Sepuluh Warna dalam Satu Bingkai Cerita

Judul     : Sanubari Jakarta
Penulis    : Laila Lele Nurazizah
Penerbit    :  Gramedia Pustaka Utama
Tahun    : 2012
Tebal    : 151 + VI halaman
Peresensi    : Hisyam Eko

Sepuluh cerita pendek yang me­nawarkan cerita berbeda. Kesepuluh cerita tersebut, antara lain “½”, “Malam Ini Aku Cantik”, “Lumba-lumba”, “Terhubung”, “Kentang”, “Pembalut”, “Menunggu Warna”, “Untuk A”, “Topeng Srikandi”, dan “Kotak Musik”. Kesepuluh cerita dikemas manis dalam satu bingkai, Sanubari Jakarta.
Antologi cerita pendek karya Laila ‘lele’ Nurazizah ini merupakan antologi cerpen yang bertema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang unik. Kenapa? Karena di setiap cerita dibawakan dengan cara yang berbeda. Sebelum dibukukan, Sanubari Jakarta merupakan kumpulan film pendek yang disutradarai oleh sepuluh sutradara dalam setiap ceritanya dan diproduseri oleh Lola Amaria dan Fira Sofani. Pada awal April,  Sanubari Jakarta ini resmi diluncurkan.
Sanubari Jakarta. Dari judulnya tentu pembaca bisa sedikit meraba apa yang ada di dalam bingkai cerita ini. Cerita yang mengetengahkan kaum minoritas dari sisi lain. Cerita ini berusaha memaknai rasa cinta yang sesungguhnya.
“½” menjadi cerpen pembuka dalam buku ini. Cerpen “½” menceritakan ten­tang hasrat seorang laki-laki yang mencintai laki-laki. Abi membuat dunia dengan menciptakan kepribadian se­orang perempuan bernama Anna. Keduanya sama-sama menjalin hubungan dengan Biyan. Namun, perlakuan Biyan kepada keduanya berbeda. Sebagai seorang heteroseksual Biyan lebih tertarik kepada Anna ketimbang Abi. Sampai pada suatu ketika kita disadarkan pada suatu kejadian yang ternyata itu semua adalah imajinasi Abi. Cerita yang tidak biasa. Sangat tepat jika cerpen ini diletakkan di awal sebagai cerpen pembuka dalam Sanubari Jakarta.
Cerita unik lain dalam Sanubari Jakarta adalah cerpen yang berjudul “Lumba-lumba”. Cerita ini mengisahkan seorang guru TK  bernama Adinda yang selalu menceritakan ten­tang lumba-lumba kepada muridnya. Sampai suatu ketika Adinda bertemu dengan ibu salah satu murid ke­sayangannya yang ternyata  adalah seorang lesbian. Adinda pun menjalin hubungan dengan perempuan tersebut. Pada saat mereka makan malam, suami perempuan tersebut datang dan perempuan itu memperkenalkan Adinda sebagai guru anaknya di sekolah, bukan sebagai kekasih gelapnya. Uniknya, di akhir cerita sang suami mendapatkan pesan singkat dari seseorang yang telah menunggunya di motel. Seseorang tersebut adalah seorang lelaki pula.
Sanubari Jakarta ditutup dengan se­buah cerpen transgender yang apik  berjudul “Kotak Musik”. Sebuah kotak musik mengingatkan Rouben kepada sosok lelaki yang selalu diperolok dengan sebutan bencong saat masih kecil. Saat ini lelaki tersebut telah menjelma menjadi sosok perempuan yang cantik dan menjadi kekasihnya. Cerita ini memang pas jika diletakkan sebagai penutup kisah Sanubari Jakarta.
Ketika kita membaca cerita-cerita dalam buku ini, kita seperti dibawa ke sebuah ruangan yang memiliki banyak dimensi cerita. Pembawaan yang santai dan mudah untuk dinikmati. Namun, dalam Sanubari Jakarta juga terdapat beberapa cerpen yang kurang dapat dinikmati, seperti pada cerpen “Topeng Srikandi”. Dalam “Topeng Srikandi” dikisahkan seorang perempuan yang sering dilecehkan oleh para laki-laki lalu memutuskan berpenampilan seperti laki-laki untuk menunjukkan bahwa perempuan itu derajatnya sama dengan laki-laki. Cerita ini sederhana, tetapi tinggi maknanya. Sebenarnya cerita ini cukup menarik untuk diceritakan, namun beberapa kejadian yang terkesan ‘dipaksakan’ membuat cerita ini berkurang esensinya.
Cerita lain yang unik adalah “Kentang”. Dikisahkan sepasang gay yang ingin sekali  melepas rindu dengan bercinta. Namun, ada saja gangguannya, seperti atap bocor ataupun seseorang mengetuk pintu. Dialog antara keduanya pun juga bisa membuat kita ngakak. Cerpen yang serupa dengan “Kentang” adalah “Pembalut”. Judulnya memang sedikit kontroversial. Namun, ketika pembaca membaca ceritanya pembaca akan sedikit menaikkan alis. Dalam cerpen ini mengisahkan tentang perdebatan sepasang lesbian. Seorang lesbian yang berperan sebagai ‘lelaki’ harus ikhlas menerima kalau kekasihnya akan menikah dengan seorang lelaki tulen.
Warna yang berbeda bisa kita temui juga pada cerpen “Menunggu Warna”. Dimulai dengan Satrio yang terjebak macet di lampu merah, kemudian melihat Adam di ujung jalan. Satrio sangat berharap lampu merah berubah hijau. Saat berubah hijau, Satrio langsung mendatangi Adam. Hubungan asmara pun terjalin mulus. Mereka layaknya pasangan pada umumnya. Sampai pada akhirnya semua yang berjalan lancar itu terhenti. Satrio kembali pada situasi pertama saat lampu merah, dan bedanya ternyata lampu merah itu tak pernah berubah jadi hijau.
Masih banyak warna yang bisa kita temui ketika kita membacanya. Potret singkat kaum minoritas di Jakarta yang terangkum sempurna dalam bingkai Sanubari Jakarta.
Peresensi adalah mahasiswa
Fakultas Teknik, bergiat di UKM Penulis dan komunitas seni Ranggawarsita. Resensi ini juara III kategori pustaka Kompetisi Penulisan
Rubrik Majalah Komunikasi 2012.

Bagikan informasi ini: