukung pembelajaran inilah yang dapat dijadikan sebagai rujukan informasi.
The Learning University diarahkan untuk kemajuan pembelajaran yang berkemaslahatan tinggi. Makna kedua dari sebutan tersebut adalah learning organization, yaitu UM mengedepankan aspirasi, pengembangan kepedulian, dan pengembangan kapabilitas bersama. Selalu dinamis untuk meningkatkan kapasitas profesional dan mau mengoreksi diri inilah yang menjadi karakter UM sebagai The Learning University.
Dalam usia yang semakin matang, UM dipandang sebagai universitas yang sedang membangun jati diri. Pembangunan jati diri ini tidak lepas dari proses kristalisasi sejarah UM di masa lalu dan pemikiran-pemikiran modern di masa yang akan datang. Sebab kini UM telah berdiri lebih dari setengah abad dengan pengalaman-pengalaman yang bersumber dari sejarah. Layaknya sebuah ungkapan yang berbunyi, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Ris/Yas

Bagikan informasi ini: