Pesona Jonggring Salaka

Oleh Yulli Hariyani

Liburan akhir pekan sangat asyik jika kita habiskan untuk refresing sejenak dari jepitan kegiatan sehari-hari. Obat mujarab penghilang setres ini sangat jitu. Banyak wahana yang bisa dikunjungi. Namun, sebagian besar orang lebih memilih untuk berliburan ke pantai. Sempat kita berpikir sejenak, mengapa mesti ke pantai? Tentunya, pantai adalah tempat kita dapat berlari, bercanda dengan keluarga, berbagi cerita, dan tempat menikmati pesona hayati yang eksotis.
Kita juga bisa menjamah pantai yang belum pernah dikunjungi, seperti Pantai Jonggring Salaka yang berlokasi di Malang Selatan. Pantai ini dekat dengan Pantai Ngliyep yang sering dikunjungi orang. Namun, untuk pantai yang satu ini, sangat jarang orang menapakkan kakinya di atasnya. Mengapa demikian? Kita tahu perjalanan untuk sampai ke tujuan diperlukan kesabaran kuat, fisik yang tangguh, pengendara motor berpengalaman.
Desa Mantaraman yang menjadi akses jalan menuju ke tempat wisata Pantai Jonggring Salaka  banyak terdapat batu kapur. Bentuk jalan yang menanjak dan berliku-liku, dan banyaknya cabang jalan sempat membuat khawatir. Pohon-pohon yang tumbuh ada berbagai macam. Sengon laut, jati, dan masih banyak yang lainnya. Akses jalan perlu adanya perbaikan dari pemerintah untuk memudahkan pengunjung. Jalan yang sangat memprihatinkan tersebut menyebabkan pantai seolah-olah terlihat seram dan menakutkan. Kesan pertama kami sebelum masuk kawasan tersebut, dari pintu masuk terkesan seperti pemakaman. Sempat kami berhenti sejenak, tetapi penasaran kami tergugah. Akhirnya kami masuk dan mencari tempat camp, karena hari sudah petang.
Ombak malam pantai Jonggring Salaka sangat menakutkan. Ombak datang bergulung-gulung. Suaranya memecahkan batu karang hingga kami hanya dapat menonton ganasnya ombak. Pagi hari, ombak terlihat surut. Karang-karang  muncul dan menyembul ke permukaan pantai. Siput-siput dan keong-keong yang menempel pada karang hingga tautan badan keong tampak kuat. Landak laut garang dan ikut menempel pada dinding karang yang berair. Ikan-ikan kecil berwarna-warni dan berbagai rupa bersembunyi, sesekali ikut menyembul sejenak pada karang yang berair. Air laut terlihat hijau karena plankton. Warna biru terlihat dari kejauhan disertai ombak yang bergulung-gulung. Matahari tertutup awan.
Kami menceburkan diri ke pesisir pantai dan bermain dengan ombak. Tak disangka kedatangan kami dapat meramaikan suasana. Busur pantai menawarkan kenyamanan bermain dalam menyambut ombak.  Gerimis tiba-tiba datang mengguyur pasir pantai. Kami tak menghiraukannya dan terus bermain dengan ombak.
Waktu sudah terik. Kami memutuskan kembali ke camp yang telah didirikan. Kami segera memasak karena sudah keroncongan. Menu yang kita buat adalah nasi, mie goreng, siput rebus, dan arak-arak telur. Setelah itu, kami makan bersama-sama dan bersip-siap pulang. Hari bertambah panas. Setelah selesai packing, kami pulang dan meninggalkan pantai tersebut.
Perjalanan pulang sangat memprihatinkan karena ban motor kempes. Terasa melelahkan menapaki jalan-jalan berbatu dengan sepeda motor. Sempat kami melihat danau yang masih alami di dekat jalan pulang dengan warna hijau diapit pepohonan yang tumbuh subur menjulang ke langit. Tumbuhan perdu juga banyak tumbuh di daerah tersebut.

Penulis adalah mahasiswi  Sastra Indonesia 2008

Bagikan informasi ini:

2 Comments

  1. This actually answered my problem, thanks!

  2. Also, what degrees (if anyone) would be required to be an independent creative writing teacher?.