Biologi UM Jaga Warisan Leluhur bersama Pokjanas TOI

Tanaman Obat dikenal masyarakat sebagai bahan tradisional untuk mengobati penyakit. Tak heran jika nenek moyang zaman dulu memiliki setumpuk resep jamu dari tanaman obat meskipun belum tahu pasti  biologi dan kimiawi penyusunnya. Kini, resep itu terus diturunkan dari generasi ke generasi sebagai warisan budaya. Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) Tanaman Obat Indonesia (TOI) terus menyoroti setiap hal tentang tanaman obat, baik penggalian (etnobotani), penelitian, dan pengembangan, serta pemanfaatannya. Bersama dengan Jurusan Biologi UM, Pokjanas TOI kembali mengadakan seminar nasional dan pelatihan Pokjanas TOI XXXXI dengan menyorot khusus pada manfaat tanaman pulutan (Urena lobata) dan legundi (Vitex trifolia).
Selama dua hari (Rabu dan Kamis, 5-6 Oktober 2011), acara yang mengusung tema “ Eksplorasi, Konservasi, Pengembangan, dan Penggunaan Tanaman Obat Indonesia” ini secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Suparno selaku Rektor UM. Dengan menghadirkan sembilan orang pemateri, seminar dibagi dalam dua sesi, hari pertama dan hari kedua. Perpaduan budaya, kemitraan, saintifikasi, dan pendekatan holistik dikemas apik oleh empat pemateri pada hari pertama yang berlangsung secara pleno di Aula FMIPA UM. Keempat pemateri tersebut ialah Prof. Dr. H. Suparno (Rektor UM), Drs. H. Nyoto Wardoyo, Apt. (Direktur Utama PT Deltomed Laboratories), Prof. Dr. H. Suwijiyo Pramono (guru besar Fakultas Farmasi UGM), dan Prof. Sutiman B. Sumitro, DSc. (Dekan Fakultas Saintek UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).
Di gedung O5 Jurusan Biologi, para peserta seminar berkesempatan menjadi pemakalah pada sidang paralel yang digelar setelah seminar. Sidang dimulai pada pukul 13.00-15.30 WIB yang terbagi pada dua sesi, hari pertama dan kedua sesuai dengan kelompok topik yang dipilih. Ada tujuh kelompok topik yang dipersidangkan, yaitu Vitex trifolia, Urena lobata, anti kanker, Analisis dan ekstraksi, anti bakteri dan virus, etnobotani, dan kelompok lain. Peserta juga berkesempatan memamerkan poster tentang hasil penelitiannya di lobi Jurusan Biologi. Tampak salah satu poster yang menarik perhatian dengan sajian gambar mikroskopis milik Endang Kartini A.M. dengan judul “Struktur Anatomi Organ Vegetatif Pulutan (Urena lobata Linn)”.
Pada hari kedua, sentuhan kebijakan-kebijakan pemerintah disajikan oleh Ir. Yul H. Bahar sebagai perwakilan dari Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian. Kajian obat tak terlepas dari peran teknologi, maka Zacky Irvan dari WHO Indonesia dengan lugas menjelaskan management herbalnet digital repository. Dr. Zainal Gani hadir sebagai perwakilan pengusaha yang berhasil mengolah virgin coconut oil (VCO) dengan cara menarik. Tak ketinggalan perwakilan dari penggerak PKK kota Malang, Ibu Fitri Yudha Wastuning yang secara antusias menjelaskan pemberdayaan perempuan dalam pemanfaatan jamu. Kegiatan pelatihan pengolahan tanaman obat oleh perwakilan dari Materia Medika menambah kelengkapan serangkaian acara ini. Praktik yang dilakukan di antaranya membuat manisan jahe, olahan lidah buaya, dan minuman sari pulutan.
Terdapat pesan khusus yang dapat ditangkap dalam acara ini bahwa butuh waktu yang panjang untuk menjadikan tanaman obat sebagai primadona di negara sendiri. Hal ini karena 80% bahan baku industri obat alami Indonesia masih berupa tumbuhan liar dan jarang orang yang memiliki lahan khusus untuk membudidayakannya. “Dibutuhkan peran serta bangsa dan negara (berbagai kalangan -rep.) untuk bersama-sama mem-follow up terus program Pokjanas TOI untuk pelestarian pusaka nenek moyang kita,” ujar Prof. Sutiman di tengah-tengah diskusi ketika seminar berlangsung.

Jul

Bagikan informasi ini: