Graha Cakrawala: Menembus Batas Normal

Graha Cakrawala sebagai wadah apresiasi

Dua maskot kera putih menyambut setiap orang yang hendak memasuki Graha Cakrawala sejak Senin (21/11) lalu. Kedua kera tersebut adalah bagian dari dekorasi acara November Art 2011 yang digelar selama tiga hari berturut-turut. Acara yang mengusung tema “The Pieces of Piece” ini merupakan serangkaian kegiatan seni yang diadakan oleh HMJ Seni dan Desain UM.

Graha Cakrawala dipenuhi oleh puluhan karya seni yang berasal dari UM dan beberapa perguruan tinggi lain seperti UNY, UNS, ISI, dan UNJ. Jenis karya yang dipamerkan pada No­vember Art 2011 ini bervariasi, mu­lai karya lukis, grafis, mix media, 3D, video, hingga instalasi. Salah satu karya unik dalam acara ini adalah ola­han vector ber­gambar Rektor UM di stan WPAP yang langsung terlihat saat pertama memasuki Graha Cakrawala.

Sejak pagi hingga malam, pengunjung berdatangan untuk melihat dan menikmati karya-karya yang dipamerkan di Graha Cakrawala. An­tusias masya­ra­kat, baik dari da­lam dan luar UM me­mang sangat besar. Pe­la­jar, masyarakat se­ki­tar, dan komunitas-ko­mu­nitas seni berbaur da­lam November Art 2011. Selain pameran, aca­ra yang dipersiapkan se­jak beberapa bulan se­be­lumnya ini juga diisi dengan workshop fotografi dan videografi, bedah karya, November Night Bombing, semarak tarik ulur, sarasehan nasional, dan seni pertunjukan. Rangkaian acara ditutup dengan Sedesa Rock ‘n Roll dengan bintang tamu Tani Maju dan beberapa grup musik terkenal lainnya.

“Kami sangat berterima kasih karena Graha Cakrawala ini sangat membantu dan secara teknis sangat memadai,” jawab Agustya Nur Prayuda, Ketua Pelaksana November Art 2011 ketika ditanya mengenai fasilitas yang tersedia di Graha Cakrawala. “Harapan kami ke depannya ingin menumbuhkan minat seni di lingkungan nonseni sekalipun, terutama di kota Malang,” lanjutnya.

Kemeriahan Graha Cakrawala dengan acara bernuansa seni memang mewarnai akhir tahun ini. Rabu (30/11) lalu, Graha Cakrawala kembali digemparkan dengan konser eksklusif yang diadakan oleh PSM SSC bertajuk Orchestra Nite. Panggung Graha Cakrawala seolah disulap menjadi sebuah panggung orkestra megah, lengkap dengan kombinasi tata panggung dan penempatan properti yang harmoni.

Dalam acara yang berlangsung sekitar empat jam ini, ribuan penonton dibuai dengan suara merdu panduan suara SSC yang dikomandoi oleh Harmen Daniel Pigawahi. Berbalut busana bernuansa putih, tim yang pernah menjuarai berbagai ajang tarik suara ini membuka konser dengan lagu “Sabda Alam” yang dilanjutkan dengan sembilan lagu lainnya.

Acara ini juga menghadirkan bintang tamu Vidi Aldiano yang membawakan delapan lagu bersama SSC. Dengan diiringi oleh Cakraswara Orchestra, pelantun lagu “Nuansa Bening” ini berhasil membuat Graha Cakrawala bergemuruh dengan teriakan histeris para penonton.

Tidak mau kalah, pada Sabtu (03/12), Program Studi Tata Busana UM kembali memanaskan Graha Cakrawala. Dalam acara Malang Fashion Moment (MFM) ini, puluhan desainer muda dari Jurusan Teknik Industri UM memamerkan karya terbaik mereka. Satu persatu busana dipamerkan dihadapan penonton yang juga dinilai oleh juri. Model-model anggun berjalan di atas panggung secara bergiliran sesuai dengan enam tema busana dalam acara bertema “Remix Cosmic Trend Fashion 2012”. Tema busana tersebut yaitu origanic, colourfull, cartography, craftlore, chimera, dan mineral yang memiliki ciri khas masing-masing. Tema busana origanic misalnya, busana yang ditampilkan bernuansa lipatan-lipatan seperti hasil origami Jepang.

Masing-masing desainer mendapatkan trophy berwarna emas sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya mereka yang telah ditampilkan. Sembari menunggu sidang juri untuk menentukan beberapa kategori terbaik, penonton dihibur oleh bintang tamu Vierra. Baru saja naik ke atas panggung, empat personil band ibukota tersebut disambut dengan teriakan histeris Vierrania dari tribun Graha Cakrawala. Kemeriahan pun terus mengalir hingga menjelang tengah malam, pada lagu terakhir, penonton bahkan nekat mengerubungi panggung yang sebelumnya dijaga ketat oleh panitia dan anggota keamanan untuk melihat lebih dekat Kevin Aprilio dan kawan-kawan.

Graha Cakrawala sebagai aset sekaligus fasilitas

Tidak bisa dipungkiri, peran Graha Cakrawala sejauh ini bukan hanya sebagai wadah apresiasi, melainkan juga sebagai aset utama bagi UM. Penggunaan Graha Cakrawala ini pun bukan hanya untuk kepentingan warga UM saja, tapi sebagaimana fungsinya sebagai aset UM, gedung ini juga banyak disewakan kepada pihak luar untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Dengan luas lebih dari 4.356 m2, lengkap dengan segala fasilitasnya, aset yang satu ini telah memberikan banyak pemasukan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Aset Graha Cakrawala baru dikelola secara sistematis pada Juli 2011. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak administrasi Graha Cakrawala, gedung tersebut tercatat telah banyak digunakan dalam berbagai acara besar berskala nasional. Sebuah acara yang tentunya masih bisa dikenang hingga kini adalah pementasan Opera Van Java yang diadakan beberapa bulan lalu. Walaupun administrasi gedung saat itu belum sesistematis sekarang, tapi berkat kerja sama berbagai pihak, akhirnya acara tersebut berlangsung sukses. Selain pagelaran tersebut, berbagai acara seperti konser Gigi dan Festival Jajanan Bango pada Juli lalu juga turut mendorong pencitraan dan promosi nama UM sehingga semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Berbagai acara besar yang diadakan di Graha Cakrawala tentunya tidak membuat UM lupa untuk menempatkan kepentingan warga UM di atas pihak luar. Dengan keringanan biaya sewa hingga 50%, gedung ini juga bisa difungsikan oleh warga UM untuk berbagai kepentingan. Selain berbagai kegiatan yang sempat disebutkan tersebut, kegiatan intern kampus juga tetap jadi prioritas utama, sebut saja Pentas Aplikasi Teater Pelangi oleh HMJ Sastra Indonesia dan pembukaan PKPT pada bulan Juli, Wisuda UM pada September 2011, dan berbagai seminar organisasi mahasiswa yang diadakan sepanjang tahun ini. Sebagai salah satu fasilitas kampus, Graha Cakrawala siap mewadahi semua kegiatan berskala besar tersebut agar dapat terlaksana dengan baik.

Terlepas dari peran Graha Cakrawala tersebut, gedung yang berlokasi di Jalan Gombong ini memang layak jika disebut prestisius. Dengan kapasitas hingga 8.000 orang, gedung ini juga dilengkapi fasilitas yang cukup memadai. Hanya dengan menyewa gedung, pengguna sudah bisa menikmati fasilitas seperti area parkir basement dan area parkir central park (+ 500 mobil), loket, toilet, dapur yang luas, ruang rias, ruang transit, dan gudang. Semua itu belum termasuk fasilitas gedung lainnya seperti AC, genset, lighting, smoke, sound system, WIFI, CCTV, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak pihak yang menjadikan Graha Cakrawala sebagai pilihan utama.

Penggunaan gedung tentunya bukan tanpa resiko. Dengan fasilitas yang disebutkan tersebut, tentu banyak hal yang perlu dipikirkan agar keindahan gedung ini tetap terjaga. Walaupun sudah dikenai beban sewa, pengguna pun diminta untuk menjaga semua fasilitas yang ada di dalam gedung. Selain itu, dengan berbagai spesifikasi tersebut harus ada tenaga khusus yang bertugas untuk memastikan semua yang ada di dalam gedung ini berada dalam kondisi baik. Itulah alasannya mengapa gedung ini membutuhkan petugas khusus.

Secara teknis, Graha Cakrawala dikelola oleh seorang manager operasional yang saat ini dijabat oleh Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn. Sejauh ini, kurang lebih 30 orang, termasuk tenaga administrasi, teknisi, cleaning service, dan satpam telah dipersiapkan secara khusus untuk gedung ini. Secara resmi semua tenaga yang mengatur operasional Graha Cakrawala ini mulai bertugas sejak Juli 2011 dan memang dipersiapkan khusus, mengingat pengelolaan Graha Cakrawala ini sangat kompleks sehingga membutuhkan tenaga-tenaga yang profesional.

Graha Cakrawala yang “berbeda”

“Berangkat dari ide beyond the normal, Graha Cakrawala menjadi gedung yang memiliki daya tarik luar biasa. “Extraordinary building,” demikian Prof. Dr. Suparno, Rektor UM menjelaskan sekilas mengenai Graha Cakrawala. Graha Cakrawala merupakan sebuah gedung serbaguna UM yang mulai dibangun pada tahun 2007. Gedung seluas 9.677 m2 ini dibangun dengan harapan dapat menjadi simbol kebanggaan bagi UM dan masyarakat kota Malang. Oleh sebab itu, komponen-komponen gedung ini memiliki nilai kultural, filosofis, dan inspiratif yang mendalam.

Graha Cakrawala dipilih sebagai nama karena memiliki arti rumah dan tempat tinggal terhormat (graha) yang didalamnya tumbuh subur dan berkembang wawasan dan cita-cita pengajian dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni setinggi cakrawala yang memiliki dimensi tanpa batas. Pada hakikatnya, pengembangan ilmu-ilmu tersebut bersifat relatif dan terbuka untuk perkembangan yang baru, seperti akademisi, ilmuwan, dan teknolog yang terus mengaji dan mengembangkan temuan-temuannya.

Kandungan nilai kultural dan filosofis tersebut membuat Graha Cakrawala menjadi salah satu aset UM yang memiliki kekuatan dan sumber inspirasi. Jika dihubungkan dengan UM sebagai The Learning University, Graha Cakrawala merupakan sumber inspirasi bagi civitas akademika UM untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan target tidak terbatas dan cita-cita setinggi langit yang berangkat dari wawasan seluas cakrawala.

Keunikan lain dari gedung berlantai empat ini adalah konsep dasar arsitektural yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan atau form follow function. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan segi delapan yang merupakan gabungan dari fungsi sebagai gedung serbaguna yang berbentuk lingkaran dengan bentuk persegi yang berpadu dengan gedung-gedung lain di UM. Pola tribun dan balkon yang mengelilingi aula utama Graha Cakrawala adalah bentuk fungsional pada bangunan serbaguna. Dengan bentuk ini, Graha Cakrawala memiliki daya tampung penonton yang besar sebagai tempat pertemuan dan pertunjukan. Bentuk ampiteater pada balkon juga mendukung kenyamanan visual bagi penonton.

Bentuk kolom bundar berukuran besar pada Graha Cakrawala mengesankan kekokohan bangunan yang berpadu secara fleksibel dengan komponen lain di dalam gedung. Dengan bahan smartruss metalroof yang ringan, atap gedung dibuat dengan bentuk atap joglo seperti bangunan-bangunan lain di UM. Rangka atap dibuat dengan model rangka ruang, yaitu sistem rangka struktur yang menunjang dimensi bentangan bangunan yang sangat lebar untuk menginformasikan kepada pengunjung tentang penggunaan teknologi yang sesuai dengan perkembangan ilmu konstruksi bangunan. Dinding bangunan pun dibuat dengan dinding akustik untuk meredam suara dengan bahan dari limbah kertas ramah lingkungan sebagai penyerap bunyi yang dilapisi dengan penutup kain serat khusus.

Penutup lantai Graha Cakrawala menggunakan material kayu jati kelas hara yang merupakan bahan lantai yang sesuai dengan aktivitas beberapa cabang olahraga. Selain lantai, kayu jati kelas hara juga dipakai untuk pegangan pagar pada balkon dan panggung serta material pintu masuk. Pemilihan material ini merupakan suatu bentuk penghargaan atas warisan nenek moyang yang berupa tanaman kayu jati. Disebut warisan karena kayu jati yang siap dijadikan material berasal dari pohon yang telah berusia ratusan tahun. “Apa yang terpikir oleh nenek moyang kita ketika menanam kayu jati selain menyiapkan bekal untuk anak cucunya? Kayu jati dari menanam sampai tumbuh dan siap dipakai membutuhkan waktu lama. Tidak mungkin nenek moyang kita menanam untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu kita harus menghormati mereka,” ujar Bapak Parno tentang makna dari kayu jati sebagai material Graha Cakrawala. Di samping makna filosofis yang mendalam, kayu jati kelas hara memang kuat dan memiliki serat yang indah.

Untuk dapat masuk ke ruang utama Graha Cakrawala, terdapat tiga pintu dari arah yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk memecahkan pemusatan sirkulasi sesuai dengan standar keamanan sebuah bangunan. Sistem keamanan dari kebakaran juga disiapkan pada gedung ini yang meliputi keamanan dari bahaya kebakaran dari dalam gedung dan luar gedung dengan menggunakan hydrant system yang didukung mobil tangki air UM. Mengantisipasi adanya petir, Graha Cakrawala dilengkapi dengan instalasi penangkal petir elektrostatis dengan kabel sebagai penghantar dan grounding.

Sesuai dengan prinsip pembangunan kampus di taman, Graha Cakrawala pun dikelilingi oleh taman yang indah. Di sekitar gedung ini terdapat berbagai jenis tanaman pilihan seperti tanaman lontar. Pemilihan tanaman lontar ternyata tidak sembarangan, filosofinya adalah menghargai dan mengenang nenek moyang yang dahulu menulis di daun lontar. Pohon lontar yang ditanam merupakan salah satu gambaran bahwa gedung ini dibangun dengan mempertahankan kultur tanpa meninggalkan unsur-unsur modern. Graha Cakrawala dibangun berdekatan dengan fasilitas kegiatan potensial UM lain seperti stadion, lapangan tennis indoor dan ourdoor, Sasana Krida, dan Guest House. Di samping itu, akses paling dekat dengan gedung ini adalah gerbang Jalan Veteran yang berseberangan dengan salah satu fasilitas bisnis terkenal di kota Malang.

Graha Cakrawala di mata mereka

Kebaikan dan manfaat Graha Cakrawala, baik secara langsung maupun tidak langsung akan berimbas pada warga UM. Mahasiswa, dosen, dan karyawan secara tidak langsung akan merasakan manfaat tersendiri dengan adanya gedung ini. Hal inilah yang diungkapkan oleh Mardiah, mahasiswa Ekonomi Pembangunan 2007. Menurutnya, keberadaan Graha Cakrawala ini sangat bermanfaat karena menjadikan UM sebagai salah satu lokasi pilihan untuk mengadakan acara-acara besar.

“Keberadaan Graha Cakrawala membuat UM sering dijadikan lokasi pengadaan event besar. Mungkin manfaat yang bias dirasakan adalah mahasiswa dapat lebih dekat dengan berbagai kegiatan yang bermutu,” ungkap Mardiah.

Lain lagi dengan pendapat Dyah, mahasiswa BKP 2009 yang menyatakan bah­wa manfaat gedung Graha Cakrawala ini lebih mengarah pada pencitraan kampus. Keberadaan gedung ini diakuinya memang berhasil menarik banyak orang untuk ber­bondong-bondong mengadakan kegiatan di UM, tapi dia sendiri berharap agar semua itu tidak sampai mengorbankan kepentingan warga UM sebagai subyek utama yang harusnya diprioritaskan.

“Perkembangan gedung ini sepertinya lebih ke pencitraan kampus aja. Sayangnya sekarang lebih banyak digunakan untuk mengundang artis karena aktivitas mahasiswa memang justru kurang di sini. Harapannya ya supaya gedung ini bisa digunakan untuk mahasiswa semaksimal mungkin,” ungkap Dyah.

Menurutnya, memang diakui bahwa masih sedikit mahasiswa yang mengadakan kegiatannya di sini. Kemungkinan, salah satu faktor penyebabnya adalah speksifikasi gedung yang memang sangat tinggi. Hingga saat ini, belum banyak kegiatan mahasiswa yang tarafnya sebanyak kapasitas gedung yang mencapai 8000 orang. Dengan adanya gedung ini, semoga bisa memotivasi warga UM untuk menggelar acara yang lebih besar sehingga gedung ini benar-benar bermanfaat bagi warga UM secara menyeluruh.Ris/Yas

Bagikan informasi ini: