Elegi di Tapal Negeri

TRIWIBOWO PROBO SUKARNO - Elegi di Tapal NegeriOleh Tri Wibowo Probo

Bangunan tua merah merekah ditimpuk malam yang menjelang muram, kulitnya usang memanggul barisan atap berwarnakan kelabu. Desir tubuhku bercampur hembusan nafas manusia menjemukan bagi penghirupnya. Meskipun malam telah larut bersama desingan suara kendaraan bermotor, namun pemuja dunia masih enggan mengabaikan kepulan asap rokok yang mengudara di sela mata mereka yang semakin sembab. Apalagi jika sesekali ada wanita dengan hiasan gincu merah cerah membalut bibir dengan menor, yang biasa mangkal datang menggoda makhluk tajir berharta uang, dan para pria lamat-lamat hadir mengurai kesedihan harinya bersama mereka. Manusia yang tergambarkan dalam  kemegahan dan kebesaran, nyatanya banyak yang terhempas deretan gedung-gedung tinggi berpagar besi. Dulu mereka dipuja karena perkasa, namun kini bernafas sebagai penghamba dunia. Tiada arti lagi, namun simbol kuasanya berdiri sombong bagi yang menyanjung.
Lalu tubuhku melayang terbang, menatap satu, dua, sepuluh, seratus, bahkan sejuta kendaraan menderu pilu sepanjang jalanan beraspal. Beberapa tampak marah sembari umpatan yang tergambar lewat tatapan mata mereka, para makhluk bermesin. Namun beberapa duduk santai meneguk sebotol kopi di dalam mobil mewahnya, berkacamata hitam, serta menikmati umpatan-umpatan yang orang lain lontarkan tanpa ia ketahui apakah hal itu tertuju padanya atau hanya sebatas kicauan malam. Para manusia itulah yang menjadikan kehidupan menjadi hidup, berlaga di tengah nestapa sebelum menemukan kehidupan dapat terwujud dalam situasi yang menderita sekaligus.
Kutatapnya malam bersama pendarnya cahaya.
Rama-rama yang mengguncang perasaanku, di balik selimut dunia berwarna biru tergerai menemani embun yang sedari tadi meraba-raba lembut dedaunan. Kilau mentari berpacu dengan ceria menggantikan cahaya lampu kota yang satu persatu mulai mengatupkan dirinya. Namun masih dengan deru mesin, dan bising, ada langkah-langkah kaki pejuang kehidupan, serta tubuhku yang makin lusuh tak cemerlang. Gedung-gedung semakin angkuh, mengurai rintihan malam yang telah berlalu. Sebagian dari mereka tersenyum sangar saat satu persatu manusia melangkahkan kakinya menuju ladang keuangan Negara, dengan perhiasan di tubuhnya yang gemerlap, menggilas guratan kebohongan dan kenestapaan yang terpancar dari wajah.
Namun aku mengerti bagaimana mereka mengutuk kesedihannya, meskipun mereka terdiam dan sesekali menyunggingkan senyuman di balik lukisan palsunya. Karena aku dapat melaju semauku tanpa mengundang rasa curiga dari mereka, lantas aku dapat bersemayam sejenak di hati mereka untuk melihat apa yang tengah mereka lakukan.
“Jadi apa yang hendak kau gulirkan? Waktu? Harta? Atau kau lawan Tuhanmu demi tuan burukmu itu?” tanyaku pada sebongkah darah merah yang selama ini mengendalikan laku manusia. Namun ia hanya tersenyum picik. Terdiam, sambil sesekali meneguk cairan anggur merah yang tiba-tiba mengucurnya.
Semasa kemudian kuberanikan diri membungkam mulutnya yang masih bersimbah memerah itu, walaupun aku jijik dengan konturnya yang lembek dan pekat. “Apakah aku sedang berbincang dengan makhluk kotor tak bersuara? Sedangkan kau mampu menjadi pusat dan kesayangan tuanmu.” ujarku lagi. Dia tak memberontak, namun sorot matanya semakin dalam menampar kalbuku yang sedang mendidih karenanya. Jujur saja mata berwarna hitam, tajam, dan berkilau itu membuatku ketakutan, meskipun ia belum berkata atau bertindak apa-apa. Perlahan-lahan kulepaskan jeratan tanganku, meskipun tampak lemah namun aku tak mampu menahannya. “Ceritakan,” pintaku.
“Jika kau yakin bahwa manusia telah berdiam dalam kelembutannya, selanjutnya ia turun dari panggung kehidupannya, berpesta dengan dosa, apakah kau mampu membendungnya? Sementara kulihat ilmu mereka terurai dalam balutan kenangan. Hanya kenangan.”
Aku masih saja dengan kebingunganku yang tengah diuji sang hati. Walaupun semua tampak masih abu-abu, namun aku sudah menduga-duga bahwa ada alasan lain mengapa ilmu yang mereka miliki tak mampu membawa mereka kepada kelembutan dan kehati-hatian.
“Mereka sudah berdiri di tepian kemunafikannya. Mereka bangga, apakah kau mau membendungnya bersamaan dengan rasa bamu itu?” lanjutnya.
Seketika kulayangkan tubuhku mengikuti arah hati yang sedang mengutuk itu. Kudengar umpatan kecil saat perlahan-lahan tubuhku meninggalkannya. Dalam hati kecil aku membenarkan ungkapan makhluk yang baru saja kutemui itu, meskipu aku tak menyukai nadanya, tak menyukai warnanya, apalagi senyumnya yang seolah-olah menertawakan aksi heroik yang aku perjuangkan demi manusia yang tersisih. Yang lahir di negeri kesakitan, di mana rasa cinta tenggelam digerus ilmu pengetahuan yang ia miliki. Negeri yang membuka dirinya diperkosa oleh budaya asing, suara-suara terkoyak kesakitan menjelma sebait nyanyian kenikmatan. Perlahan namun pasti kulalui hari dengan berdiri di atas terik mentari, menjelajah langit nusantara menuju ladang tempat aku bersemayam dulu.
Bau tanah di bumi ini masih sama dengan yang aku temui berpuluh tahun yang lalu. Cara wanita-wanita itu menguari rambutnya yang pekat, ataupun mereka yang memandang gundukan kayu di dapur rumahnya, sudah sangat berbeda dari sebelumnya. Kidung yang mereka lagukan adalah rintihan kecil, terpadu dalam nikmatnya seteguk harapan yang sengaja ia simpan di lumbung padi mereka rapat-rapat. Perdu dan melati menggumpal tersayat barisan waktu yang sudah mulai tahu kemana harus mendayu. Apalagi jika anak tergeletak di rumah kayu, tertabur percikan gedhek yang seringkali bergetar akibat sentuhan lalat. Padahal hari masih siang. Namun mereka sudah tergelayut dalam kepiluannya yang seolah menjadi warisan dari emak dan bapaknya. Bukankah siang adalah saat yang tepat untuk bekerja? Mengurus anak kambing yang baru saja keluar dari perut induknya? Ataupun berburu kayu untuk emak yang sibuk duduk di pawon?
Entahlah. Aku hanya angin kecil yang tak tahu persis mengapa hal  bisa tejadi. Yang aku tahu laki-laki itu bernama Buyung. Tubuhnya kering lurus menggambarkan penderitaan, matanya sayu kemerahan seolah-olah nyawa yang nestapa, dan wajahnya seringkali pucat. Dua gigi tengahnya terlihat panjang sehingga ia susah membungkam mulutnya dalam waktu yang lama. Warna kulitnya yang legam akibat terpanggang kemarahan matahari. Tak banyak yang dapat ia dapatkan. Bahkan ia tak mampu bercerita dirinya, apalagi masa depan yang baginya hanya sebuah angan.
Buyung tak sendiri, tak jauh dari keberadaannya masih banyak buyung lain yang keadaannya hampir sama dengan dirinya. Hari dilalui dengan mengikis badai lewat rintihan, menghujat, mencaci, ataupun meronta pada teriknya asa. Tidak ada satupun kedamaian menyelimuti hati mereka, walaupun hujan atau panas silih berganti menemani mereka. Lantas aku pun menelusuri jalanan, mencari jawaban adakah harapan yang tersisa di sana selain untuk perut mereka?
Terperangah oleh mata, terperanjat oleh jiwa. Masa lalu dan masa depan nyatanya hanya terpampang dalam hingar bingar keramaian kota. Di sini tak kutemui pagi yang mulai berdiri menopang mimpi, yang terbangun oleh riuhnya malam, tiada nona ataupun tuan berjalan menyusuri jalanan, tiada buyung ataupun saudara perempuannya yang berlari menjemput waktu, mereka berjalan bukan karena keinginan menjemput masa depan, melainkan wujud baktinya pada bapak dan emak. Tiada gedung-gedung layaknya orang-orang kota mencari ilmu, langit harapan juga tidak membentangkan rumus-rumus. Yang mereka tahu hanyalah berapa dan bagaimana hidup dengan perut terisi, tak peduli apakah barisan bangku sekolah mampu mengantarkan kehidupannya lebih baik.
Aku pun sadar, daun-daun yang berguguran mengingatkanku pada makhluk merah yang kutemui sebelumnya. Mereka telah menjadi manusia yang dingin, dengan pengetahuannya yang menuju sempurna, yang mengenalkan cara bagaimana mengasah taringnya kala dunia tertidur pulas, lalu mengoyak senja dengan kemarau panjangnya. Dan si Buyung, ia masih saja tertidur pulas dengan kelelahannya, persis dengan lengan mungilnya yang masih mendekap perut, yang sedari subuh belum terisi. Sejurus kemudian, kulayangkan tubuhku mengikuti kemana keinginan menuntunku, semakin tinggi semakin tampak hitam dan putih. Ooh tidak, itu abu-abu. Aku menyaksikan negeri ini sudah tenggelam dalam kebahagiaan mereka, yang kelabu.
Penulis adalah  mahasiswa
Bimbingan Konseling

Bagikan informasi ini: