Eksotisme Cagar Alam Pulau Sempu

Oleh Yulli Hariyani

Pulau kecil tak berpenghuni,
Berdiri untuk membangun perlindungan,
dengan segala keeksotisan alam,
Memberikan pengaruh untuk satwa liar yang sering menggumam.

Badai pagi begitu hebat dan mampu meruntuhkan pohon-pohon tua yang tumbuh menjulang. Suara gemuruh tiba-tiba bersahutan seolah-olah raungan yang siap menghantam. Pagi itu terasa sunyi. Sarang-sarang burung berjatuhan dan anak burung menangis karena berjauhan dengan induknya. Awan mengubah dirinya menjadi hitam. Menakutkan. Begitulah pagi hari pada Rabu, 12 Januari 2011 di Malang. Rasa takut menyelimuti sekerumunan batin dan raga. Namun, pendidikan konservasi yang sudah direncanakan oleh pengurus MPA Jonggring Salaka UM tak dapat ditunda maupun digagalkan. Program tetaplah program yang mesti dijalankan. SempatĀ  kebingungan menghantui, tetapi semangat konservasi memberi sedikit jalan terang.
Upacara pemberangkatan dimulai. Peserta konservasi Pulau Sempu dengan segala ritme suara ikut menyanyikan mars Jonggring yang dinyanyikan pagi itu. Setelah itu, hening kembali muncul dan mulai berdoa untuk kegiatan yang akan dilakukan. Tak lama kemudian, berangkatlah semua peserta dan panitia menuju Pulau Sempu.
Perlu diketahui, sebelum menginjakkan kaki di Pulau Sempu, sebagai mahasiswa UM yang taat administrasi, haruslah izin terlebih dahulu ke Dinas Kehutanan khususnya Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) dengan mengajukan surat izin masuk kawasan konservasi (simaksi). Dengan begitu, kami dapat menjadi konservasionis yang legal. Di dalam konservasi tersebut kami dibekali dengan berbagai macam ilmu sebagai dasar dalam Divisi Konservasi di MPA Jonggring Salaka. Materi-materi yang diberikan peserta meliputi, pengamatan insek, herbarium, pengamatan jejak kaki, pengamatan burung, dan analisis vegetasi. Materi-materi dasar tersebut harus dikuasai terlebih dahulu sebelum memasuki Divisi Konservasi. Pijakan harus kuat dan disertai motivasi tinggi dalam menjalankan konservasi.
Jalan berkelok-kelok memberikan sayup-sayup rasa ngantuk yang luar biasa. Sungguh empat jam perjalanan yang hebat karena setengah perjalanan, kami habiskan di mimpi-mimpi yang sempat terukir meski dalam hitungan jam. Tak terasa truk membawa di pantai Sendang Biru. Setelah menyerahkan simaksi kepada pihak BKSDA Pulau Sempu, perahu siap mengantarkan kami ke pulau kecil penuh eksotis. Perahu yang kami tumpangi bergoyang-goyang siap membawa ke seberang. Perahu kayu terlihat seolah mengeluarkan peluh untuk dapat mengangkutĀ  barang-barang di carier. Begitu malang perahu kayu itu. Tapi berkat kelincahannya kami dapat menyeberangi laut menuju Pulau Sempu.
Pantai Waru-waru, tempat pertama untuk langkah awal kami. Sudah lama rasanya tidak mempraktikkan ormed dengan peta yang telah dibawa. Setelah ormed, segera kami memasuki hutan. Sore mampu membawa kami dalam suasana hening. Langkah kaki memberikan irama merdu saat kami memasuki hutan. Nampaknya jalan setapak telah terlihat dengan jelas. Yakin bahwa kami akan sampai melewati jalan yang tepat. Rinai hujan orografis mulai mengiringi perjalanan kami. Jalan menanjak mampu terlewati. Begitu pula jalan yang dipenuhi halang rintang seperti pohon tumbang, aliran air, dan jalan licin, semua terlampaui. Berjalan, berlari, dan melewati halang rintang semua ada teknik pencapaian.
Telogo Lele, konon dinamakan Telogo Lele karena dahulu telaga itu banyak sekali lele. Karena banyaknya pemancing yang datang lele semakin habis dan sekarang tak ada satupun ikan lele yang mampu bertahan. Sekarang tinggal ikan cethol yang menghuni Telaga Lele beserta teratai di atasnya. Camp, bivack, tenda dibangun segera sebagai perlindungan. Peserta yang berjumlah dua puluh orang dan kebanyakan adalah anggota baru MPA Jonggring Salaka. Program konservasi ini merupakan program kerja pertama yang diadakan tahun 2011 ini. Kegiatan yang dikhususkan kepada anggota baru ini diharapkan mampu memberi jalan untuk membangun kembali Divisi Konservasi. Malam hari setelah makan malam, materi dasar konservasi disampaikan untuk membuka wawasan baru bagi diklat baru MPA Jonggring Salaka.
Pagi hari merupakan praktik dan aplikasi dari materi yang telah diberikan. Aplikasi pertama yaitu pengamatan burung. Dari pengamatan hari itu, ditemukan rangkong yang masuk famili Bucerotidae. Burung ini berukuran besar, berwarna hitam kecoklatan dan mempunyai paruh warna putih. Paruh besar dan panjang. Burung ini banyak hidup di tajuk pohon. Suara yang dikeluarkan burung ini berat dan terdengar keras. Dari tipe paruh yang diamati dengan teropong binocular, burung ini merupakan burung pemakan buah-buahan dan serangga kecil. Ada juga raja udang yang termasuk dalam famili Alcediniae. Burung ini berwarna terang dan berbulu metalik, paruh panjang dan kuat, kaki pendek.
Kedua merupakan pengaplikasian dari serangga yang hidup di air. Pengamatan ini dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kondisi air, dapat diminum atau tidak. Semakin banyak serangga atau binatang kecil yang ada di air, maka kualitas air akan semakin baik. Tapi jangan salah, indikator biologis kualitas air tawar yaitu jika kualitas air turun, maka keanekaragaman hewan air ikut turun juga. Bagaimanakah kualitas kondisi air jika dikatakan baik? Kualitas air dikatakan baik jika ada hewan-hewan seperti cacing, siput, nimfa capung, larva nyamuk sejati, larva lalat hitam, kumbang, cacing pipih dapat ditemukan di lokasi pengamatan.
Pengamatan ketiga yaitu pengamatan jejak kaki hewan. Pengamatan jejak ini hanya sedikit jejak kaki yang mampu ditemukan. Namun belum mampu terdeteksi karena adanya ketidakjelasan bentuk kaki. Selanjutnya yaitu herbarium. Pengawetan daun beserta tangkai sebagai dokumen dalam penelitian.
Hari kedua, kami pindah menuju Pantai Pasir Panjang. Saat sampai di Oro-oro Ombo, terlihat air membasahi padang tersebut dan menyebabkan perjalanan semakin panjang karena harus mengitari Oro-oro Ombo. Derajat kemiringan yang tajam membuat perjalanan kian terasa panjang dan melelahkan. Setelah beberapa jam perjalanan, tebing ada di depan mata. Itu merupakan titian yang harus dilewati. Satu persatu dengan berhati-hati panjatan mampu membawa kami di seberang pantai. Tiada bernama. Ombak bergulung-gulung dengan hebatnya. Pantai selatan tepatnya. Wuih, ngeri sekali!
Pantai Pasir Panjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini memanjang dan memiliki lansekap yang menarik untuk dipotret. Sebuah lukisan alam yang mampu membuka ketakjuban. Angin berhembus mampu menyejukkan pandangan sore hari di mulut pantai. Sedikit tawa renyah peserta konservasi mampu mengantarkan tidur kecil di hammock yang telah dipasang. Tenang, tenang, dan tenang. Malam telah tiba. Kegiatan selanjutnya yaitu refleksi dari hasil konservasi yang dilakukan di Telaga Lele.
Malam bertambah larut dan menyulap kami dalam dunia mimpi. Pagi hari yang cerah mampu memberikan usikan kecil untuk membuka tangan untuk berolahraga. Kami menamainya olahraga pantai. Gaya olahraga dengan sedikit sentuhan gerakan bermain ala pantai. Membuat terpingkal-pingkal. Selanjutnya setelah sarapan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan biota yang ada di pantai. Hewan dan tumbuhan. Meski hanya sedikit binatang-binatang aneh yang ditemukan, tapi mampu memberi penjelasan tentang biota pantai.
Hari ketiga, perjalanan kami lanjutkan menuju Segara Anakan. Seperti awal, jalan mempunyai derajat kemiringan yang ekstrem. Jadi, perlu kewaspadaan. Monyet senantiasa mengikuti gerak kami. Sesampai di Segara Anakan, monyet-monyet tersebut mengintai bekal yang kami bawa. Sekali lagi waspada. Taman surga, seperti itulah gambaran Segara Anakan. Surga dunia yang memberikan keeksotisan segara. Hijau, berkarang, asin, dan berpasir. Tampak suasana pantai. Bermalam di Segara Anakan pasti harus siap terkena badai. Hampir tiap malam, badai seolah-olah mengintai kawasan ini. Bahkan camp yang kami dirikan mampu terobrak-abrik dari ganasnya badai. Mengenaskan. Sore hari kami beranjak pulang melewati jalan setapak penuh lumpur menuju Teluk Semut. Pohon tumbang, hujan mengucur membasahi jalan dan dedaunan. Jalan sebagai akses pulang semakin licin. Di Teluk Semut, kami menunggu perahu. Menyeberanglah kami ke Sendang Biru.

Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia 2008 dan aktif di MPA Jonggring Salaka

Bagikan informasi ini: