Wakil Komandan Satpam UM: Nyentrik tapi Tegas

Nyentrik: Bapak Arif (tengah) saat bertugas sebagai Wakil Komandan Satpam UM

Turun dari trail  hitam, Bapak Arif Witjacksono bertemu kru Komunikasi yang telah menunggu di Posko Keamanan.  Meski butir-butir keringat masih mengalir di peta wajahnya, dengan seutas senyum ramah Bapak Arif menyapa kru Komunikasi. Diiringi alunan lagu “Alamat Palsu” yang dikumandangkan biduanita Ayu Ting Ting dari radio di ruang berukuran sekitar 4 x 5 m, kru Komunikasi memulai percakapan.
Wakil Komandan yang karib dipanggil Bapak Arif ini telah asam garam berprofesi sebagai keamanan selama hampir 15 tahun. Dari pengabdiannya sebagai Satuan Pengaman (Satpam) UM, Bapak Arif berharap mampu memberi dukungan penuh pada putra-putrinya untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Dengan berucap  syukur, baginya berkarir sebagai satpam telah cukup untuk menghidupi rumah tangga yang dibangunnya dengan harmonis. Pada umurnya yang ke-42 tahun, masih ada niat yang terselip dalam dirinya untuk bisa melanjutkan studi S1. Menurut Bapak Arif, usia tak mampu menghalanginya untuk senantiasa menimba pengetahuan.
Menjadi seorang satpam bukan pilihan utama Bapak Arif.  Cita-citanya yang masih lekat teringat adalah menjadi seorang tentara atau polisi. Usahanya untuk menjadi pilar keamanan diawali dengan mendaftar sebagai tentara dan polisi. Lima kali  gagal dalam seleksi masuk menjadi tentara dan polisi, akhirnya Bapak Arif memutuskan berprofesi sebagai satpam. Perumahan dosen di Tidar yang notabene cukup elite  menjadi saksi awal pengabdian Bapak Arif sebagai petugas keamanan.
Lambat laun, karirnya semakin meningkat. Meskipun cita-cita menjadi tentara atau polisi tak mampu terwujud, tetapi keinginannya untuk tetap mengabdikan diri sebagai petugas keamanan tetap dapat diraihnya. Bagai gayung bersambut, tawaran menjadi satpam di kampus The Learning University merupakan kisah awal sang wakil komandan memulai pengabdian.
Bekerja sebagai satpam ternyata lebih menguatkan niatnya untuk  menciptakan keamanan kondusif di lingkungan yang edukatif, khususnya di kampus UM. Pada mulanya, Bapak Arif hanyalah seorang satpam biasa yang bekerja di UM. Namun, karena semangat kerja, pengabdian, serta loyalitas yang begitu besar ketika menjalankan tugas, ia menduduki posisi wakil komandan, tugas yang diembannya hingga saat ini.
Kedudukannya sebagai wakil komandan mengharuskan dia untuk mengawasi kinerja para anggota satpam. Terkadang Bapak Arif harus memberikan pembinaan khusus bagi para anggota yang lalai dalam bertugas. Ketika menghadapi anggota yang mangkir dari tugas, ia tidak segan-segan menindaknya dengan memberikan pembinaan secara khusus.  Di sinilah ketegasan dan kesabaran Bapak Arif diuji. Namun, tindakan ini harus tetap diiringi dengan sabar dan bijaksana agar nasihat yang disampaikan mampu diterima dengan baik oleh anggotanya.
Seperti  saat kru Komunikasi kembali memperoleh kesempatan untuk  mengunjungi markasnya (28/06),  terlihat ia sedang memberikan pembinaan terhadap tiga anggota satpam di ruangannya. Dengan sabar, Ia memberi kesempatan pada tiga anggotanya tersebut untuk menjelaskan secara langsung penyebab dari kelalaian mereka ketika tengah bertugas. “Saya sengaja memanggil mereka di ruangan saya hari ini karena saya tidak ingin menegur mereka dihadapan teman-temannya. Kami harus tetap saling menghargai,” ungkapnya. Selain contoh pembinaan khusus tersebut, secara umum pembinaan rutin juga diberlakukan  bagi seluruh anggota satpam UM setiap dua bulan sekali.
Selain ramah dan tegas, Bapak Arif dikenal sebagai sosok yang eksentrik oleh para anak buahnya. Hal tersebut dibuktikan dengan sebuah kacamata hitam yang selalu bertengger manis di atas kepalanya. Kacamata itu senantiasa menemani Bapak Arif bertugas, terlebih saat siang hari ketika matahari sedang berdiri lurus di atas ubun-ubun.
“Pak Bapak Arif itu orangnya luar biasa gaul dan eksentrik. Ya seperti yang baru saja anda lihat,” ujar Eka, salah satu satpam yang sedang berjaga di Jalan Semarang. Dalam bekerja, Ia penuh semangat dan tegas. Kemampuannya dalam menjaga hubungan baik pada atasan dan bawahan patut diacungi jempol. Ia bukanlah orang yang hanya menghormati atasan, tapi keras tatkala menghadapi bawahan. Namun, Bapak Arif adalah orang yang bisa menghormati siapa saja, baik atasan, rekan kerja, maupun bawahannya.  Hal tersebut dikuatkan dengan pernyataan dari Iwan Budiono selaku pembina petugas parkir UM. “Bapak itu orangnya tegas. Dia juga mampu menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan yang lain,” jelasnya.
Terkadang, agar tidak bosan saat bekerja, sesekali pria bertubuh tegap ini menyempatkan diri untuk berpatroli menggunakan sepeda sembari berkunjung ke anggota lain yang sedang  bertugas. Ia memilih bersepeda daripada mengendarai motor dengan pertimbangan selain lebih sehat, juga sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Baginya, berpatroli menggunakan sepeda merupakan salah satu wujud nyata yang dilakukan sebagai usaha untuk mengurangi polusi udara di area kampus.
Ketika dikunjungi kru Komunikasi, Bapak Arif juga menunjukkan kegemarannya tersebut. Sengaja kru Komunikasi mengikuti dari belakang dan menyusuri sebagian rute patroli yang biasa dilewatinya. Dimulai dari kantornya di posko, ia mengayuhkan sepeda menuju Pos Penjagaan Jalan Semarang.  Selama perjalanan, senantiasa terdengar tegur sapa dari rekan kerjanya yang sedang  bertugas. Bukan hanya rekan kerja, tapi beberapa pegawai bahkan dosen terlihat akrab menyapa Bapak Arif.  Terkadang di tengah perjalanan patrolinya, Bapak Arif menyempatkan diri membantu rekannya ketika menjalankan tugas, seperti membantu mengatur  parkir di salah satu area kantong parkir UM.
Lebih dari satu dekade pengabdiannya di UM membuatnya pandai menanak risau. Salah satu pengalaman yang membekas dalam benak Bapak Arif adalah saat ia harus berurusan dengan tindak kriminal. Saat itu, dari berbagai informasi yang diperoleh membuatnya menuduh dan mengambil tindakan untuk menghakimi secara fisik seorang pemuda.  Namun, karena bukti tidak mendukung, pemuda itu dinyatakan tidak bersalah. Dengan demikian Bapak Arif mau tidak mau harus mempertanggung jawabkan kesalahannya. “Kita siap disalahkan dan siap untuk tidak mengulangi kesalahan lagi,” tuturnya sembari membetulkan letak kacamata hitam di atas kepalanya. Pelajaran berharga yang diperolehnya menjadikannya lebih bijaksana dalam bertindak.
Ada senang, pasti ada susah. Itulah yang Ia rasakan selama menjadi satpam di UM. Berinteraksi dengan senior dan berkomunikasi dengan staf di saat bertugas tentu menjadi hal yang paling menyenangkan. Namun, tak jarang ia juga merasa sedih. Kesedihan ini muncul ketika menemui mahasiswa yang melanggar peraturan, terlebih melanggar secara disengaja. Pelanggaran yang disengaja oleh beberapa mahasiswa menjadi kesusahan tak hanya bagi Bapak Arif, tetapi juga bagi satpam UM pada umumnya. Terkadang ada juga sikap mahasiswa yang kurang berkenan baginya, juga satpam yang lain. Misalnya mahasiswa yang sengaja menyodorkan uang seratus ribu rupiah ketika ditarik karcis masuk. Jelas-jelas ini menjadi sindiran secara tidak langsung bagi para petugas yang berjaga di pintu gerbang UM. “Kan tidak wajar, kalau harga karcis yang hanya lima ratus rupiah dibayar dengan selembar uang seratus ribu rupiah dan meminta kembalian,” kenang Bapak Arif.
Menjadi satpam tidak hanya menjaga keamanan kampus. tapi yang juga tak kalah penting adalah menjaga hubungan kekeluargaan dan kekompakan antaranggota. Untuk itulah satpam UM juga pernah mengadakan berbagai acara yang dikemas dalam bentuk hiburan atau rekreasi. Contohnya pada 2010, pernah dilaksanakan acara gebyar musik berlandaskan prinsip “Dari Satpam, oleh Satpam dan untuk Satpam”.  Bapak Arif berharap acara seperti ini dapat diselenggarakan lagi dalam waktu dekat untuk mempererat  tali persaudaraan antaranggota satpam UM.
Ketika diwawancarai oleh kru Komunikasi, Bapak Arif juga menjelaskan mengenai sedikit gambaran umum satpam UM. Menurutnya, hal tersebut perlu disampaikan untuk menjaga hubungan baik dan relasi yang dekat serta terbuka  antara satpam sebagai petugas kemanan dengan mahasiswa sebagai sivitas akademika UM. Total anggota satpam UM saat ini berjumlah 161 anggota dengan rincian satpam PNS (senior) sebanyak 55 orang dan satpam honorer sebanyak 106 orang.  Saat ini satpam UM sedang melakukan  proses penyesuaian karakter dalam meningkatkan kinerja agar tidak terkesan menyontek dari keamanan kampus lain. Salah satu cara yang dilakukan adalah memberlakukan satu  pintu untuk jalur masuk dan keluar pada malam hari, yaitu gerbang Jalan Semarang dengan tujuan untuk memperketat pengamanan.
Terkait dengan peraturan yang telah dibuat oleh kampus, masih ada mahasiswa yang melakukan pelanggaran.  Sebut saja parkir liar yang masih sering ditemukan di area depan gedung Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK), depan gedung Fakultas Sastra (FS) dan sepanjang jalan di Fakultas Teknik (FT). Mahasiswa berkilah karena ingin dekat dengan tempat tujuan. Namun tanpa disadari hal itu justru dapat menyusahkan satpam dalam melakukan pengawasan.
Satpam berupaya mengatasi masalah tersebut dengan dua metode, preventif dan represif. Metode preventif dilakukan dengan mengajak unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa  (ormawa) untuk berembuk mengenai keamanan kampus, khususnya membahas aturan parkir, karcis, dan jam parkir.  Apabila mahasiswa masih melanggar, satpam akan menindak dengan cara mengusir bahkan menggembosi kendaraan yang tidak pada tempatnya.
Bapak Arif mewakili seluruh satpam UM berharap agar ke depannya mahasiswa lebih peduli untuk turut menjaga keamanan kampus. “Semoga mahasiswa tidak memarkir kendaraanya di sembarang tempat dan senantiasa bekerja sama dengan pihak keamanan kampus  apabila menemukan pelanggaran dan gangguan di sekitar kampus, seperti adanya pemulung, pengamen, pengemis, dan pedagang kaki lima yang berkeliaran di area kampus UM,” pungkasnya mengakhiri perbincangan. Royyan/Ardi/Anum/Juliyatin/Alfin

Bagikan informasi ini:

One Comment

  1. alhamdullillah

    semoga bisa menjadikan contoh bagi satpam-satpam baru yang ada

    terutama kesopanan bagi satpam penjaga gate/pintu keluar… terutama satpam di pintu keluar jalan ambarawa

    mohon maaf,
    mereka apabila disenyummi ato disapa… mereka petugas satpam pintu keluar ambarawa kelihatan kurang akrab ato … maaf … sombong
    bahkan dibalas senyum saja… tidak

    mohon diamati sebelum diambil tindakan yang baik bagi mereka agar tidak terjadi fitnah

    karena ini pengalaman saya saat keluar lewat gate ambarawa

    mungkin beda dengan pengalaman yang dialami orang lain

    terima kasih

    semoga UM menjadi panutan

    /saran mahasiswa