Emak dan Kue Apem Merah

apem

Oleh Novia Anggraini
Semua orang nampak sedang senang
hatinya. Hiruk pikuk terdengar dari
seluruh penjuru kampung. Anak-anak
kecil berlarian seolah berusaha menebar
kebahagiaan kepada siapa saja yang
ditemuinya. Kampung kecil yang biasanya
sepi nyeyet itu terasa hidup menjelang
hari pertama kedatangan tamu agung.

Di ujung paling barat dari perkampungan
kumuh itu, Mak Ijah sedang berjongkok
di depan tungku api. Bukan nasi yang
dimasaknya, tetapi kesedihan. Air mata
yang menetes jatuh satu demi satu tak
mampu memadamkan kobaran api yang
menyala-nyala hendak menghanguskan
wajah keriputnya.
“Cepat ambilkan cincinku! Jangan
sampai cincinku ikut terbakar!” Sebuah
suara makian terdengar dari mulut yang
kehitaman. Mak Ijah makin gelagapan.
Didekatkannya wajahnya pada tungku api
sambil memicingkan mata untuk melihat di
mana persisnya letak cincin emas satu gram
milik anaknya yang baru saja jatuh ke dalam
lahapan api.
“Cepaaaaaat!” Teriakan itu membuat Mak
Ijah panik bukan kepalang. Dimasukkannya
kepala dengan rambut yang telah dipenuhi
uban miliknya semakin dalam ke kobaran
api. Ujung-ujung rambut Mak Ijah mulai
tersulut api, merambat ke seluruh kepala
kemudian tubuhnya.
Wanita yang di ujung sana hanya tersenyum
simpul seolah tak terjadi apa-apa.
***
Semua orang selalu saja merayakan hari
pertama kedatangan tamu yang katanya
suci dan istimewa ini dengan euforia yang
terlalu berlebihan. Membuat kampung
gaduh dengan suara kentongan dan
teriakan anak-anak kecil yang tidak berhenti
membunyikan petasan. Sudah kumuh,
gaduh, berhawa panas, dan berbau apek
pula. Wanita secantik aku tak pantaslah
tinggal di kampung sekotor ini sebenarnya.
Hanya saja aku masih harus menunggu Mas
Darto menceraikan istrinya terlebih dahulu,
sebelum memboyongku ke istananya yang
terletak di perumahan paling elit di kotaku.
“Nduk, kau mau kemana? Sini bantulah
emak memasak apem1) untuk sesajen buat
malam punggahan2) nanti.”
Wanita itu menatapku dengan pandangan
meminta penjelasan. Dilihatnya pakaian
mewah dan perhiasan yang melekat di
tubuhku–dari ujung kaki hingga ujung
kepala. Mungkin ia sedang membayangkan
alangkah bahagianya ia bila pakaian dan
perhiasan yang kukenakan melekat di
tubuhnya.
“Mau pergi. Ada janji dengan Mas Darto,”
jawabku singkat. Tetapi perempuan yang
berusia lebih dari separuh baya itu justru
mencengkeram tanganku, memberi isyarat
bahwa aku tak boleh berlalu.
“Mau apa, Mak?” tantangku dengan nada
suara yang meninggi.
“Jangan kacaukan rumah tangga orang,
Nduk. Nanti kena karma. Kualat.”
Aku tak menghiraukan lagi ucapan yang
selalu diulangnya hingga berkali-kali itu
setiap aku menyebut nama Mas Darto.
Peduli karma, kualat, kutukan, atau apa
sajalah sebutan itu, aku sudah tak peduli.
Toh dulu rumah tangga orang tuaku juga
hancur tanpa sisa meskipun aku tidak
melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan
murka.
Aku baru sejengkal saja melangkahkan
kaki ketika tangan keriput itu
mencengkeramku lebih erat lagi. Rasa sakit
mulai menjalari pergelangan tanganku
akibat tidak lancarnya aliran darah karena
tekanan dan genggaman yang sangat kuat.
“Dengarkan Emak, Karmila. Lupakan
Darto. Masih banyak lelaki tak beristri di
luar sana yang mau denganmu. Jangankan
kau tambahi cambukan bapakmu di dalam
kuburnya karena kamu telah melakukan
kesalahan yang sama. Ini bulan yang
baik, Nduk. Bulan Ramadan yang penuh
ampunan. Jangan bikin kisruh. Mintakan
ampun untuk bapakmu dan mintalah
ampun atas dirimu sendiri.”
Aku hampir saja menjerit ketika
perempuan itu menyebut-nyebut tentang
almarhum bapak. Tetapi tenggorokanku
serasa kering dan tercekat. Aku ingat betul
hari kematian bapak. Pun aku juga ingat
Kue Apem Merah ilustrasi oleh
Moh. Alfin Kholily
Tahun 36 Mei-Juni 2014 | 37
Rancak Budaya
dengan sangat jelas kenapa bapak mati
dan siapa yang bertanggung jawab atas
kematiannya itu.
“Tetapi Mas Darto bukan bapak. Bapak
sudah mati. Sedangkan mas Darto masih
hidup, menjadi seorang pengusaha
ternama dan kaya raya. Aku ini calon istri
orang terkaya di kota. Emak pun suka kan
kalau nanti bisa tinggal di rumah mewah
yang seperti istana?” tanyaku. Tetapi emak
diam saja tak menjawab.
Semenit kutunggu, bibir emak tak jua
terbuka untuk mengucap sepatah, dua
patah, tiga patah, atau beberapa patah
jawaban. Maka kulanjutkan perkataanku
sambil memberi tekanan di beberapa
bagian, “Emak pasti sudah bosan kan hidup
menderita seperti ini? Emak pasti ingin
tinggal di rumah yang beratap genteng
berdinding tembok, mencicipi makanan
lezat yang biasanya hanya Emak lihat di
televisi, menikmati segarnya buah-buahan
impor yang membasahi kerontangnya
kerongkonan. Karmila mau mewujudkan
itu semua buat Emak. Buat kebahagiaan
almarhum bapak juga.”
Perempuan berwajah keriput itu
membeku di tempatnya mendengar
semua yang kukatakan. Bahasa tubuhnya
seperti menunjukkan bahwa ada kecamuk
badai yang sedang menghantam otaknya.
Ditatapnya aku dengan nanar dan mata
yang sedikit sembab: wanita itu ternyata bisa
menangis juga. Hatiku bersorak dan takjub
tak terkira akan setiap tetes butir-butir air
mata yang turun melalui lengkungan garis
di bawah kelopak matanya. Deras, semakin
deras, dan semakin menjadi-jadi. Aku
tertawa dalam hati.
“Emak tak akan mengizinkanmu pergi
menemui Darto lagi!” teriaknya kalut.
Dicobanya untuk mengerahkan segenap
tenaga demi menghasilkan teriakan yang
cukup memekakkan telingaku.
Digenggamnya tanganku menjadi lebih
kuat lagi. Aku mulai meronta dan berteriak
seperti orang kesurupan. Emak juga tak
kalah kalapnya. Diseretnya aku dengan
paksa mendekat ke arah tungku tempat
apem sedang ditanak. Dibukanya tutup
dandang, sebuah apem nampak sudah
matang. Dipaksakan tanganku untuk
meraih apem yang masih panas itu. “Kau
harus bantu Emak bikin apem! Apem ini
nanti untuk almarhum bapakmu!”
Kulit tanganku yang seumur hidup
belum pernah menyentuh apem panas
dengan suhu seratus derajat celcius
langsung berwarna merah dan melepuh.
Aku mencoba menarik tanganku, tapi emak
justru semakin kuat pula memaksakan aku
kembali memasukkan tangan ke dalam
dandang untuk mengambili apem sesajen
satu per satu. “Tanganku, Mak, tanganku!
Lepaskan tanganku. Lepaskan!”
Emak memperlakukan aku seperti
orang yang sedang kesetanan. Dipaksanya
tanganku bergerak kesana kemari; bukan
hanya untuk mengambil apem dari
dandang yang masih panas, tetapi juga
untuk mengambil kayu-kayu bakar yang
berserakan di dekat tungku, kemudian
dirapikan dan dimasukkan berderet dan
sejajar agar api semakin menyala berkobarkobar.
Sudah sangat lama tanganku tidak
menyentuh urusan dapur sama sekali.
Semenjak bapak meninggal dua tahun
silam.
Setengah jam setelah puas menggunakan
tanganku untuk mengerjakan apa yang
seharusnya ia kerjakan dengan tangannya
sendiri, emak melepaskan tanganku. Aku
segera memeriksa luka bakar dan banyak
bercak-bercak merah hampir di seluruh
kedua tanganku.
Satu detik, dua detik, tiga detik pertama
aku tak langsung bisa mengenali apa yang
berbeda dengan tanganku. Sampai di detik
yang keempat, aku mulai menyadari bahwa
tanganku tak utuh lagi. Sesuatu yang
seharusnya menjadi bagian dari tangan
kananku tak lagi berada di tempatnya
semula. Sesuatu yang kehilangannya
terasa lebih mengerikan daripada harus
kehilangan kelima jariku sekali pun. Dan
pada akhirnya, sesuatu itu kulihat tengah
berada di antara kobaran api di dalam
tungku ketika emak mengangkat dandang
apemnya.
“Maaaak cincinku! Itu cincinku jatuh
ke dalam api! Cincin pemberian bapak
sehari sebelum meninggalnya bapak!
Ambilkan cincin itu, Mak! Ambilkan! Itu
cincin dari bapak!” raungku dengan histeris
kepada emak yang berdiri bengong ketika
kuucapkan serentetan kalimat barusan.
Dandang panas yang dibawa emak
dengan kedua tangannya menimbulkan
bunyi berdebam keras ketika jatuh ke
tanah, menumpahkan air panas mendidih
bekas menanak kue apem. Tumpahannya
menyelimuti kulit kaki emak, membuat
kulit keriput di sekitar bagian kaki emak
langsung melepuh dan bolong-bolong.
Darah yang bercampur dengan air panas
menampakkan daging kaki emak yang
berwarna merah pudar. Meskipun daging
itu sudah nampak tidak segar lagi, tetapi
aromanya masih mengundang penciuman
lalat-lalat kelaparan yang ingin mencicipi.
Emak sudah tidak lagi menghiraukan lukaluka
di kakinya demi dilihatnya cincin
pemberian bapak milikku tak sengaja
terjatuh ke dalam kobaran api kala emak
memaksa tanganku untuk memasak apem.
“Cepat ambilkan cincinku! Jangan sampai
cincinku ikut terbakar! Cepaaaaattt!”.
Makianku membuat emak makin gelagapan.
Semakin didekatkannya wajah emak pada
tungku api untuk melihat di mana persisnya
cincinku terjatuh.
Aku terus meneriakinya tanpa henti.
Emak menjadi semakin kehilangan kendali.
Malaikat maut mulai berputar-putar di
dapur rumah kami.
***
Ada yang lebih sakit dari kaki yang
terkelupas kulitnya. Ada yang lebih nyeri
dari luka menganga yang dikerubuti lalat
di sekelilingnya. Yang lebih menyiksa mata,
batin, dan membuat kalut jiwa raga: melihat
cincin pemberian almarhum bapaknya
Karmila yang terbakar api tungku masak.
Tetapi sumpah, aku sama sekali tak berniat
membuatnya jatuh ke dalam tungku api.
Karmila sendiri yang menjatuhkannya.
Aku tahu cincin itu terletak di jari manis
tangan kanan Karmila. Oleh karena itu aku
berusaha untuk tidak menyentuhnya sama
sekali. Berniat menggores cincin itu pun
tidak pernah kuniatkan sama sekali. Apalagi
menjatuhkannya ke dalam lautan api. Ini
jelas akal-akal Karmila.
Dia tahu cincin itu dulunya milikku.
Bapak Karmila yang memberikannya
padaku selepas istri pertamanya, yaitu ibu
kandung Karmila, mati mengenaskan. Ibu
Karmila marah bukan kepalang kala Mas
Rusman membawaku ke rumah mereka
dan meminta izin pada istrinya untuk
menikahiku. Tetapi ibu Karmila tidak pernah
rela berbagi suami denganku. Dirutukinya
aku dengan sederetan kata-kata makian
yang sarat akan benci dan kemurkaan.
Selepas mengakui hubungan kami, setiap
hari Mas Rusman bertengkar hebat dengan
istrinya. Sampai pada akhirnya luapan
emosi atas ketidakrestuan itu menjelma
menjadi prosesi bunuh diri.
Tetapi Mas Rusman sama sekali tidak
berniat membunuh ibu Karmila; wanita itu
masih sangat dicintainya meskipun dengan
kadar cinta yang tak lagi sempurna. Ia hanya
melepas diam-diam cincin pernikahan
yang melekat di jari istrinya sebagai mas
kawin untukku ketika ibu Karmila sedang
tertidur dengan pulasnya. Sebuah cincin itu
kemudian dipersembahkannya untukku di
hari pernikahan siri kami keesokan paginya.
Ibu Karmila ditemukan mati gantung diri
di ruangan yang sedianya akan menjadi
kamar pengantin kami.
Mas Rusman menjadi gila setelah
malam pertama kami harus dilalui dengan
pemandangan mengerikan mayat ibu
Karmila yang tergantung-gantung di atap
kamar. Dua hari berlalu, polisi tak jua datang
mengambil mayat. Hanya olah TKP yang
dilakukan. Mas Rusman bertambah-tambah
lebih psikopat. Di hari ketiga, bukan hanya
satu mayat yang pada akhirnya diturunkan
polisi, melainkan dua. Yang satunya adalah
mayat Mas Rusman, tentu saja.
Aku menganggap diriku adalah algojo
kematian mereka berdua. Oleh karena itu,
aku mencoba menebus kesalahan dengan
merawat dan membesarkan Karmila.
Kuanggap ia sebagai anak kandungku
sendiri. Kuberikan cincin pernikahanku
pada Karmila di hari pertama Ramadan
tahun lalu. Waktu itu Karmila masih lugu. Ia
Rancak Budaya
menerima semuanya dengan lapang dada,
begitu sederhana dan apa adanya.
Pada Karmila kupersembahkan hidup
dan matiku. Bila dengan mengambil cincin
itu kesalahanku akan dianggap sebagai
bayaran lunas dan tuntas, aku telah
mengikhlaskan takdir matiku di atas tungku
dengan nyala api yang berkobar-kobar. Ini
karmaku; wujud dari kutuk dan murka ibu
Karmila kala itu.
Salah harus ditebus dengan maaf. Nyawa
diganti dengan nyawa. Darah dibayar
dengan darah. Hutangku pada keluarga
Karmila telah kuselesaikan sesuai hitungan.
Di kobaran api yang menjilat-jilat itu, kulihat
bayangan Mas Rusman dan istrinya sedang
bercumbu. Sebentar lagi akan kuganggu
kemesraan mereka dengan kehadiranku.
***
Malam punggahan menyambut
Ramadan memang selalu identik dengan
kue apem yang dianggap sebagai lambang
kebersihan hati. Pembuatan kue apem pun
disakralkan. Wanita yang sedang kotor tak
boleh mengaduk adonan. Tetapi aku harus
bagaimana bila aku adalah satu-satunya
wanita di rumah ini? Ramadan toh tidak bisa
ditunda lagi kehadirannya. Apa pun yang
terjadi, selamatan harus tetap diadakan.
“Apem buatan emakmu enak sekali,
Karmila,” puji tetangga-tetanggaku kala aku
membagi-bagikan apem itu dari rumah ke
rumah.
“Apa ini rahasianya?”
“Emak,” jawabku singkat.
“Tapi kok warnanya agak kemerahan ya?”
“Emak,” kataku lagi sambil mengangkat
bahu.
“Justru karena apem ini merah makanya
terasa enak. Hahaha,” kelakar salah satu
tetangga menanggapi pertanyaan
tetanggaku yang satunya.
Aku berpamitan pulang setelah semua
tetangga kebagian apem merah. Segera
kulangkahkan kakiku berjalan menuju
dapur. Kuambil lima buah apem yang masih
tersisa. Kemudian kugali tanah di sekitaran
pekarangan belakang rumah. Lima apem
merah itu kumasukkan dengan perlahan ke
dalam lubang yang telah kubuat. Emak masih
berhak mendapat pekuburan yang layak.
***
Keterangan:
1. apem: terbuat dari tepung dan tape,
merupakan kue yang wajib ada pada
selamatan dan dipercaya merupakan
lambang hati yang bersih dan suci.
2. punggahan: sehari sebelum masuk
tanggal 1 Ramadan, pada malam
punggahan masyarakat Jawa biasanya
berziarah ke kuburan dan menyajikan
sesajen kirim doa untuk leluhur.
Penulis adalah mahasiswa
Sastra Indonesia UM
dan bergiat di UKM Penulis.

Bagikan informasi ini: