Melancong ke Gili Ketapang

Oleh Mustawan


Mbaknya nanti tidur di tempat saya saja. Mas-masnya biar tidur di ruang Puskesmas.
Fiuh…, akhirnya jelas juga nasib kami.Tawaran seorang ibu muda yang bertugas sebagai mantri di Puskesmas Pembantu Gili Ketapang tentu sangat sayang jika kami tolak. Bayangan bakal tidur beralaskan pasir pantai dan beratap langit serta menyaksikan gerhana bulan yang diperkirakan akan mulai terlihat pukul sembilan malam WIB kami buang jauh-jauh.
Perjalanan kali ini memang meleset dari rencana awal. Kami yang tergabung dalam UKM MPA Jonggring Salaka UM berencana mengikuti kegiatan konservasi laut dan pantai yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Pulau Gili Ketapang bersama LSM dari Surabaya gagal kami ikuti karena tidak ada kontak dari mereka. Jadilah kami membuat acara sendiri dengan persiapan yang sangat minim. Tidak ada tenda, bahkan selembar flysheet yang dapat difungsikan untuk membangun bivak sederhana pun tidak kami bawa. Untunglah perbekalan yang kami siapkan dapat menjamin keselamatan kami beberapa hari ke depan walaupun tidak dapat menjamin kenyamanan.
Cahaya matahari senja yang tersisa mengantarkan kami menjejakkan kaki di dermaga pelabuhan di sisi utara pulau. Tanpa dikomando, kami mengekor ibu mantri yang kami kenal selama 40 menit perjalanan di atas perahu kecil untuk menuju rumah beliau. Kesan pertama yang kami dapat dari pulau ini adalah kepadatan pemukimannya yang cukup tinggi. Maklumlah, pulau yang hanya seluas 68 hektar ini dihuni kurang lebih 8.000 jiwa menurut pendataan tahun 2010.
Menyusuri gang demi gang di pulau ini tak ubahnya seperti terjebak dalam labirin. Pemukiman penduduk begitu padat. Satu lagi tentang pulau ini yang pasti membuat Anda akan terkesan adalah populasi domba dan kambing yang mungkin jauh lebih banyak dari penduduknya. Setiap jalan pasti akan kita temui domba yang dilepas begitu saja oleh pemiliknya. Pakan domba-domba tersebut hanya dedaunan kering yang jatuh dan tidak jarang mereka mengonsumsi sampah rumah tangga mengingat pulau ini merupakan pulau karang yang gersang dan minim vegetasi dengan ketebalan tanah yang sangat dangkal.
Walau cuaca pagi itu tak terlalu bagus, kami tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengksplorasi keadaan pulau yang terletak di lepas pantai utara kota Probolinggo ini. Kami memutuskan untuk memulai menjelajah ke arah selatan yang menghadap Pulau Jawa untuk selanjutnya bergerak ke arah timur dan berbalik ke barat dengan menyusuri pantai utara pulau ini. Dengan rute ini, kami akan mengeksplorasi separuh sisi pulau bagian timur. Pagi itu, laut sedang surut sehingga kegiatan eksplorasi bisa mengakses karang-karang yang jauh dari tepi pantai. Sayangnya terumbu karang di sisi selatan dan juga di sisi lain pulau ini telah hancur walau masih ada satu dua karang kecil yang masih menunjukkan pertumbuhan.
Di antara karang yang hancur masih dapat kami temukan beberapa spesies ikan karang yang terjebak, juga teripang, bulu babi, landak laut, siput laut, dan lain-lain. Beberapa terumbu akarang yang kami temui masih menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan. Hal ini memberikan harapan bagi usaha-usaha rehabilitasi terumbu karang. Sayang usaha-usaha rehabilitasi itu nampaknya akan sangat sia-sia apabila tidak diikuti dengan usaha rehabilitasi pemikiran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang.
Perjalanan sesi pagi kami akhiri di dermaga pelabuhan setelah sebelumnya kami singgah di Gua Kucing yang terletak di ujung timur pulau. Gua yang konon pernah disinggahi oleh rombongan Sunan Giri dalam perjalan menuju Kerajaan Blambangan. Konon setiap malam Jumat Legi, dari dalam gua terdengar suara kucing, bahkan dari sumber warga sekitar yang kami temui menyatakan bahwa setiap malam itu keluar dari dalam gua ratusan kucing. Pada malam itu pula, gua ini ramai dikunjungi peziarah yang ingin mendapatkan berkah.
Ratusan ikan karang nan cantik berebut biskuit yang kami tebarkan dari atas dermaga, pemandangan yang sangat unik dan menghibur. Nampak perairan di sini masih cukup bersih walaupun sampah di sana sini. Maklumlah masyarakat yang tinggal di pinggiran pantai menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir. Bukan hanya untuk sampah rumah tangga, melainkan kotoran manusia. Itulah kenyataan yang kami temui.Sepanjang penyusuran dapat dengan mudah kami saksikan para penduduk sedang menjalankan ritual paginya. Sebenarnya kebiasaan yang demikian sudah sangat tidak relevan mengingat air bersih dari PDAM sudah tersedia sejak tahun 2009. Mungkin masih perlu menunggu beberapa tahun lagi untuk melihat kebiasaan buruk tersebut hilang di pulau itu.
Setelah makan pagi dengan ikan bakar yang disediakan oleh keluarga ibu dan bapak mantri, petualangan kami lanjutkan dengan menyisir sisi barat pantai. Kami akan mengeksplorasi keadaan laut beserta karang-karangnya dengan bermodalkan tiga set alat snorkeling. Kemampuan snorkeling kami sebenarnya hanya sekadar pernah mencoba, bahkan beberapa belum pernah mencoba. Jadilah kami harus minum beberapa teguk air laut sebagai konsekuensinya. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menguasai teknik snorkeling sehingga petualangan pun berlanjut di dunia yang sangat berbeda.
Cukup banyak jenis ikan karang yang teramati. Beberapa koloni bulu babi juga dapat ditemukan di perairan sisi barat pulau ini. Sisi barat laut dari pulau ini bernasib sedikit lebih baik kerena tidak banyak sampah rumah tangga yang mencemari perairan dan pantainya. Hal ini didukung dengan fakta bahwa pemukiman masih relatif jarang. Di ujung timur ada sebuah bentukan alam unik, yakni sebuah gosong pasir putih yang muncul berbentuk sabit. Tampak di seberang Gunung Lemongan, Gunung Argopuro, dan Pegunungan Tengger berdiri dengan gagahnya. Kamera saku kami beraksi untuk mengabadikannya.
Sebuah pengalaman luar biasa kembali masuk dalam album kenangan kami. KeĀ­hangatan sambutan penduduknya menjadi penyejuk cuaca pulau yang panas. Karang-karang yang menuntut uluran tangan kita agar nasibnya diperbaiki telah menorehkan kenangan mendalam dalam batin kami. Semoga ketika kami ditakdirkan kembali mengunjungi pulau ini, mereka telah tersenyum menerima nasib yang lebih baik. Semoga.
Penulis adalah mahasiswa Teknik Elektro 2010 dan anggota UKM MPA Jonggring Salaka

Bagikan informasi ini: