Dari Layar Digulung hingga Sapu Diangkat

Siang itu (04/06), kumandang zuhur telah berlalu. Sengatan surya yang menghujani kulit masih menggebu. Kami, lima orang kru Komunikasi bergegas menuju area FMIPA. Sebab, di sanalah kami akan menemui sesosok pria yang telah membuntuti rasa penasaran kami. Sosok yang telah menghanyutkan dirinya selama 22 tahun dalam hal kebersihan UM sehingga pada peringatan hari Lingkungan Hidup yang  jatuh pada 5 Juni, kami sungguh ingin mengenalinya secara lebih dekat.
Sosok itu ialah Wandi (46) warga Tegalweru, Kabupaten Malang yang sejak 1990 lalu telah menjadi petugas kebersihan UM. Kami menemuinya di gedung yang menjadi markas para petugas yang mengurusi halaman dan taman UM. Gedung itu berada di Jalan Gombong. Setelah melewati samping gedung UM Press yang di sebelahnya tertancap kokoh pohon maja,  kami bertemu dengan bapak dua anak itu. “Dulu di UM masih banyak lahan kosong, tidak seperti sekarang. Gedung Rektorat juga masih berupa rawa,” ujarnya sambil menerawang, mengawali perbincangan.
Wandi memulai kariernya sebagai petugas kebersihan harian. Dua tahun berselang, lelaki legam ini ‘naik pangkat’ menjadi Wakil Kepala Urusan (Wakaur) Halaman dan Taman (Haltam) UM. Sejak 2006 lalu, ia bahkan sudah resmi menjadi PNS. Kala itu memang ada pengangkatan PNS bersama untuk orang-orang yang memiliki pengabdian tinggi. Tidak ada hari libur baginya kecuali  Ahad dan hari libur nasional. Sekitar pukul 05.15 WIB, ia berangkat dari rumah menuju UM yang membutuhkan waktu ± 30 menit. Lusinan pekerjaan seperti memotong rumput, menyapu jalan, dan mengumpulkan sampah dari tiap sudut UM dikerjakan Wandi beserta anak buahnya. Sampah-sampah tersebut kemudian dipisahkan menjadi sampah kering dan sampah basah. Sampah kering dialihkan ke TPS sebelah selatan FIP, sedangkan sampah basah dibuang di TPA.
Sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan UM, Wandi berprofesi sebagai pemutar film keliling. Ia acapkali singgah dari kota ke kota seperti Blitar, Lumajang, Probolinggo untuk memenuhi panggilan memutar film. Namun, pekerjaan Wandi yang ketika itu berusia 25 tahun ternyata tidak sekadar memutar film agar penonton dapat menonton dengan nyaman. Sebelum film naik layar, ia bersama pegawai lainnya harus menyensor film terlebih dahulu. “Dulu pernah diprotes di daerah Sumbermanjing karena kelalaian belum nyensor film,” kenangnya sambil tertawa. Siang hari sebelum layar tancap digelar, ia juga harus keliling daerah yang bersangkutan sembari promosi dengan speaker untuk menarik penonton. Selepas itu, ia bersama kru lainnya menyiapkan berbagai peralatan show. Waktu pemutaran film berkisar mulai pukul 19.30—21.30 WIB.
Munculnya salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini membuat penonton layar tancap sedikit demi sedikit mulai berkurang. Usaha pemutaran film mulai surut dan kemudian benar-benar padam, tak terkecuali juragan film di mana Wandi ikut bekerja yang akhirnya terpaksa gulung tikar. Inilah titik yang kemudian mengantarkan Wandi menjejakkan kaki di UM. Memulai pekerjaan baru dari pemutar film keliling menjadi petugas kebersihan. “Pertama kali kerja di sini dulu, ya tahun 1990 itu, gaji saya Rp1.750 per hari,” ungkapnya. Dengan gaji tersebut, Wandi mengaku masih belum bisa menabung. Jumlah nominal tersebut sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari. Wandi muda memutar akal dengan cara mencari tambahan pekerjaan, yakni mendatangi rumah beberapa dosen untuk menawarkan jasa kebersihan.
Bekerja keras untuk mengisi pundi rejeki sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia tahu betul bahwa uang tidak datang dengan mudah, tapi dengan cucuran keringat dan tetesan lelah. Ketika di bangku SMP pun, Wandi sudah merasakan kerasnya hidup. Ia bekerja di ladang milik orang untuk tambahan biaya sekolah. Upahnya mencangkul ladang sedari pukul 06.00—12.00 WIB adalah Rp500. “Saya dulu pengen sekolah tinggi. Waktu itu saya sekolah di kota, ibu saya sakit keras, jadi saya terpaksa harus pulang. Seminggu, dua hari saya izin kepala sekolah untuk macul. Buat sekolah dan bantu ibu,” ceritanya dengan bibir gemetar. Tidak hanya membiayai sekolahnya sendiri, Wandi juga berjuang membiayai sekolah adiknya mulai dari kelas II SMP hingga jenjang SMA.
Bagi anak kedua dari tiga bersaudara ini, menimba ilmu adalah sebuah keharusan. Meskipun banyak orang di zaman dahulu yang masih kolot dengan tidak mementingkan sekolah, Wandi tak gentar. Ia sudah terlanjur berprinsip bahwa pendidikan akan berguna untuk perkembangan zaman. “Orang tua saya tidak termasuk yang kolot. Mereka mendukung saya sekolah, tapi tidak punya biaya. Bagi saya, lebih baik berjuang dulu daripada menyesal di belakang,” ujarnya mantap. Pria yang hobi di bidang pertanian ini juga bertekad agar jangan sampai nasib serupa dialami putra-putrinya. Tekadnya menjelma doa yang mewujud menjadi nyata. Kini  anak pertamanya berhasil duduk sebagai mahasiswa Tata Boga UM.
Obrolan dengan Pak Wandi semakin akrab. Kami mengintip jam yang ternyata sudah bergulir menuju pukul 13.15 WIB. Lima belas menit lagi Pak Wandi beranjak pulang. Sekali lagi dengan alasan menuntaskan rasa penasaran, kami mohon izin untuk bersilaturahmi ke rumahnya. Ia menyambut ramah dan kami sumringah.
Dengan dua motor, kami mengikuti Katana Pak Wandi yang lincah menerobos jalanan padat siang itu. Sekitar sepuluh menit kemudian, jalan yang kami lewati mulai sepi. Tidak ada lagi ruko, berganti dengan ladang tebu dan pepohonan rindang di kanan kiri. Suasana pedesaan yang ramah semakin terasa ketika memasuki desa Tegalweru, Dau. Semakin jauh kami melaju, semakin dingin udara terasa. Semakin terjal pula jalanan berangkal batu dan pecahan kerikil yang kami lewati. Dari balik jendela mobil yang terbuka, sesekali Pak Wandi menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya di sepanjang jalan. Sulitnya melintasi jalanan berbatu tidak lagi dirasakan oleh Pak Wandi. Maklum, di desa inilah Pak Wandi lahir dan dibesarkan.
Sampai di rumah, senyuman hangat istri Pak Wandi, Bu Sulismiyati menyambut kami. Rumah ini seolah menjadi saksi bisu kerja keras Pak Wandi sejak masih bekerja menjadi pemutar film. Sedikit demi sedikit Pak Wandi menyisihkan penghasilan untuk merenovasi rumah peninggalan orang tuanya. Kini, rumah bercat kuning ini terasa nyaman untuk disinggahi. “Monggo, Mbak,” ujar Bu Sulismiyati sambil menyuguhkan teh panas dan dua piring jeruk di meja ruang tamu. Ibu berbaju biru itu pun turut menemani Pak Wandi berbincang bersama kami. Pak Wandi pun bercerita bahwa saat masih bekerja di pemutaran film dulu, dirinya berangkat ke Oro-Oro Dowo dengan berjalan kaki dari rumah selama dua jam. Kini, Katana hitam yang terparkir di depan rumah itulah yang menemaninya pergi dan pulang bekerja.
Jauh dari rumahnya, Pak Wandi memiliki ladang yang ditanami tebu. Ladang yang panen setiap setahun sekali itu sekarang dijaga oleh kuli. Jika masa panen tiba, tebu-tebu dari ladang Pak Wandi dibawa ke pabrik gula Kebon Agung untuk diolah. Kami iseng menanyakan bagaimana pendapatnya mengenai kesadaran mahasiswa UM terhadap kebersihan. Dalam pandangannya, kesadaran mahasiswa UM akan kebersihan masih kurang. UM telah membuatnya jatuh hati. Kecintaannya ini membuatnya tidak beralih ke pekerjaan lain. Sekalipun dalam pandangannya, kesadraan mahasiswa UM akan kebesihan masih minus. “DI UKM itu ada mahasiswa yang melempar sampah dari jendela. Waktu itu saya lihat, tapi ya gimana mau negur tapi jumlahnya banyak.”
Gaji kecil bukan masalah bagi Wandi. Sedikit demi sedikit dia menyisihkan hasil keringatnya tiap bulan. Tidak sia-sia, kini  anak pertamanya berhasil duduk sebagai mahasiswa Tata Boga UM.
Matahari siang yang di awal pertemuan kami dengan Pak Wandi tadi masih memancar garang, kini perlahan surut pertanda bahwa senja akan menggulirkan sinarnya yang lebih lembut. Kami pun mengakhiri perbincangan dengan Pak Wandi. Sebelum pergi, Bu Sulismiyati memasukkan jeruk-jeruk di piring tadi ke dalam kresek untuk kami bawa. Agak rikuh kami menerima bungkusan tersebut, “Kok repot-repot, Bu.” Dan kami pun pulang dengan membawa sekantung jeruk serta sekeranjang pelajaran hidup dari desa Tegalweru hari itu.Nurul/Trias/Lailil/Rima/Dio

Bagikan informasi ini: