War of Art: Ketika Seni Diperangkan

Lukisan, musik, tari, kerajinan, dan teater, semuanya menyatu dalam satu kata. Perang. Inilah War of Art, sebuah pameran seni karya anak bangsa yang digelar selama tiga hari (12—14/07). Riuh rendah alunan reggae bergemuruh dalam pembukaan ajang unjuk seni itu. Berlokasi di parkir sebelah selatan Graha Cakrawala, sebuah stan kesenian berukuran sedang berdiri di samping panggung, tanda dipertontonkannya acara yang didalangi oleh UKM Sanggar Minat (Samin) UM.
Dalam sambutannya, ketua pelaksana, Andri, mengungkap, “Perang itu nggak selalu negatif. Ini adalah perang yang diambil dari sisi positif. Mengajak kalian berperang bukan untuk saling menumpahkan darah hingga terjadi tragedi hilangnya nyawa. Tapi kucuran darah di sini maksudnya adalah kreativitas sehingga dengan adanya perang ini, kita akan senantiasa terpancing untuk membuat sesuatu yang baru.”
Acara bertajuk Berperang untuk Bersatu itu sempat menyedot perhatian orang-orang yang kebetulan melintas di samping lokasi. Pasalnya, tatkala iringan gamelan jawa dan seni tari disuguhkan dalam pembukaan, tidak hanya mahasiswa saja yang mampir untuk melihat lebih dekat, bahkan orang-orang yang notabene berseragam formal rela berdiri di depan panggung dan meluangkan waktu sejenak menyaksikan pertunjukan serta mengabadikannya dalam kamera pribadi. Suara tepuk tangan seketika membahana tatkala rentetan acara pembuka usai.
Berbagai karya rupa dipampang dalam stan, di antaranya adalah lukisan realis, drawing, kerajinan korek bekas, desain, gambar komik, dan batik. Tidak hanya warga Samin yang memamerkan karya mereka, berbagai komunitas seni di Malang dan Surabaya turut membaurkan karya.
“Perang ini berfungsi untuk mempersatukan komunitas seni tanpa terkecuali, termasuk anak jalanan. Melalui acara ini, teman-teman Samin tidak hanya belajar berorganisasi saja, tetapi diharapkan semangat berkarya mereka akan semakin tumbuh dan meningkat. Sedangkan inti dari kegiatan ini adalah demi menjaga keharmonisan, dalam hal ini di bidang seni,” papar Arif, Ketua Samin ketika menjelaskan  prospek acara.
Samin pun turut meng­undang UKM lain, seperti Sanggar Tari Karawitan, IPRI, Teater Hampa, dan Opus untuk mengisi acara. Dalam kon­sep acara tersebut, terdapat  keunikan baru. “Pada hari kedua, kami mengadakan Game War. Ini semacam hiburan dari teman-teman Samin sendiri. Berpura-pura jadi patung, lalu kalo dikasih koin, joget. Ada juga Meja Gambar. Di sini semua orang tanpa kecuali bebas untuk mengikuti workshop kecil dan belajar menggambar di dalam stan. Untuk jenis gambar sesuai dengan masing-masing genre yang terdapat di dalam stan-stan kecil yang berjajar dalam satu atap. Hari terakhir ada Mural Bareng. Jadi semua orang tanpa kecuali bisa menorehkan gambar apa pun pada lahan putih yang telah disiapkan di sebelah panggung,” ungkap Arif.
Pada akhir wawancara, Arif menambahkan bahwa semua orang harus pernah menikmati seni dan tiap orang pastilah punya penilaian yang berbeda. Namun, dalam perbedaan itu semuanya menyatu dalam satu kata, “seni”.  Jangan pernah beranggapan bahwa seni itu mahal. Pengerjaan total yang berasal dari hati pastilah akan menghasilkan karya yang maksimal, karena dalam seni tidak ada yang jelek.Rima

Bagikan informasi ini: