Bidikmisi: Meretas Jalan Hidup

Rumahnya satu jam dari Malang kota. Tepatnya di daerah Plaosan, Kecamatan Wonosari, Malang Selatan. Dalam perjalanan menuju lokasi, kru Komunikasi menikmati setiap detik perjalanan. Tak sejengkal pemandangan pun terlewatkan. Mata serasa dibuai dengan panorama khas pedesaan. Padi yang mulai menguning dan merunduk padat berisi. Suara penggiling padi berpadu dengan deru  truk-truk pengangkut batang-batang tebu yang segera menjadi kristal putih manis di pabrik gula.
Panorama itu membuat perjalanan kami menuju Gunung Kawi begitu menyenangkan.  Kami turun tepat di Jalan Sidodadi 10 RT 7 RW 2 di rumah seorang mahasiswa Teknik Elektro 2010 UM yang berkesempatan mengenyam pendidikan melalui Program Undangan Bidikmisi UM.
“Monggo Mbak, masuk sini, ya begini ini rumah ndeso,” ujar seorang ibu yang belakangan diketahui bernama Sunarmi. Ia adalah ibunda dari Ali Afan, putra tertua dari tiga bersaudara yang kru Komunikasi wawancarai mengenai titik balik kehidupannya setelah mendapatkan Bidikmisi UM tahun 2010.
Tidak lama kami duduk, Bang Ali, sapaan akrab pria kelahiran Malang, 31 Agustus 1991 tersebut menceritakan bagaimana dia bisa melanjutkan kuliah. Kuliah secara gratis tanpa merepotkan bapaknya yang dua minggu ini me­rantau ke kota metro­politan, Jakarta. Sang ba­pak mencari nafkah dengan meng­andalkan kemampuannya membuat bakso, sedangkan ibunya membantu perekonomian keluarga dengan berjualan makanan kecil di salah satu sekolah dasar di Wonosari.
“Ceritanya, sekolah saya, SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, dulu mendapat undangan Bidikmisi dari UM. Sekolah saya termasuk kategori sekolah yang bagus, saingan berat SMK RSBI,” ujar Ketua Bidang Kegiatan Umum FUSI BEM FT dan pengaktif di kegiatan BDM Al-Hikmah UM. “Saya sudah melamar dua pekerjaan di Hotel Graha Kartika dan Indo Marco, tidak ada pikiran untuk melanjutkan kuliah saat itu. Baru saat ada tawaran dan pengumuman dari sekolah, saya mencoba daftar Bidikmisi UM,” lanjutnya.
Setelah magang tiga bulan dan bekerja dua minggu di Hotel Graha Kartika, pengumuman Bidikmisi dipublikasikan melalui internet. Melalui pengumuman tersebut, pemenang juara II lomba Desain Maskot BEM FT ini dinyatakan menjadi penerima Bidikmisi di Jurusan Elektro UM. “Pada awalnya saya bingung, antara kerja atau kuliah. Akhirnya saya memilih kuliah, selain biaya masuknya gratis juga dapat tunjangan hidup Rp600.000 per bulan. Dibandingkan dengan lulusan SMK yang bekerja, minimal UMR hanya satu juta saja,” ungkapnya.
Saat ditanya mengapa memilih kuliah dibandingkan kerja, ibunya ikut mengomentari perbincangan kami, “Ya kan orang tua itu harapannya jangan sampai anaknya sengsara seperti orang tuanya, kalau bisa pendidikannya juga harus lebih tinggi. Ali ini dari dulu memang pinter, Mbak. Dari SD sudah kelihatan dia,” tambah ibunya. Keterangan tersebut diperkuat dengan beberapa daftar prestasi yang diraih, di antaranya adalah juara IV desain logo BEM FT dan PMW didanai  2011 mengenai Briket Sampah, serta PMW didanai 2012 mengenai Bisnis Anggrek Online.
Menurutnya, Bidikmisi sangat membantu dalam mengubah hidupnya dengan memberikan kesempatan mengenyam kuliah gratis. Dengan tunjangan Bidikmisi pun, kebutuhan perkuliahan bisa terpenuhi, termasuk menunjang keberhasilannya selama ini. Saat ditanya bagaimana bisa menjadi entrepreneur seperti sekarang, pria manis berkulit sawo matang itu menjawab sambil diiringi senyuman, “Sebenarnya, saya termotivasi dari Bapak saya yang pekerja keras. Tahun 1998, bapak saya menjadi pedagang gorengan hingga sebelum keberangkatannya ke Jakarta kemarin.”
Berbeda dengan Bang Ali yang mendapat Bidikmisi dari undangan Bidikmisi SMK 2010, Dita Suci Novia Riski, mahasiswa baru 2012 Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi itu mendapat beasiswa Bidikmisi melalui jalur SNMPTN Undangan Bidikmisi 2012. Ditemui di rumah kontrakannya yang sederhana di Jalan Jombang, ia bercerita bahwa menjadi mahasiswa adalah impiannya. Ibunya sempat ragu, pendapatan bapaknya yang hanya sebagai buruh kebersihan di salah satu rumah di kawasan Banyuwangi tidak mungkin mencukupi biaya masuk dan biaya hidup selama kuliah. “Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan dari ketiganya, hanya saya yang kuliah,” ucapnya sambil menunduk. Saat kru Komunikasi berkesempatan melihat berkas-berkas persyaratan verifikasi Bidikmisi, terselip beberapa fotokopi penghargaan dari SMAN 1 Glagah, Banyuwangi yang menyatakan bahwa putri dari pasangan Safari dan Hulasoh itu menjadi juara paralel saat SMA. Tidak heran jika prestasi yang diusahakan selama tiga tahun itu mampu mengantarkannya menuju gerbang perkuliahan. “Nggak bisa bayangin Mbak, kalau saya tidak lolos undangan Bidikmisi kemarin, saya mungkin gak kuliah. Alhamdulillah Bidikmisi ini sangat membantu.”
Beberapa sertifikat pe­latihan PKM dan pelatihan motivasi dari UM untuk mahasiswa penerima Bidikmisi APBN ia simpan dalam map berwarna biru. “Sebagai bukti kepada bapak dan ibu kalau saya kuliah tidak main-main, Mbak,” tuturnya sambil merapikan rambut belah tengahnya. Saat disinggung mengenai uang Bidikmisi yang telah cair, dia menyampaikan, “Uangnya masih utuh, saya simpan untuk beli buku yang penting. Selama ini buku-buku kuliah saya pinjam dari kakak kelas. Nanti kalau ada yang benar-benar penting baru beli.”
Di kamar kontrakannya, terpajang sebuah gitar yang membuat kru Komunikasi ingin menelisik lebih jauh mengenai mahasiswa yang saat ini menjadi salah satu panitia lomba Olimpiade Ekonomi 2012 UM. Ternyata, mahasiswa yang akrab dipanggil Dita itu hobi bermain gitar dan sempat menjadi vokalis band SMA-nya serta pernah masuk dalam sepuluh besar Lomba Band seeks-Karisidenan Besuki.
Hobinya kini ia salurkan dengan mengikuti Lembaga Semi Otonom (LSO) Simple di FE.
“Saya tidak ingin menyia-nyiakan ke­sempatan ini, Mbak. Saya ingin berprestasi dengan mendapat IP  bagus dan saya juga tertarik ikut PKM. Lebih-lebih, saya bisa membanggakan orang tua saya. Rumah saya jauh dari kata sempurna, tanpa kulkas dan hanya tungku kayu. Saya ingin mengangkat derajat hidup bapak dan ibu di Banyuwangi.”
Kisah lain mengenai penerima bidikmisi datang dari mahasiswa UM yang berasal dari kota Madiun, kota yang dielu-elu sebagai Kota Gadis (perdagangan dan industri). Binti Choirum Mukarromah namanya. Perjalanannya menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Inggris UM 2012 bisa dikatakan tidak semulus perjalanan mahasiswa lain.
Selulusnya dari SMA tahun 2010, dia tidak langsung mengenyam bangku kuliah, tetapi menghabiskan waktu satu tahun untuk menjalani profesi sebagai pengasuh bayi di Jember. Cibiran dari majikan yang sempat mengerdilkan semangatnya untuk kuliah berhasil ditepisnya dengan selalu percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk mimpinya.
Sastra Inggris UM adalah jurusan yang diidam-idamkannya sedari dulu. Alasannya mulia, yakni jika lulus nanti dia ingin kembali ke Madiun dan mengabdi menjadi guru di MI Sailul Ulum Pagotan Madiun, sekolahnya dulu. Dia ingin menjadi guru yang mampu mengubah paradigma MI-nya dulu, apalagi di bidang bahasa asing.
Sebulan lebih dia telah tinggal di kota Malang. Sebagai mahasiswa baru tentu bukan hal mudah baginya, apalagi hidup jauh dari keluarga yang sudah kehilangan figur seorang ayah. “Ayah saya meninggal karena penyakit liver saat saya kelas satu MA dulu. Ibu saya pekerja serabutan. Sangat sulit untuk mendapat biaya kuliah saat itu, Mbak,” curhatnya dengan gamblang tanpa rasa gengsi.
Terlebih lagi dia harus sebisa mungkin mengontrol finansialnya agar tidak kehabisan sebelum waktunya. “Mahasiswa Bidikmisi harus pintar-pintar mengatur uang, Mbak, harus perhitungan. Kalau ndak gitu bisa runyam, Mbak, kasihan kalau harus mengeluh ke umi saya,” paparnya sambil mengurai tawa.
Saat ditanya bagaimana bisa berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi, Airum, panggilan akrabnya menerangkan bahwa saat menjadi pengasuh bayi di Jember, dia masih sempat berkomunikasi dengan adik kelas di MA-nya dulu. Ketika mendengar ada kesempatan beasiswa Bidikmisi untuk kuliah, dia langsung tertarik dan berusaha keras untuk mendapatkannya.
Saat dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya karena ingin kuliah, majikan Airum sempat mencibirnya. “UM itu kampus yang bagus. Apa bisa kamu masuk sana?” kata sang majikan menurut cerita Airum. “Saya merasa sangat disepelekan, Mbak, tapi saya justru termotivasi untuk membuktikan bahwa saya bisa. Saya belajar soal-soal TPA dari teman.” Dengan persiapan yang serba mendadak akhirnya Airum bisa mengikuti tes dan dinyatakan diterima.
“Untuk mengirit, saya lebih memilih jalan kaki ke mana-mana, Mbak, biar uangnya ndak cepat habis. Selain itu, biar badan juga sehat. Saya sering sakit-sakitan soalnya, Mbak,” tambahnya. Seperti yang telah ia paparkan, kekebalan tubuh Airum lemah. Dia seringkali pingsan di kelas. Terlebih ketika Ia sedang stres dan lelah.
Airum divonis menderita skoliosis atau yang lebih dikenal dengan kelainan tulang belakang. Tulang belakang Airum membentuk huruf S dan hal tersebut berpengaruh pada organ tubuh lain dalam dirinya. Ia pun sempat terkena TBC dan kelainan jantung. Itulah yang menyebabkan Airum sering pingsan di kelas. “Penyakit itulah yang membuat saya dulu ndak kuat kerja, Mbak. Saya, kan kerja sehari semalam menemani anak majikan saya. Mereka sangat aktif dan saya sering kewalahan. Tapi walaupun sakit saya tetap semangat kuliah, Mbak. Alhamdulillah teman saya di kelas baik-baik, kalau saya pingsan ditolong sama mereka.”
Gadis kelahiran 1993 tersebut mempunyai dua saudara, yaitu seorang kakak laki-laki yang saat ini sedang menggeluti bisnis tauge, sedangkan adiknya masih duduk di bangku SD. “Meskipun kami orang ndak mampu tapi kami ingin mengubah hidup keluarga, Mbak. Terutama saya, saya ingin adik saya nanti bisa lebih baik dari saya. Dia bisa sekolah di sekolah negeri dengan fasilitas yang cukup dan bisa kuliah,” paparnya. Di ujung perbincangan Airum mengatakan bahwa motivasi terbesarnya untuk bisa meraih cita-cita adalah almarhum sang Ayah. Beliau pernah berkata padanya, bahwa dia harus terus sekolah, kuliah, dan sukses. Itulah yang membuat gadis yang bermimpi ingin menjadi guru tersebut selalu semangat untuk kuliah.
Demikianlah kisah hidup tiga mahasiswa UM yang memperoleh kesempatan untuk melanjutkan kuliah dengan bantuan beasiswa Bidikmisi. Bagi mereka, beasiswa semacam itu sangat membantu. Tak hanya membuka peluang untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah, tapi juga membantu mereka untuk meretas masa depan yang lebih baik.Wida/Tanty

Bagikan informasi ini: