Srikandi dalam Kabinet Baru UM

190631_100957419985444_6727322_nNama : Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D.
Alamat : River Side Kav. D-412, Blimbing, Malang
TTL : Malang, 13 Agustus 1965
Riwayat pendidikan:
• S1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang tahun 1989
• S2 Pendidikan dasar, Spesialisasi Bahasa, Institute of education, University of London, Inggris tahun 1996
• S3 TESOL, Monash University, Australia 2004
Pengalaman pekerjaan:
• Staf pengajar Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (1990—sekarang)
• Staf pengajar Program Studi Bahasa Indonesia SD – Pascasarjana, Universitas Negeri Malang (1997—2007)
• Staf pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris – Pascasarjana, Universitas Negeri Malang (2005—sekarang)
• Staf pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris – Pascasarjana, Universitas Negeri Malang (2005—sekarang)
• Ketua Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (2006—2011)
• Wakil direktur 1 Pascasarjana, Universitas Negeri Malang (2011—2015)
• Dekan Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang
Kiprah Lain:
• Anggota Tim Penyunting Pelaksana Jurnal Ilmu Pendidikan (1997—sekarang)
• Anggota Tim Penyunting Pelaksana Jurnal TEFLIN Journal (1997—sekarang)
• Ketua Tim Penyunting TEFLIN Journal (2007—sekarang)

Picture 903

Prof. Dr. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd selaku rektor periode 2014—2018 merombak
hampir semua kabinetnya. Alhasil
banyak bermunculan wajah-wajah baru dalam jajaran petinggi UM. Semua pejabat itu telah dilantik dalam empat tahap pelantikan. Dalam sambutannya, beliau menekankan untuk menjadikan UM sebagai world class university. Tentunya, agar semua dapat bekerja sama untuk mewujudkan misi ini. Memang, bukanlah hal mudah. Banyak yang menganggap tanggung
jawab yang diberikan rektor adalah tantangan yang harus diselesaikan.
Pada jajaran dekan periode ini muncul dua srikandi yang memimpin fakultasnya masingmasing. Mereka adalah Ibu Utami Widiati sebagai dekan Fakultas Sastra, serta Ibu Sumarni dengan jabatannya sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial. Munculnya dua sosok ini telah menepis paradigma perempuan dalam kepemimpinan. Keduanya terpilih melalui proses pengambilan
suara terbanyak. Sehingga, Ibu Sumarni dan Ibu Utami memang orang yang diinginkan civitas akademika di fakultasnya masing masing.
Mendapat tanggung jawab menjadi dekan Fakultas Sastra bukanlah hal yang menyenangkan bagi Ibu Utami. Apalagi dengan target UM menjadi universitas kelas dunia dan perguruan tinggi badan hukum. Begitulah yang diungkapkannya ketika diwawancara Komunikasi. Namun, di sisi lain banyak yang mengharapkannya sebagai dekan. Jika melihat jejaknya, banyak pengalaman yang telah didapatkan. Hal itu yang menjadi salah satu faktor dia mendapat banyak dukungan untuk menjadi dekan.
Banyak inovasi yang telah dipikirkan Utami untuk Fakultas Sastra. Dengan berkaca pada kepemimpinan Bapak Dawud selaku dekan periode sebelumnya. Beliau akan menjalankan tugasnya empat tahun ke depan. Sebagai dekan, beliau dikenal sebagai orang yang sibuk. Beruntung kami berkesempatan untuk berbincang langsung
dengannya. Di ruang kerjanya banyak cerita yang diungkapkan. Berikut wawancaranya.
Dalam pencalonan Ibu sebagi dekan,
apakah inisiatif sendiri?
Sesuai mekanisme, saya mengisi surat pernyataan kesediaan. Sebenarnya saya enggan. Rasanya tidak senang. Tetapi karena
prosedur, maka saya harus lakukan. Juga melihat banyak kolega yang menginginkan saya berkontribusi untuk Fakultas Sastra.
Ketika proses penjaringan seperti apa?
Saat penjaringan memang saya di posisi pertama. 84 suara berada di saya, 64 suara berada pada calon kedua, dan calon ketiga mendapat 17 suara. Dengan perolehan suara itu, mengindikasikan banyak yang
menginginkan saya untuk posisi ini (dekan). Yasudah, saya menerima amanah itu. Jadilah saya the first female dean di Fakultas Sastra.
Bagaimana dengan susunan wakil dekan?
Setelah banyak pertimbangan, muncullah komposisi Ibu Prima sebagai wakil dekan satu. Bapak Roekhan sebagai wakil dekan
dua dan Bapak Kholisin sebagai wakil dekan tiga. Sehingga paling tidak komposisinya menjadi dua laki-laki dan dua perempuan
di dekanat. Menurut saya kalau memang mampu tidak masalah wanita atau tidak. Artinya, ini bukan pekerjaan yang bersifat fisik. Tetapi lebih pada pemikiran. Doanya mudah-mudahan sehat, mampu mengemban amanah dengan baik.
Sebelum menjadi dekan seperti sekarang, Ibu pernah mendapat jabatan apa saja?
Dulu mengawali karir sebagai sekretaris jurusan. Lalu, menjadi ketua jurusan selama dua periode. Namun, pada periode kedua
tidak sampai tuntas. Karena ada promosi untuk menjadi Wakil Direktur I Pascasarjana. Sebenarnya, untuk wakil direktur satu juga
belum selesai. Berhubung rektor baru, jadi semua kabinet harus baru. Yasudah, saya kembali pulang ke Sastra.
Reaksi rekan-rekan Ibu?
Mungkin paling banyak dari teman-teman Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka yang mengalami masa kepemimpinan saya ketika menjadi ketua jurusan. Kalau ada yang tidak memilih saya, saya harap diikhlaskan. Pada akhirnya saya yang dilantik. Saya berharap semua dapat bekerja sama untuk memajukan Fakultas Sastra.
Apa yang akan ibu lakukan untuk Fakultas
Sastra?
Sesuai dengan moto rektor kita, yaitu “guru”, unggul dan menjadi rujukan. Sehingga dua hal utama yang menjadi pesan beliau adalah bagaimana menjadikan UM sebagai unit yang unggul dan menjadi
rujukan. Muara akhirnya pada tahun 2017, cita-cita UM menjadi PT-BH dan internasionalisasi terwujud.
Untuk internasionalisasi, pergerakan kita di Fakultas Sastra dimulai dari program studi. Bagaimana program studi kita mampu mendapatkan pengakuan akreditasi internasional. Tepatnya, melalui
Asian University Network Quality Ansurance (AUN-QA). Jika mampu menembus AUNQA, berarti menyukseskan program rektor
untuk go international.
Diluar kesibukan sebagai dekan dan dosen, apakah ada yang lainnya?
Ibu rumah tangga dengan empat anak. Ada yang masih kecil, kelas empat SD. Dia hiburan kami. Kalau kegiatan sosial, sebagai penghibur diri, ya ngaji. Melepas lelah, menata hati, dan mendinginkan pikiran. Kalau urusan pekerjaan kan terus, otak bisa
panas.
Ke depan saya ingin program-program di Fakultas Sastra yang bisa menyeimbangkan kecerdasan spiritual, sosial, dan kognitif. Jadi, bagaimana menjadikan mahasiswa sastra sebagai mahasiswa yang utuh. Walau tidak semua ditakdirkan pandai, tapi jika spiritual dan sosial hebat, maka tetap mempunyai kontribusi yang baik di masyarakat.
Kalau keterlibatan Ibu dalam kurikulum 2013?
Terlibat dalam penulisan buku K-13 untuk kelas X dan XII. Untuk kelas XII masih dalam proses finalisasi. Jika finalisasi sudah selesai,
maka akan dipakai untuk tahun ajaran 2015/2016.
Target yang ingin dicapai selama menjadi dekan?
Semua target sesuai dengan renstra yang kami susun. Renstra itu berasal dari visi dan misi universitas. Kemudian kami tajamkan
di level fakultas. Jadi, kami membayangkan Fakultas Sastra mempunyai suatu khas.
Kami berharap mampu membuat program KKN untuk mahasiswa Fakultas Sastra. Bentuknya, mereka dapat memberikan kursus bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Mandarin, atau bahasa Arab
kepada program studi lain. Sehingga perlu kerja sama dengan dekan-dekan di UM.
Ke depannya, saya juga ingin berkerja sama dengan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan. Dimana menyinergikan antara seni dan olahraga. Sehingga mahasiswa kita energinya bisa tersalurkan dengan baik. Kita lihat hari Sabtu di UM cenderung sepi. Jadi, bagaimana kampus sebagai second home for our student. Harapannya, mahasiswa dapat berkontribusi untuk kemanfaatan umat.
Bentuk dukungan keluarga?
Selama ini, saya merasa suami sangat mendukung. Ketika ia menjadi guru dan memperbolehkan saya menjadi dosen adalah hal yang luar biasa. Termasuk ketika mengizinkan untuk ke Inggris mengambil
S2 selama satu setengah tahun. Saya merasa berpisah degan keluarga sangat berat. Alhamdulillah, bisa ke Australia untuk
mengambil S3 dengan membawa anak-anak dan suami. Ajrul

Bagikan informasi ini: