Mengajar “Basa Jawa” pada Siswa Papua

10579811_10202155136438922_1440451863_nOleh Johan Slamet Raharjo

Ada hal baru tapi tetap bernuansa klasik yang disuguhkan kepada peserta didik di Jawa Timur pada tahun pembelajaran 2014/2015 ini. Hal baru tersebut adalah dikeluarkannya payung hukum untuk pelaksanaan pembelajaran bahasa Jawa dan Madura hingga tingkat SLTA oleh Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.
Perlu  diketahui sebelumnya, pembelajaran bahasa Jawa termasuk dalam kategori muatan lokal (mulok) wajib. Mulok bahasa Jawa dan Madura ini bukan produk Dinas Pendidikan Pusat, akan tetapi dirumuskan dan dikuatkan dengan SE Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur nomor 045.2/4340.07/2013, serta peraturan Gubernur  Jawa Timur No. 19 tahun 2014 tertanggal 3 April 2014 tentang mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib di sekolah/madrasah.
Dengan adanya payung hukum tersebut, para peserta didik ini akan memperoleh pembelajaran bahasa Jawa atau Madura sesuai dengan kondisi geografis dan kebijakan sekolah yang bersangkutan. Tidak terkecuali para siswa pendatang atau peserta didik yang berasal dari luar Jawa Timur, mereka juga wajib menempuh mulok ini. Hal menarik terjadi ketika piwulangan basa Jawa diberikan kepada para siswa yang berasal dari Papua. Sebuah tantangan menarik terutama bagi seorang guru, mata pelajaran, dan sekolah yang baru untuk melaksanakannya. Salah satunya dapat saya rasakan di SMA Negeri 4 Malang.
Berlokasi di area pusat pemerintahan dan salah satu sekolah favorit di kota pendidikan menjadi daya  tersediri bagi peserta didik untuk berlomba-lomba menempuh pendidikan di SMAN 4 Malang. Tidak hanya itu, SMAN 4 Malang menjadi salah satu destinasi kerjasama pengiriman pelajar salah satunya dari Papua. Ada lima siswa Papua yang mengikuti pelajaran bahasa Jawa.
Pada awal pembelajaran pasti digaungkan istilah “tak kenal maka tak sayang”. Para siswa dituntut untuk memperkenalkan diri dengan bahasa Jawa yang baik. Sebelum tampil, para siswa dibimbing untuk menyusun pokok-pokok yang akan disampaikan. Perhatian terpenting adalah pemilihan jenis bahasa yang akan digunakan. Hal ini dikarenakan dalam budaya Jawa ada aturan-aturan pemilihan bahasa sesuai dengan status orangnya.
Setelah selesai menyusun kerangka, satu persatu siswa mulai memperkenalkan diri menggunakan basa krama. Suasana kelas meriah karena para siswa berlomba-lomba menunjukkan kemampuan mereka dalam berbahasa Jawa, terlebih lagi setiap penampilan selalu mendapat tanggapan baik oleh guru maupun teman sejawatnya. Bak Anang atau Ahmad Dhani saat mengomentari peserta “Indonesian Idol”, tanggapan yang diberikan terkadang ada yang sifatnya serius dan candaan.
Sebagai acara pamungkas, maka salah satu siswa yang berasal dari Papua saya tugaskan untuk tampil. Siswa yang lain memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Ketika siswa dari Papua ini maju ke depan kelas suasana menjadi hening. Dengan membaca tulisan dibukunya secara terbata-bata dan perasaan gugup, ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan siswa yang berasal salah satu daerah di Papua, serta dipilih mengikuti program pengiriman siswa ke Malang.
Saat ia membaca tulisan dibukunya (dengan logat Papuanya), “Kula nggadhahi angen-angen dados guru”. Saya penasaran apakah dia mengerti yang ditulisnya. Saya terbersit untuk menanggapi. Saya berkata, “Bagus sekali Alpinus, kamu hebat sekali bisa berbahasa Jawa. Bagaimana caramu tadi kok bisa lancar berbahasa Jawa?”
Ia menjawab dengan malu-malu, “E.. maaf bapak, saya belajar sama-sama teman-teman di belakang”.
Saya pun menanggapi lagi, “Bagus sekali Alpinus, ayo coba tadi yang kamu baca yang terakhir apa artinya?”
“Cita-cita saya ingin menjadi guru, Bapak”, jawabnya.
“Hebat! Tapi, kenapa kamu ingin jadi guru?”
“Saya ingin membuat pintar teman-teman dan saudara saya di Papua, Bapak.” Sontak semua teman-teman sekelasnya mengapresiasi dengan berdiri dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.
Penulis adalah pembimbing mata pelajaran Bahasa Jawa di
SMAN 4 Malang.

Bagikan informasi ini: