Melangitkan Salat

agama

Oleh Ahmad Sultan Arifuddin

Salat merupakan salah satu hasil oleh-oleh utama dari perjalanan wisata spiritual yang dijalani oleh Baginda Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra’ Mi’raj.

Oleh-oleh ini bukanlah suatu kebetulan atau hanya titipan Allah untuk Nabi Muhammad, tetapi untuk seluruh umat. Perintah salat langsung diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad
tanpa perantara apa pun di puncak tertinggi Sidratulmuntaha.
Momen Isra’ Mi’raj kemarin boleh dikatakan hampir mayoritas umat Islam di dunia bergembira merayakan sekaligus meresapi syahdunya malam Isra’ Mi’raj. Peristiwa yang
cukup penting dalam sejarah kenabian sekaligus biografi kehidupan beliau itu memang
benar-benar terjadi secara ruh dan fisik. Pembahasan kali ini tidak akan menceritakan
kronologi perjalanan fantastik Mekkah ke Jerusalem lalu ke Sidratulmuntaha karena
pembahasan tersebut sudah cukup banyak kita baca di media-media cetak atau sering
kita dengar dari ceramah-ceramah. Hal yang terpenting adalah esensi dan banyaknya
pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa luar biasa dan sangat mencengangkan itu.
Kita tahu bahwa ibadah terkrusial kita sebagai seorang muslim adalah salat. Tanda
utama seseorang itu Islam adalah salat. Maka dari itu, dalam keadaan apa pun, bagi
seorang muslim, salat wajib ditegakkan selama orang itu masih dalam keadaan sadar.
Ketika sakit parah, seorang muslim harus tetap melaksanakan salat. Pada saat keadaan
berkecamuknya perang pun seorang muslim tetap wajib melaksanakan salat meski
salatnya harus sambil lari terbirit-birit ke sana ke mari.
Seluruh syariat yang ada dalam Islam diwahyukan kepada Nabi di bumi, kecuali salat.
Salat diperintahkan secara langsung di langit dan waktu turunnya perintah kewajiban
salat itu tepat saat Nabi kita menerima perjalanan kehormatan Isra’ Mi’raj ini, usai
konferensi terhebat sepanjang sejarah kemanusiaan di Masjidil Aqsha. Pertemuan orangorang
pilihan terbaik, 120.000 Nabi dan Rasul. Kenapa hanya salat saja yang perintahnya
diterima langsung oleh Nabi kita di langit sementara ibadah dan syariat yang lain tidak?
Sebab, sebagai isyarat bahwa salat adalah ibadah teragung.
Filosofi saat kita mengerjakan salat,
sebagai tata kramanya kita diharuskan
untuk memi’rojkan ruh kita kala mulai
takbiratulihram, tepat saat takbir, Allahu
Akbar. Hendaknya kita melupakan semua
urusan, memusatkan konsentrasi dan jiwa
kita seolah kita sedang secara langsung
berkomunikasi dan menghadap Allah
Ta’ala. Itu yang disebut dengan salat yang
khusyuk, salat yang “melangitkan” jiwa
kita dan melupakan seluruh problematika
hidup kita saat itu. Usai salat, kita salam,
sebagai tanda bahwa jiwa kita telah
“kembali” ke bumi untuk melanjutkan
aktivitas sehari-hari. Muslim yang bisa salat
seperti ini, bisa total memi’rojkan ruhnya
kala salat, dialah yang bisa menikmati
bagaimana esensi indahnya salat. Salat
jenis inilah yang bisa menjaga perilaku,
kepribadian, dan sikap seorang Muslim
dari hal-hal yang tak elok secara moral dan
sosial. Tentu saja sebaliknya, muslim yang
salatnya rajin tapi masih saja “nakal”, bisa
jadi dia belum total memi’rojkan ruhnya
meskipun secara tata cara syariat salatnya
telah sah dan kewajibannya gugur. Namun,
efek positif salat itu masih belum merasuk
pada jiwanya.
Malam Isra’ Mi’raj adalah malam
kontemplasi bagi kita, apakah kita telah
salat sesuai dengan substansinya? Apakah
kita telah menemukan esensi salat dalam
keseharian kita? Apakah kita telah mampu
ekstase fly kala kita salat? Ataukah standar
kualitas salat kita masih mengharukan
itu-itu saja? Takbir, melamun ke sana ke
mari, tahu-tahu imam sudah salam. Atau
saat jadi makmum masbuk, gara-gara
salatnya melamun malah lupa tidak tahu
tertinggal berapa rakaat. Hal tersebut
malah membuat kita diserang panik dan
berakhir tidak khusyuk. Jika salat kita masih
seperti itu, jiwa kita masih di bumi, belum
termi’rojkan dengan baik, maka wajar jika
kita masih suka nakal.
Sekali lagi, momentum indah Isra’ Mi’raj ini
kita gunakan untuk mengkontemplasikan
kembali bagaimana salat kita. Saatnya
untuk menjadikan salat dan diri kita lebih
baik lagi, meski baru sekadar memulainya
dengan total ingat Allah saat takbir saja.
Sebab, bagaimana pun untuk menuju baik
itu membutuhkan proses. Peringatan Isra’
Mi’raj ini semacam alarm tahunan bagi kita
sekaligus pintu masuk. Terlebih sebentar
lagi Ramadan, bulan yang tak perlu
lagi diilustrasikan bagaimana indahnya
beribadah di bulan itu.
Selamat merayakan Isra’ Mi’raj dengan
mendengarkan keindahan ceritanya dan
memetik ratusan pelajaran dari perjalanan
fantastik itu. Mari kita bersama berproses
menjadi muslim-muslimah yang baik,
bukan muslim-muslimah yang merasa
baik. Bismillah…
Penulis adalah mahasiswa Jurusan
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Bagikan informasi ini: