Malam Merah Ibu

Oleh Dwi Ratih Ramadhany

Sudah tiga hari Nafa tersenyum pahit di depan Rana sembari terus membuat pola pada kain morinya. Entah berpura-pura senang atau ia sedang menikmati sakit yang tertahan. Selalu setelah Rana meruntuhkan tasnya di atas kasur lalu segera membantunya di ruang belakang, tempat canting-canting Nafa memola lembar-lembar rupiah untuk kebutuhan keluarga.
Rana mengambil jatah kain selebar buku tulis dan meniru ibunya membuat pola dengan canting kecilnya. Sisa potongan kain primis yang biasanya digunakan sebagai bakal kain batik. Ia segera menyelupkan cantingnya pada malam yang telah disiapkan ibunya, berlaga seolah ia pembatik handal yang pandai melukis pola. Walau nyatanya, corak yang ia bentuk tak teratur, hanya gambar asal-asalan seperti matahari, burung, dan pohon-pohon kering. Tak berapa lama, hidung Rana menangkap bau tak sedap yang menyeruak dibawa udara.
“Ibu, aku seperti mencium bau besi atau amis atau mungkin bangkai cicak. Ini bau apa, Bu?” Nafa terperanjat ketika Rana menyumbat hidung dan menghujamnya dengan pertanyaan itu.
“Oh, mungkin bau ikan tongkol yang ibu beli di pasar tadi. Sudah Ibu goreng, Rana tidak ingin makan siang dulu?” sanggahnya tenang. Rana hanya menggelengkan kepala sembari terus menggoreskan canting di atas kainnya.
“Apa ayah akan pulang hari ini, Bu? Apa ayah masih suka marah-marah, Bu?”
“Ayah tidak akan pulang sampai batik yang satu ini selesai. Dan ayah takkan marah-marah lagi.”
“Kenapa, Bu?”
“Karena ini batik untuk ayah. Ayah pasti senang kalau kita membuatkan batik ini untuk ayah. Bahkan, malamnya ayah sendiri yang pilih. Dengan malam spesial ini, kita akan membuat batik paling bagus untuk ayah.”
Rana mengangguk paham. Nafa menyampirkan kain batiknya di gawangan dan menghampiri anak sematawayangnya. Ia memangku Rana lalu mengajarkannya cara membentuk pola daun yang menjalar. Jemarinya yang mungil membawa Nafa pada seutas kenangan ketika ia dan suaminya masih sering menghabiskan waktu bersama Rana. Suatu masa yang tak akan pernah terjadi lagi. Kepedihan yang sudah terlanjur diikat simpul mati.
“Ibu, katanya aku ini anak kutu.”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Teman-teman di sekolah. Tapi aku tidak percaya. Jadi itu tidak mungkin, kan, Bu?”
Rana berbalik menghadap ibunya. Kendati tertawa kecil, apa yang dikatakan anaknya tidak lewat begitu saja di telinganya, apalagi menganggapnya sebagai cericit seorang gadis kecil tak tahu dosa. Di dalam mata bening Rana, ia melihat kesedihan yang mengembun menjelma titik air mata.
“Ah, mana mungkin. Temanmu itu terlalu banyak membaca buku cerita. Tidak mungkin Rana anak kutu. Coba bayangkan, apa Rana bisa menempel di kepala atau di bulu-bulu anjing seperti kutu? Mereka mungkin sedang berimajinasi.”
“Hihihi… Ya nggak dong,” tawa kecil Rana segera memecah kecemasan Nafa. Ia tersenyum getir dan segera kembali pada kain yang ia tinggalkan tadi.
Nafa bisa saja menanggapi olok-olok teman Rana dengan lebih serius. Ia sangat paham apa yang dimaksud oleh mereka. Pasti karena Ayah Rana adalah seorang pengangguran, parasit yang hanya numpang hidup pada makhluk lain, tidak berguna. Beban. Merusak. Seperti kutu. Nafa terkejut mendengar hal itu. Mana mungkin anak seumuran Rana bisa berkata seperti itu. Pasti orangtua mereka yang mengajarinya, pikir Nafa. Tapi mana mungkin ia berkata jujur pada anaknya yang masih mungil sementara ia tahu itu akan membuat Rana merasa malu di depan teman-temannya.
“Tapi kenapa ayah jarang pulang, Bu? Apa karena Rana masih sering minta uang jajan? Atau karena Rana tidak ranking satu di kelas?”
“Ayah suka mengembara,” begitu jawabnya. Lalu ia kembali larut dengan malam dan cantingnya. Bagai menyusuri corak truntum batiknya, ia terhempas pada sebuah ingatan kelam yang menancap kuat dalam memori otaknya. Apakah pantas disebut kenangan bila terlalu perih rasanya?
***
Nafa mengerahkan seluruh kemampuan membatiknya demi membantu Anton mencari nafkah. Ia menerima segala pesanan, segala corak, segala jenis kain, mulai dari kain katun murahan, organdi, sifon, hingga sutera yang harganya nyaris jutaan. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kehidupan rumah tangganya akan menjadi serumit ini.
Anton hanya bekerja pada sebuah perusahaan obat herbal sebagai penjaja obat. Berkeliling kampung, bahkan mungkin antar kota untuk mendapatkan pembeli. Jelas saja tak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di tambah lagi harga sembako yang semakin menanjak. Biaya sekolah Rana yang kian lama kian mahal, kian memeras otak dan keringat. Jika bukan karena usaha batik Nafa, Rana mungkin sudah putus sekolah.
Sebenarnya, Nafa merasa baik-baik saja bila memang dia harus bekerja, tapi tetek bengek kepercayaan suaminya itu membuatnya harus bekerja diam-diam. Anton tak mau Nafa berpenghasilan lebih banyak darinya. “Apa kata orang nanti,” pikirnya. Tapi saat itu, Nafa hanya mengangguk dan secara diam-diam terus melanjutkan usahanya dikala suaminya pergi mencari kerja. Tak mungkin ia biarkan nasib keluarganya luntang-lantung tanpa pemasukan. Tanpa harapan.
Dan pada siang yang sengit, Anton pulang lebih awal dari biasanya. Ia menemukan Nafa sedang melorotkan kain yang sudah dipola menggunakan air panas agar sisa-sisa warna malamnya bersih. Nafa terperanjat melihat suaminya menyaksikan proses pelorotan itu karena ia pikir Anton akan marah padanya. Ia telah mengingkari kepercayaan suaminya. Seharian Anton bungkam. Tak sepuntung kata yang keluar dari bibirnya. Bahkan Rana yang sedari tadi menangis tersedu-sedu sebab kelinci kesayangannya mati tertabrak gerobak sampah pun tidak digubris. Tak acuh. Ia tampak melamun namun kerut di dahinya adalah pertanda bahwa otaknya sedang merenda, berpikir.
Semalaman suntuk Anton hanya duduk di teras depan rumahnya, walau malam telah tua dan kabut dingin telah sampai pada ubun-ubun, Anton enggan masuk ke rumah. Nafa kalut. Ia merasa ingkar. Bujuk rayunya pada Anton agar mengabulkan permintaan maafnya, atau sekedar mengajaknya masuk sebab daun-daun menghembuskan karbondioksida, tak sedikitpun mempan. Tatkala Nafa nyaris putus asa, Anton berdeham seraya mengajaknya duduk.
“Duduklah, sebentar. Aku ingin bicara.”
Nafa menghampirinya, jantungnya menjelma genderang perang. Takut-takut suaminya berubah serigala yang siap menerkamnya.
“Aku akan pergi agak lama. Aku akan cari kerja ke kota. Kamu tetaplah membatik, tak apa. Demi Rana.”
Dan benar saja, keesokan harinya, Anton pamit untuk mencari kerja di kota. Melamar kerja sebagai office boy di manapun atau apa saja, sedapatnya. Sebab tak mungkin ijasah SMAnya mengabulkan keinginannya untuk dapat kerja yang mapan. Seorang lulusan SMA yang kebelet kawin tanpa pikir panjang dan hanya mantan penjaja obat herbal seperti Anton, pasti kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Dan memang malang nasibnya. Takdir seolah enggan meluluskannya dari uji kesabaran dan tahan banting terhadap kesialan-kesialan yang menimpanya. Tiga hari kemudian Anton pulang tanpa sepeserpun rupiah. Rambut hitamnya yang lurus menjadi acak-acakan. Bajunya keluar-keluar tak keruan. Sesampainya di rumah, ia mendekam di dalam kamar dan tak peduli pada segalanya. Tak berkutik walau kabar gembira berduyun-duyun datang pada usaha batik Nafa. Dan seperti biasa, Nafa tetap sabar menghadapi suaminya. Betapapun pedih diabaikan, ia tetaplah suaminya.
Lalu sejak hari kepulangannya itu, Anton tak pernah memedulikan keluarganya. Setiap hari, sepanjang hari, Anton keluar rumah dengan kemeja lusuh dan celana hitamnya. Nafa tahu, suaminya pasti berusaha keras mencari kerja. Berkali-kali tetangganya menawarkan pekerjaan sebagai tukang las atau kuli bangunan, tapi Anton menolak. Ia ingin pekerjaan yang lebih bermartabat, pikirnya. Mungkin yang dimaksudkan adalah dengan mengenakan kemeja putih, berdasi, celana panjang, dengan sepatu kulit mahal. Cih! Mimpi! Begitu kata para tetangganya.
Sementara telinga Nafa sudah bebal mendengar pergunjingan orang tentang suaminya. Ia tahu-atau mungkin sekadar meyakinkan diri-bahwa suaminya memang sedang berusaha mencari pekerjaan yang layak.
Kabar tidak menyenangkan itu ber­bondong-bondong menyusup ke telinga Nafa. Awalnya ia tak percaya. Tetapi kelakuan Anton makin hari memang makin mencurigakan. Anton selalu pulang dalam keadaan amat bahagia atau malah amat sedih dengan segenggam uang atau segunung utang. Selidik temu selidik, pada suatu sore yang enggan, Nafa melihat sendiri Anton mahir bermain kartu alias berjudi. Selama ini, yang Anton maksud dengan mencari nafkah adalah dengan mengadu peruntungan pada judi. Kalau beruntung mungkin tak masalah, kalau tidak, ia mungkin akan menjelma hantu kepala buntung. Nafa menangis.
Di rumah, Nafa mencoba mengingatkan suaminya berkali-kali, namun tak digubris. Anton benar-benar menjelma serigala jahat. Rana pun sering dimarahinya bahkan perihal kecil tentang kegiatan di sekolahnya. Nafa sangat terpukul. Ia hanya bisa menjauhkan Rana dari sengat amarah suaminya dan mengatakan bahwa Anton hanya lelah. Setiap hari. Hatinya beribu kali babak belur oleh makian Anton. Bahkan tak jarang Anton memukulinya jika Nafa melawan perkataannya. Setiap hari, kalau tak punya lembar rupiah untuk berjudi.
Namun pada suatu pagi yang mendung, setelah Nafa mengantar Rana ke sekolah, Anton memaksa meminta uang hasil usaha batiknya. Anton berdalih meminjam uang itu karena semalam ia mendapatkan mimpi akan memenangkan perjudian hari itu. Uang yang didapat bisa digunakan untuk biaya sekolah Rana, rayunya. Tapi Nafa menolak, ia tak mungkin rela.
“Uangnya sudah habis untuk bayar kontrakan rumah, Mas.”
“Kamu pasti bohong. Tidak mungkin hasil membatikmu hanya cukup untuk bayar kontrakan rumah! Kalau kamu tetap melawan, akan kuobrak-abrik batikmu itu!”
Nafa tetap tak mau. Bergegas Anton menuju ruang batik Nafa.. Diruntuhkannya gawangan dan kain-kain batik yang digantung. Diguntingnya batik-batik indah yang dengan susah payah Nafa pertaruhkan hidupnya demi batik itu. Diinjaknya canting-canting dari bambu yang digunakan untuk melukis batik. Ditumpahruahkan malam-malam dalam wajan yang masih panas dan ia arahkan pada tubuh Nafa. Beruntung, malam itu hanya mengenai pakaian Nafa.
Dengan segenap amarah yang menyulut, Anton memakinya. Namun kali ini Nafa tak mau mengalah. Ia balas meneriaki suaminya dengan air mata berderai-derai di pipinya. Dipukulinya Anton dan direbutnya gunting dalam genggaman suaminya. Batinnya berteriak melolong-lolong bahwa ia sudah cukup bersabar menghadapi kelakuan bejat suaminya. Ditancapkannya gunting itu ke perut Anton berkali-kali, bertubi-tubi. Tanpa ampun. Sampai mampus. Asu!
Seolah kerasukan setan, Nafa belum puas dengan hal itu. Ia mengumpulkan darah suaminya yang tak henti mengalir. Ia menyeka darah segar itu dengan kain-kain batik yang telah robek tak karuan dan diperasnya ke atas wajan sebagai ganti malam-malamnya yang tumpah. Diseretnya sekuat tenaga tubuh Anton menuju gentong besar tempat ia mencuci batiknya saat proses pelorotan. Biar. Biar begitu. Biar tenang hatinya yang seperti disayat sembilu.
***
“Ibu, malam yang ini lebih kental dari biasanya, ya. Pasti ayah tidak tahu caranya mencairkan lilin menjadi malam seperti milik Ibu.”
“Tidak masalah, Rana. Yang penting masih bisa dibuat membatik, kan. Itu asli dari ayah, lho.”
“Rana ingin cepat menyelesaikan batik ini, biar ayah cepat pulang, Bu. Ayah pasti senang, Rana sudah bisa membatik, sudah bisa bahasa Inggris, dan tidak suka jajan di sekolah lagi. Nanti kalo Ayah datang, Rana mau lapor sama ayah tentang teman-teman Rana. Nanti Rana bawa ke sekolah biar mereka tahu kalau Rana bukan anak kutu, Bu.”
“Tidak perlu mengadu pada ayah. Bilang saja pada Ibu, siapa teman-teman Rana yang suka mengolok-olok? Biar nanti Ibu buatkan mereka batik yang spesial juga.”
Penulis adalah mahasiswa
Sastra Inggris. Cerpen ini juara III kategori pustaka Kompetisi Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi 2013.

Bagikan informasi ini: