Gadis Bersepatu Akar Bakau

Oleh Elvandari Solina A

Cerpen_sepatu bakauJika kau berkunjung ke rawa dan bertanya kepada daun-daun tentang seorang gadis bersepatu akar bakau, seketika mereka akan menjerit-jerit dan meraung dengan keras, seolah seseorang hendak merobohkan batang tempat bertenggernya. Atau mungkin kau mencoba melempar-lempar kerikil kecil pada bantaran sungai seraya menyebut nama gadis itu, tak elak deras air akan melolong ketakutan dan membenamkan wajahnya ke tepian. Namun, apa yang harus kulakukan jika kau terus menenerus penasaran bertanya pada sebilah papan jembatan tentang sepatu yang ditinggalkan oleh gadis itu membuatnya menyalak dan menghantam wajahmu hingga kesakitan. Sebelum aku menceritakan kisah ini dengan sebenarnya, mari kita pastikan bahwa tak ada satupun dedaunan dan batang pohon serta ricik air mendengarnya. Tak satupun telinga Remetuk Laut dan Trinil Semak mengupingnya. Akan kubisikkan kepadamu tentang kisah pilu di suatu pagi yang merenggut jiwa dan ruh dari jasadnya.
***
Barangkali matahari baru menyulut tungku api dan menanak nasi ketika seorang gadis yang kerap disapa sebagai penjaga sempadan tambak di sepanjang tepian rawa Belacan mengetuk lantai tanah dengan sepatunya. Ranselnya yang penuh- rantang dua tingkat, ikan asin selebar daun jambu dan lalapan semanggi serta sambal terasi menyulut indra burung Trinil di semak rawa. Sambil menunggu pagi, gadis itu memeriksa perahunya yang tertambat di tepian sebelum arus dan dayung membawanya menyusuri vegetasi pantai guna memastikan petak pembibitan bakau yang menjaga tanggul dari erosi. Aku tahu pasti, karena hari ini adalah hari Kamis. Di hari Senin hingga Rabu, ia akan memetiki buah bakau dan meletakkan bijinya pada polybag dan pada hari Jumat gadis itu akan memeriksa bidak-bidak tambak yang berisi kepiting soka dan menjualnya di hari Sabtu dan Minggu. Aku tahu pasti. Karena sejak sepuluh tahun yang lalu, dengan ayahnya yang mantan pekerja dinas kehutanan itu menyelamatkan hidup kami. Barangkali metropolitan yang gagah di pulau ini bakal digempur serangan dari berbagai mata arah, abrasi yang terjadi selama bertahun-tahun menggerus daratan dengan luapan Laut Jawa. Di bawah langit dan desir ombak pun menjadi saksi. Hingga kematian lelaki renta dipangku putrinya mewasiatkan untuk menjaga kami; lelengan gurita yang menopang pokok pohon bakau Muara Bekasi.
“Denayu, Denayu, kemari sebentar!”
Seorang lelaki paruh baya memanggilnya dari kejauhan. Belum sempat menyalakan motor perahu ia pun menoleh.
“Ada apa, Pak Imran? Saya mau memeriksa petak bibit bakau di utara,” tegasnya.
“Ada yang cari Denayu di rumah. Katanya ada perlu dengan kamu!”
“Siapa, Pak?”
“Sudah, ayo pulang dulu biar tahu!”
Ia pun mengekor kembali ke rumahnya yang tak jauh dari rawa, meninggalkan tas ransel pada badan perahu setelah menambatkannya kembali pada tepi pantai. Terlihat dibenaknya penuh dengan tanya, jarang sekali sepagi ini ada yang bertamu dan mencarinya, kecuali sesekali dinas kehutanan setempat yang sedang patroli. Keheranannya tak berhenti disitu, tak biasanya Pak Imran, kepala dusun di kampungnya itu berurusan dengannya.
Beberapa meter sebelum sampai di rumahnya terlihat tiga orang lelaki dengan pakaian necis yang lengkap dengan jas dan berdasi. Satu diantaranya tampak lebih tambun. Hal ini semakin menambah tanda tanya yang besar di benaknya. Bukankah petugas dinas kehutanan tak pernah menggunakan seragam seperti itu. Gadis itu memperlambat jalannya, lamat-lamat ia mengawasi dengan hati-hati.
“Anda pasti Denayu! Penjaga hutan bakau di sepanjang area Belacan ini. Kenalkan saya Galib dan ini anak buah saya, manager perusahaan di Jakarta,” ujar lelaki yang tambun itu menyambut Denayu terlebih dahulu. Seringai senyumnya seolah menyembunyikan batu yang disalamkan lewat telapak tangannya. Gadis itu menyambut kaku.
“Ada perlu apa anda mencari saya?” ujar gadis itu tanpa basa-basi.
“Ah, mari-mari kita bicara sambil duduk. Boleh saya duduk disini? Santai saja Denayu, kita ngobrol-ngobrol dulu disini. Bukan begitu Pak Imran?”
“Ah, ya. Ayo Denayu duduk dulu,” ucap Pak Imran kikuk. Denayu menurut dan duduk di balai-balai rumahnya dengan keempat lelaki tadi. Denayu hanya mengunci pintu katup bibirnya, ia tampak enggan memulai percakapan. Akhirnya Pak Imran mengambil alih keadaan.
“Jadi begini, Yu, bapak-bapak ini datang dari Jakarta. Mereka ini berasal dari perusahaan-perusahaan besar di sana. Khususnya eksportir kepiting dan ikan beku. Nah, bapak-bapak ini berencana mengembangkan usahanya dan melibatkan warga kampung disini untuk bekerja di perusahaannya. Jadi, kita tak perlu repot lagi mengolah tambak dan memagari tanggul dengan bakau. Mereka punya teknologi yang canggih untuk menghasilkan kepiting dan ikan-ikan yang bagus tanpa kita harus bersusah payah menanam bakau,” jelas Pak Imran dengan mata bersinar.
“Betul sekali Denayu, warga disini sudah banyak yang setuju jika lahannya diruilslag, ditebangi bakaunya dan bidak tambaknya akan kami beli dengan harga mahal. Dan tidak sampai disitu saja, kami juga akan melibatkan warga di kampung ini dalam bisnis kami. Kami juga akan…. ,”
“TIDAAKK!!! Lahan ini adalah warisan dan wasiat mendiang ayah saya! Saya dan ayah saya yang membabat pantai ini menjadi tanggul setelah kebun kelapa dilantakkan kumbang sepuluh tahun yang lalu. Sampai mati saya tidak akan menjualnya, bahkan menebangi bakau disini!”
“Tapi Denayu, ini untuk kebaikan semua warga. Hanya Denayu yang tak mau menjual lahannya, mau sampai kapan kamu menjaga bakau?”
Belum sempat lelaki berdasi itu menuturkan rencana, Denayu sudah melesat-lesat bagai dibakar api dalam tubuhnya. Bahkan Pak Imran tak mampu menahannya. Hatinya benar-benar terluka. Satu-satunya sanak hidupnya setelah mendiang ayahnya pergi hanyalah siul akasia, jerit kuntul perak yang menyuapi anak-anaknya serta lengan gurita yang menopang bakau, tempat ia memulangkan peluk pada sang ayah. Mereka hendak menghabisi satu-satunya sanak gadis itu, vegetasi bakau yang membesarkannya dalam biduk pangkunya. Denayu segera meninggalkan balai-balai dan keempat lelaki yang ternganga. Pada jarak langkah kakinya yang kelima, ia menoleh, mengumpat dan menghujat.
“Sampai mati, tidak akan pernah kujual lahan ini! Jangan pernah datang kembali kesini!” Denayu segera melesat dan berlari meninggalkan rumahnya menuju perahu tempatnya tertambat. Air mata bercucuran menganak sungai di pipinya yang perlahan-lahan menyusup ke liang dada. Hatinya terburai, sekian tahun ia merawat kampung ini bersama ayahnya, menjadikan areal kampung sebagai kampung percontohan wana bahari guna meredam erosi dan membuka lahan tambak agar warga lepas dari kemiskinan. Tapi rupanya keserakahan telah menggerogoti hati mereka. Mereka bahkan tak lagi peduli jika ombak kelak menggempur rumah mereka. Denayu tergugu di atas perahu.
***
Kuntul perak menyelimuti anak-anaknya selepas menyuapinya dengan beberapa serangga. Kepala anaknya bergetar, bulunya tegak berdiri. Induknya sesekali meregangkan tubuh, mendongak, menyapu sekeliling sebelum meninabobokkan crukcuk anaknya. Ketika tiba-tiba gertak kasar memecah cangkang kegelapan yang dibelah cahaya keperakan dari rembulan. Beberapa burung perancah dan Kuntul Kerbau bercuit kaget. Matanya membelalak menyorot hening. Seorang gadis tampak diikat tangan dan kakinya. Cahaya dari langit sesekali menimbul dan menenggelamkan tubuhnya. Matanya ditutup selendang dan mulutnya dibungkam. Kedua tangannya yang terikat diseret diatas bilah jembatan yang menghubungkan deretan kampung menuju tepi bakau. Kakinya nampak telanjang, dan gesekan papan jembatan dengan kain yang membalut tubuh gadis itu terdengar perih. Ia tak lagi mampu menjerit, beberapa trinil hijau mewakili dengan bercuit keras-keras. Dalam sekali hantam bilah kayu gadis itu tak berkutik. Dua orang tampak memegang tangannya erat, sedangkan lelaki yang lebih tambun mengeluarkan pistol dari balik bajunya, selongsong peluru melubangi dada gadis itu, dan suara ombak meredam desingnya. Ia memerintahkan dua lelaki yang memegangi mayat gadis itu untuk membuang jasadnya pada sela akar bakau yang sangat rapat. Membisik perlahan pada makhluk renik serta menitip pesan, agar melumat segera tubuh gadis itu sebelum meninggalkan tepian dan membakar perahu milik gadis itu.
***
“Sudah kau bereskan wargamu?” lelaki tambun itu mencomot pisang goreng di meja.
“Sudah, Tuan, saya katakan pada mereka kalau Denayu pergi meninggalkan kampung karena menolak menjual lahannya!” lagi-lagi matanya berbinar. Lelaki itu hanya berdehem dan mengangguk.
“Pak ini rencana desain pembangunan ekspansi perusahaan di areal ini. Kapan kita bisa mulai membangunnya?” seorang lelaki paruh baya menunjukkan desain rencana pembangunan perluasan perusahaan pada lelaki tambun itu.
“Tiga bulan lagi kita mulai proyeknya, ratakan dulu kampungnya, kemudian tebang semua bakau. Saya akan laporkan pada bos dulu,” manajer tambun itu menanggapi.
“Komisi buat saya mana Tuan?” tagih Imran, kepala dusun di kampung itu. Tiba-tiba satu dua cemara laut mengering, batangnya kosong. Ombak kian deras menampar bibir pantai dan menenggelamkan Trinil kaki hijau yang meregang di atas pasir.
Penulis adalah mahasiswa Ekonomi Pembangunan FE dan juara  1 dalam Kompetisi  Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi Tahun 2014 Kategori Cerpen.

Bagikan informasi ini: