Bentar Manse Raih Juara Nasional

Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) kembali sukses mengukir prestasi di tingkat nasional. Pada Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) ke-6 di Politeknik Negeri Jakarta, satu-satunya tim dari UM sukses meraih juara di dua kategori sekaligus. Meski baru pertama kali tampil di ajang tersebut, tim Cremona Galleri Teknik Sipil UM yang terdiri dari Kuncoro Robert, Agus Safrudin, dan Sigma Wiramadhanesa ini berhasil merebut juara I di kategori struktur kokoh dan juara I kategori implementasi terbaik pada model Jembatan Bentang Panjang Pejalan Kaki.


Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Tahun ini KJI telah berlangsung pada  6-7 November 2010 di lapangan PNJ, kampus baru UI Depok. Ajang adu kreativitas ini ditujukan bagi mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia untuk memerebutkan Piala Reka Cipta Titian Indonesia. Mengambil tema Jembatan Kreatif dan Ramah Lingkungan, acara ini bertujuan mendorong dan menumbuhkembangkan kreativitas mahasiswa dalam bidang perancangan dan konstruksi jembatan.
Jika sebelumnya UM hanya mengirim tim peninjau, tahun ini tim UM mampu ikut serta dalam kompetisi. “Kalau UB, Polinema, dan UMM bisa ambil bagian pada ajang ini, kenapa kita tidak,” tandas Sigma. Berbekal semangat inilah, Kuncoro dan Sigma bertekad untuk bisa tampil di KJI. Meski belum pernah menempuh mata kuliah yang berkaitan dengan jembatan seperti mata kuliah struktur beton atau  struktur baja, hal ini tidak menyurutkan  langkah mereka.
Mulanya mereka bermaksud mengikuti dua model sekaligus, yakni model jembatan kayu dan bentang panjang. Namun, adanya kendala pada proses penyusunan proposal untuk jembatan kayu menyebabkan Kuncoro dan Sigma hanya mengirim proposal untuk model  bentang panjang. Setelah diumumkan lolos menjadi salah satu dari delapan peserta finalis jembatan bentang panjang, tim ini segera merealisasikan desain jembatannya.
Kontruksi jembatan yang sebagian besar terbuat dari aluminium ini diberi nama Jembatan Bentar Manse, “Jembatan Gantung sebagai Pintu Gerbang Utama Malang yang Aman dan Sehat”. Kata “Bentar”  di sini berasal dari frasa “Candi Bentar” yang banyak dijumpai di Jawa Timur sebagai gerbang pintu masuk kota atau kabupaten. Candi ini merupakan gapura berbentuk dua bangunan serupa dan sebangun tetapi merupakan simetri cermin yang membatasi sisi kiri dan kanan pintu masuk. Bangunan ini lazim disebut “gerbang terbelah” karena bentuknya seolah-olah menyerupai sebuah bangunan candi yang dibelah dua secara sempurna. Pemilihan Candi Bentar sebagai estetika dalam bangunan jembatan merupakan upaya Kuncoro dan Sigma untuk memberikan sentuhan etnis budaya Jawa Timur. Sementara kata “manse” merupakan akronim dari aman dan sehat. Jaminan aman diberikan karena struktur jembatan ini mampu menahan beban hingga 500 kg/m2. Sehat karena jembatan ini merupakan jembatan pejalan kaki yang  dilengkapi oleh sebaran kerikil refleksi untuk kesehatan sepanjang jembatan. Prototip jembatan berskala 1:100 dengan panjang 120 cm, lebar 5 cm, tinggi 24 cm, dan berat 3,5 kg ini dibuat selama lebih kurang 1,5 bulan. Beberapa kendala tentu mengiringi proses penyelesaian jembatan. Salah satunya yakni tidak tersedianya tempat bagi tim Kuncoro untuk membangun rancangannya sehingga dipilihlah base camp CreMONA Galleri di Gedung G3. Dengan arahan dosen pembimbing yang juga merupakan dosen Teknik Sipil, Dian Ariestadi dan Edi Santoso, Kuncoro dan Sigma akhirnya berhasil menyelesaikan jembatan.
Bersama seorang teman yang berperan sebagai admistrator, Kuncoro dan Sigma bertanding d Jakarta. Total 24 tim lolos sebagai finalis yang terbagi ke dalam tiga model, yakni jembatan baja, jembatan kayu, dan bentang panjang. Meski sempat mengalami krisis percaya diri saat kompetisi berlangsung, mengingat keikutsertaan mereka ini merupakan yang pertama, apalagi ditambah abstainnya dosen pembimbing  karena berhalangan hadir. Namun hal tersebut mampu mereka atasi sehingga tidak mengurangi penampilan saat presentasi di hadapan para juri.  Usai presentasi, juri melakukan penilaian menyeluruh pada jembatan peserta. Kriteria penilaian didasarkan atas unsur kekokohan/kinerja struktural, terindah, dan kesesuaian antara implementasi dengan rancangan awal.
Berbeda dengan desain jembatan peserta lain yang lebih menekankan pada aspek kekokohan, tim Kuncoro mengutamakan kesesuaian antara implementasi dengan rancangan awal. Hal inilah yang mengantarkan mereka meraih juara pada kategori implementasi terbaik. Selain itu,  juara I juga sukses direbut pada kategori struktur kokoh. Ketika ditanya tips jitu apa yang dimiliki tim Kuncoro untuk bisa tampil di KJI, “Percaya diri adalah modal utama. Tak kalah penting juga yakni arahan dari dosen pembimbing,” jawab Kuncoro.Num

Bagikan informasi ini: