Tempias Hujan Seberang Jalan

Oleh Novia Anggraini

Sejak pertama kali bertemu dengannya, engkau sudah tahu bahwa ia bukanlah tipe lelaki yang akan mengizinkan perempuan biasa tanpa suatu keistimewaan apa-apa: mencintainya.

Kau bertemu dengannya–kalau bisa dibilang bertemu, atau melihat lebih tepatnya– di sebuah warung kopi yang biasa kau kunjungi saat banyak masalah menerpamu. Waktu itu sekitar pukul lima sore, mendung membuat langit kehilangan semburat merah keoranyeannya karena rintik hujan yang terus turun dengan derasnya. Barangkali, memang sudah direncanakan Tuhan bahwa semburat merah itu sengaja dipinjamkan kepadamu ketika engkau bertemu lelaki itu. Meski kehilangan senja, yang adalah bagian favoritmu dalam hitungan dua puluh empat jam bumi berputar, engkau tidak merasa sedih kala itu. Karena hatimu sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi sejak semestamu beralih kepada laki-laki di seberang jalan itu.
Hujan semakin deras, dan lelaki yang kelak engkau ketahui bernama Hanif itu semakin tidak peduli dengan hujan yang telah membasahi sekujur tubuhnya. Kau pandang gelas cappucinomu yang isinya hampir habis, kemudian tanpa ragu kau minum semua sisanya dalam sekali teguk. Perutmu hangat, tenggorokanmu hangat, tetapi tubuhmu dingin. Tubuhmu seolah ingin merasakan apa yang tengah menimpa tubuh Hanif yang berdada bidang itu. Dengan suatu cara yang tidak pernah engkau pahami hingga kini, tubuhmu selalu menunjukkan reaksi biologis yang sama dengan tubuh milik Hanif.
Maka tidak lagi menjadi sebuah keheranan ketika pada suatu sore kala engkau hendak berangkat ke warung kopi dengan suasana hati yang kacau balau akibat segudang masalah yang tiada berakar, engkau dikejutkan oleh pertanyaan ibumu, “Semakin kurus saja rupanya, engkau?”
Kau segera memerhatikan tubuhmu dari ujung kaki hingga ujung kepala sebagai tindakan refleks atas pertanyaan ibumu. Pada saat itu barulah kau sadari bahwa tubuhmu memang kehilangan cukup banyak lemak di bagian sana sini. Setengah tersenyum engkau membatin, “Engkau juga pasti bertambah kurus juga kan, Han?”
Tanpa harus bertemu dengan Hanif pun engkau sudah tahu apa jawabannya. Bahagia dengan kenyataan bahwa yang engkau alami akan selalu sama dengan apa yang dialami Hanif, engkau melangkahkan kaki menuju warung kopi langgananmu dengan hati yang luas dan riang. Seolah berat beban yang barusan menerpamu hilang seketika, semudah engkau kehilangan berat badan dengan tanpa kau sadari.
Tetapi sungguh sangat disayangkan, hari itu kau tidak melihat Hanif berdiri di tempat yang biasanya. Barangkali kaupun juga belum menyadari bahwa kemarin sore adalah waktu yang disediakan Tuhan untuk terakhir kalinya engkau melihat lelaki itu. Kemana lelaki itu, dimana ia saat ini, apa yang dilakukannya saat ini sehingga ia tak lagi berdiri di tempat yang sama selama belasan hari kau melihatnya sebelum ini; begitu kira-kira berbagai kecamuk pertanyaan yang menghantam otakmu. Kau resah, dudukmu tidak tenang dan siapapun yang ada di warung kopi itu mampu menangkap kegelisahanmu dengan hanya sekali pandang.
“Kenapa, Mbak?” seseorang mencolek bahumu dan menyeretmu kembali ke dunia nyata dengan paksa. Kau memandang lelaki itu dengan mata nyalang seolah ingin menerkamnya untuk santap malam.
Setengah menahan teriak caci maki yang kau tahan-tahan agar tidak keluar dari mulutmu yang bau parfum rasa apel manalagi, kau menjawab singkat dengan pertanyaan balikan, “Anda siapa?”
Ibumu pasti akan marah bila tahu engkau menjawab pertanyaan dengan cara begitu. Tapi kau sudah tidak menaruh peduli, toh ibumu tidak sedang berada di warung kopi itu. Maka kau lanjutkan saja pertanyaanmu dengan lebih banyak basa basi, siapa tahu lelaki itu bisa memberimu info tentang keberadaan Hanif, gumammu dalam hati. “Anda sering kemari?” sebuah tanya meluncur dengan lembut dari bibirmu. Yang kau tanyai agak sedikit tergagap dan entah karena alasan apa, tiba-tiba semburat merah muda menghiasi wajahnya.
“Saya sering memerhatikan Anda,” jawabnya sopan. Ia kemudian menarik sebuah kursi yang berada di hadapanmu dan mendudukkan tubuhnya dengan gaya ala bos sebuah perusahaan besar. Kau menggerakkan alismu sedikit ke atas –sekadar karena tak tahu harus bereaksi macam apa setelah mendengar pengakuannya barusan.
“Oh ya?” hanya itu desisan kata yang menurutmu paling layak diucapkan kala itu. Sambil menunggu tindakan selanjutnya dari lelaki yang kini duduk di depanmu, matamu tiada henti mengarahkan pandangan ke seberang jalan, tepat di bawah tiang lampu dan di dekat telepon umum sebelah sana itu: tempat Hanif biasanya berdiri dan dengan leluasa bisa kau pandangi sepuas hatimu. Tempat itu kosong hari ini, dan engkau tiba-tiba merasa seolah tidak akan pernah melihat Hanif berdiri disana lagi.
“Kau pernah melihat sesuatu terjadi disana?” tanya lelaki itu lagi, kali ini ditambahi dengan senyum dan sebuah kalimat penjelas yang nampaknya lebih kau butuhkan, “Oh ya, namaku Abhi dengan huruf H diantara B dan I. Abhimanyu. Salam kenal.” Selepas memperkenalkan dirinya, ia mengulurkan tangannya padamu dengan harapan kau akan menyebutkan namamu, alamat rumahmu, nomor handphone dan apakah kau sudah memiliki pacar atau belum. Engkau pun menjabat tangannya, tetapi tidak menyebutkan apa-apa seperti yang Abhi harapkan akan kau sebutkan.
“Pernah melihat seseorang berdiri di bawah tiang lampu dekat telepon umum di sebelah sana itu?” lagi-lagi kau menjawab pertanyaan dengan mengajukan tanya balik. Sungguh tidak sopannya dirimu hanya karena diselubungi ketakutan tidak akan bisa melihat Hanif lagi.
“Seseorang? Di sebelah sana itu?” Abhi mengarahkan lehernya yang jenjang dan menawan ke arah yang kau tunjukkan. Setelah berdiam diri agak lama, ia kembali membuka mulutnya. Kali ini sebuah tanya yang dilontarkan dengan penuh nada heran yang terdengar sumbang di telingamu, “Apa yang kau lihat seorang laki-laki?”
***
“Mau berapa lama lagi kau akan menunggunya? Ini sudah hampir petang, dan langit pun sepertinya akan menurunkan hujan,” Abhi memprotes keputusan sahabatnya yang masih kukuh dengan pendirian semula untuk membatu di tempat yang sama sekalipun rintik hujan sudah mulai menetesi kaos putih yang dikenakannya.
Yang diajak bicara hanya menanggapi singkat saja, “Pulanglah dulu, Abhi. Terima kasih sudah menemani hari ini.”
Tidak, Hanif, tidak! Tak akan ku biarkan kau menyiksa dirimu lebih lama lagi di tempat terkutuk ini, gumam Abhimanyu. Gumam yang hanya dia dan Tuhan saja yang tahu, sebab telah diputuskannya dalam hatinya sendiri bahwa ia tak akan meninggalkan Hanif sendirian di tempat itu. Ia takut orang lain akan menilai sahabatnya serupa orang gila.
Tetapi Hanif memang sudah gila. Sudah berhari-hari ini ia tak melakukan apa-apa selain berdiri membatu di bawah tiang lampu dekat telepon umum seberang warung kopi yang dulu seringkali dikunjunginya. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang mampu menggeser seinci kaki Hanif agar berpindah dari tempatnya berdiri saat ini. Bahkan bila kiamat menimpa bumi detik ini juga, barangkali Hanif akan dengan sukarela merengkuh tiang lampu itu dan mati bersamanya.
Perut Abhi yang keroncongan tak jua mampu merontokkan sendi-sendi keteguhan yang dibangun Hanif laksana benteng berbatu di puncak bukit yang tak mungkin ditembus dengan tank atau meriam sekalipun. Hanif tetap memposisikan dirinya sebagai arca yang menjaga tiang lampu di sampingnya.
Pernah suatu ketika Abhi hampir saja mati tersedak kala seorang pejalan kaki yang lewat melihat Hanif dan berkomentar, “Ah, seandainya patung sesempurna itu diletakkan di depan museum, pasti akan lebih banyak pengunjung yang mau datang ke museum kita, terutama yang muda-muda!”
Saat itu Abhi sedang mengunyah roti sebagai sarapan –sebab Hanif tak hendak memakan bagiannya– dan menyemburlah seluruh roti isi selai blueberry itu demi didengarnya kalimat barusan diucapkan oleh seorang veteran penjaga museum kota. Semburannya mengenai sedikit wajah Hanif, dan Abhi semakin tergelak sambil memegangi perutnya. Untuk pertama kalinya sejak hampir setahun silam, Abhi melihat Hanif kembali tersenyum. Demi senyum itu, Tuhan, aku rela menyemburkan roti isi selaiku setiap hari di hadapan Hanif, batin Abhi.
Abhi sudah tak ingat lagi kapan tepatnya terakhir kali Hanif tersenyum. Sejak Alia, gadis cantik yang senantiasa memesan cappucino dengan sedikit tambahan gula di warung kopi seberang jalan itu tak lagi dijumpainya, Hanif seperti orang dungu: menunggu sesuatu yang sia-sia. Hanya berbekal perkenalan awal saat keduanya antre menggunakan telepon umum, Hanif tahu nama gadis itu Alia. Alia datang ke warung kopi seberang jalan hampir setiap hari, sama dengan hampir-setiap-harinya-Hanif berdiri di seberang jalan demi memandangi Alia dari kejauhan.
Alia tahu Hanif memerhatikannya dari seberang jalan. Oleh sebab itu, ia selalu memilih tempat duduk yang sama di pojok ruangan, tempat dimana ia bisa dengan leluasa dipandangi dan secara diam-diam memandangi Hanif. Perasaan keduanya begitu tulus, begitu murni. Keduanya sama-sama mencukupkan sampai disitu saja tindakan mereka, tanpa perlu melakukan perkenalan lebih dekat lagi; bunga-bunga merah muda sudah mekar di hati mereka dengan sangat telaknya. Rindu menghukum melalui rintik-rintik gerimis yang mengaburkan pandangan keduanya untuk saling bertatap. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berusaha untuk mendekat atau menyentuh satu sama lain.
Tetapi kemudian Alia menghilang, tak lagi datang dan memesan cappucino dengan sedikit tambahan gula seperti biasanya –bahkan Hanif sama sekali belum sempat menunjukkan wajah dan rupa gadis itu kepada Abhi. Bersamaan dengan itu, hilang pula kewarasan Hanif. Ditunggunya Alia datang kembali ke warung kopi itu dengan hati yang cemas dan dada yang terbakar resah. Namun, ia tak jua kembali –sama seperti kewarasan Hanif yang juga lenyap sama sekali. Sampai satu tahun setelah Alia menghilang, Abhi masih tetap setia menemani Hanif berdiri di seberang jalan depan warung kopi.
***
Kau mengerutkan keningmu seketika kala Abhi dengan telaknya bertanya, “Apa yang kau lihat seorang laki-laki?”
Waktu itu kau ingin menjawab, “Ya, seorang lelaki. Lelaki yang sangat tampan dengan badan tegap nan gagah dan menawan hati.” Tapi nyatanya yang keluar dari mulutmu justru gumaman-gumaman tak jelas yang membuat Abhi harus bolak-balik menajamkan telinganya agar bisa menangkap apa yang tengah kau bicarakan.
Waktu semakin berlalu dalam lingkaran kabut-kabut bekas hujan yang mulai menciptakan aroma tanah basah di sekelilingmu. Kau dengan kesadaran penuh memahami bahwa bukan hanya tanah saja yang basah selepas hujan tadi itu, melainkan juga hatimu.
“Gelasmu sudah kosong,” Abhi mengangkat tangannya yang putih mulus sebagai isyarat memanggil pelayan agar datang ke meja kalian. “Kau mau ku pesankan apa?” tanya Abhi padamu.
“Errrr… segelas cappucino lagi,” jawabmu gelagapan.
Pelayan datang dan mencatat pesananmu, juga pesanan Abhi. Setelah pelayan itu melangkahkan kakinya hendak pergi dari mejamu, tiba-tiba saja engkau membuka mulut dan menambahkan sedikit catatan pada pesananmu barusan, “Cappucinonya dengan tambahan sedikit gula ya, Mas.”
Kali ini giliran Abhi yang megap-megap. Mirip seperti ikan koi yang diangkat dari kolam dan dilemparkan ke daratan.
Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia

Bagikan informasi ini: