Prinsip adalah Doa

Judul film        : Sang Pencerah
Sutradara        : Hanung Bramantyo
Pemain             : Lukman Sardi, dkk.
Produksi         : Multivision Plus
Tahun              : September 2010
Peresensi        : Sri wahyuti

Mampukah kita terus bertahan dalam kondisi yang kurang bersahabat dengan kita? Kuatkah kita menghadapi cobaan yang menghadang, gunjingan, bahkan hinaan yang menyerang dalam perjalanan kita? Berbagai pertanyaan muncul ketika kita hendak memutuskan untuk meyakini suatu hal atau dalam memertahankan keyakinan tersebut. Apa pun yang kita yakini sebagai sebuah kebenaran pastilah selalu hadir beriringan dengan godaan yang menjadi konsekuensi yang harus dihadapi. Satu hal yang bisa dikatakan pasti, bagi siapa pun yang mampu bertahan dengan sesuatu hal yang ia yakini benar, maka tiba saatnya nanti ia akan memanen sebuah keberhasilan (meskipun tolok ukur sebuah kesuksesan dan keberhasilan relatif bagi masing-masing orang).
Sebuah kisah tentang bagaimana seseorang memertahankan sesuatu yang dia yakini dan cukup menginspirasi. Sebuah kisah yang sudah banyak diketahui masyarakat karena kisah tersebut bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kisah inspiratif tersebut adalah perjalanan KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadyah. Hanung Bramantyo, sutradara yang sudah banyak menelurkan karya-karya film yang berkualitas cukup berhasil memvisualisasikan liku-liku perjalanan sosok Ahmad Dahlan dalam film “Sang Pencerah”.
Memfilmkan sebuah fakta sejarah bukan perkara mudah. Sebelum memproduksinya, diperlukan riset yang mendalam seputar objek yang akan difilmkan. Mulai dari karakter tokoh-tokohnya, kebenaran cerita sejarah itu sendiri, atmosfer peristiwa yang berlangsung saat itu, eksplorasi latar, dan hal-hal lain yang tentu membutuhkan kejelian tersendiri. Banyak orang yang usai menyaksikan film ini memberikan komentar positif. Selain tata artistik, musik, dan aksi para pemain yang menawan, film “Sang Pencerah” memiliki banyak kelebihan.
Adanya biola yang dimainkan oleh Ahmad Dahlan dalam film mengundang wacana di kalangan pengamat, baik pengamat film maupun para sejarawan. Di kalangan sejarawan, keberadaan biola dalam film tersebut dinilai suatu kesalahan kecil karena belum ada catatan sejarah yang secara eksplisit menyatakan Ahmad Dahlan yang waktu muda bernama Darwis tersebut piawai bermain biola. Namun, bagi si pengamat film, keberadaan biola justru dianggap sebagai nilai lebih yang menunjukkan kecerdasan pembuat film tersebut. Biola yang identik dengan budaya Barat adalah simbol bahwa sosok Ahmad Dahlan sangat terbuka dengan modernisasi. Adegan permainan biola yang sebenarnya terlihat sederhana, tetapi mengesankan kreativitas cerdas sutradaranya. Adegan tersebut adalah saat Ahmad Dahlan ditanya murid-muridnya tentang agama. Begitu ditanya apa agama itu, dengan piawai Ahmad Dahlan langsung memainkan biola. Analogi yang brilian tentang agama adalah dengan bermain biola. Apabila biola dimainkan dengan kecerdasan, maka akan tercipta sebuah melodi dan harmoni yang menenteramkan. Akan tetapi, jika bermain biola tanpa bekal pemahaman yang cukup, maka yang terdengar adalah ketidaknyamanan dan kekacauan. Begitu juga dengan beragama. Jika beragama tanpa ilmu yang cukup, maka yang tercipta adalah kekacauan.
Media film bukan sekadar ajang hiburan, tetapi lebih dari itu. Film menjadi sarana yang efektif untuk membelajarkan sejarah. Banyak orang, terlebih anak muda yang barangkali belum mengetahui sosok KH. Ahmad Dahlan akan mengenalnya dengan adanya film ini. Bagaimana beliau mempertahankan prinsip, mempunyai stratagei berdakwah dengan efektif, terlihat saat beliau melamar menjadi guru agama di sekolah Belanda. Bahkan, dengan menyaksikan film ini kita akan mengetahui bagaimana arah pergerakan organisasi Muhammadyah itu sendiri.
Bagi Hanung, film ini istimewa. Dalam sebuah blog pribadinya, Hanung Bramantyo mengaku bahwa membuat film agama adalah mimpi-mimpinya. Pernah ketika ia pamit pada ibunya untuk kuliah di Jakarta mengambil Jurusan Film, sang ibu berpesan agar kelak Hanung membuat film agama. Tidak salah,  Hanung terlihat begitu maksimal menggarap film-filmnya, terutama yang bernuansa religius. Selain itu, sebelum menyutradarai film “Ayat Ayat Cinta” yang juga cukup fenomenal, sebenarnya Hanung sudah lama ingin membuat film tentang Ahmad Dahlan, tetapi baru sekarang bisa terlaksana.
Wajar jika ada sementara orang yang menilai bahwa film ini berbau kampanye organisasi/partai tertentu. Terlepas dari itu, KH. Ahmad Dahlan adalah bagian dari sejarah Indonesia. Film ini tidak saja bercerita tentang Muhammadiyah, tetapi tentang Indonesia, tentang kita semua. Barangkali tidak cukup berasalan jika mencari-cari kesalahan dari sebuah karya yang memang sudah cukup bagus. Namun, satu hal yang barangkali menjadi koreksi film ini adalah membosankan karena durasi film yang panjang. Muatan cerita tanpa memertimbangkan dramatisasi  cenderung membuat orang bosan. Namun, salah satu hal mendasar yang berkesan dan akan kita dapatkan usai menyaksikan film ini adalah bagaimana keteguhan memegang prinsip dapat dijadikan motivator dan doa tersendiri dalam meniti setiap langkah kita. Itulah warisan berharga yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan.

Peresensi adalah mahasiswa Sastra Indonesia, juara III Kompetisi Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi 2010 kategori pustaka.

Bagikan informasi ini: