Lesson Study, Tingkatkan Mutu Pembelajaran bersama Benesse Corporation dan Dinas Pendidikan Kota Malang

Oleh Ibrohim

Untitled-1

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menyongsong tantangan, dan kebutuhan dunia global terus dilakukan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. UM merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang sudah berkiprah sejak tahun 1954 dan menunjukkan eksitensinya. Salah satunya menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Untuk meningkatkan peran tersebut UM menjalin kerjasama dengan Benesse Corporation Jepang membantu guru-guru di kota Malang mengembangkan kualitas pembelajaran Matematika dan Sains melalui kegiatan Lesson Study dalam kemasan Lesson Study Club (LSC). LSC mengandung makna dan konsekuensi bahwa dalam setiap kegiatan Lesson Study, mulai dari pertemuan untuk perencanaan pembelajaran (plan), pelaksanaan pembelajaran yang diobservasi (do), dan refleksi (see) secara bersiklus dilakukan atas kesadaran, minat, dan kemauan guru untuk berkembang, dengan tanpa adanya insentif finansial seperti transpor atau konsumsi.
Program BLSC Malang secara formal telah dimulai pada Mei 2014 dengan dikuatkan melalui penanda tanganan MoU oleh Direktur Benesse Corporation Indonesia, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, dan Rektor UM. Peran UM dalam kegiatan ini adalah menyediakan tenaga dosen pendamping atau narasumber dalam menguatkan pemahaman guru tentang lesson study dan pembelajaran matematika dan sains. Sementara itu, pihak Benesse mendanai kedatangan narasumber (expert) dari Jepang. Kegiatan LSC dilakukan secara rutin setiap bulan dengan 2-3 hari kegiatan. Tempat kegiatan bergantian di beberapa sekolah rintisan, seperti SDN Purwodadi 1, SD Muhammadiyah 9, SD Anak Sholeh, SD Insan Amanah, SD Lab UM, SMPN 25, dan SMAN 4 Malang. Dalam setiap kegiatan LSC diikuti oleh lebih dari dua puluh guru dan sejumlah dosen pedamping dari UM.
Pengalaman yang mengesankan pengalaman ketika mengikuti kegiatan BLSC pada 16-17 April 2015 di SD Anak Sholeh Kota Malang dengan tema Himpunan untuk Kelas III SD. Kegiatan BLSC saat itu telah berjalan sebagaimana yang direncanakan dan mengalami perkembangan yang signifikan. Para guru anggota telah merasakan manfaat kegiatan itu. Dari setiap kali kegiatan plan, didapatkan kesan bahwa guru banyak kehilangan fokus tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Umumnya, tujuan pembelajaran hanya diorientasikan untuk meningkatkan pemahaman siswa pada pengetahuan level rendah, belum menyentuh pada keterampilan berpikir yang lebih tinggi. Saat ini guru mulai menyadari, tujuan dan materi esensial yang harus dikuasai oleh siswa.
Seperti diketahui bahwa pada saat membuat perencanaan pembelajaran, pasti akan memikirkan dua hal penting: “What to teach” dan “How to teach”. Dari pengalaman belajar bersama-sama guru di berbagai tempat, fokus sepertinya lebih kepada yang kedua. Sering dalam kegiatan plan, para dosen dan expert (Ryo Suzuki) berusaha mengajak bapak/ibu guru untuk membahas lebih dalam tentang tujuan, tetapi diskusinya selalu lari ke bagaimana mereka akan mengajar. Dalam kegiatan kali ini, dititikberatkan pentingnya memahami “What to teach” dan membahasnya secara terperinci. Selesai open class hari pertama, dinilai kegiatan berjalan kurang memuaskan, karena “What to teach”nya kurang konkret. Ketika kami semakin memahami apa yang akan diajarkan, “How to teach” seolah terhampar di depan dengan jelas, tinggal dipoles dengan berbagai ide. Open class hari kedua pun berlangsung dengan jauh lebih memuaskan. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, siswa dapat membahas lebih spesifik. Mereka bahkan lebih hebat daripada kami ketika memikirkan dan mendiskusikan kebingungan yang mereka hadapi. Di akhir pelajaran pun mereka mampu menunjukkan pemahaman yang mereka peroleh dengan sharing kepada teman-temannya.
Memang, umumnya guru tidak terlalu membahas yang akan diajarkan kepada siswa karena menganggap semuanya sudah ada di buku, merasa tidak perlu menganalisis semua penjelasan yang tertera, dan apa yang sebenarnya penting untuk diperoleh siswa. Guru lebih sibuk memikirkan bagaimana cara menyampaikan semua yang ada di buku pada siswa. Namun sebenarnya ketika dibimbing dan diberi kesempatan untuk mendiskusikannya, guru tersebut dapat melakukannya dengan baik. Ketika telah menyadari apa yang menjadi kelalaian mereka selama ini, mereka pun sungguh merasa menyesal.
Dalam kegiatan BLSC Malang, para dosen FMIPA UM dan beberapa dosen dari fakultas lain, bahkan juga dari FKIP UMM belajar banyak tentang bagaimana mendesain sebuah pembelajaran. Tidak jarang mereka menyatakan gagal, bahwa apa yang dirancang di belakang meja dalam menyusun RPP atau SAP ternyata kurang berhasil membelajarkan siswa/mahasiswanya. Namun, ketika melakukan refleksi mereka dapat menganlisis secara mendalam pelajaran yang telah diobservasi dan mengusulkan berbagai ide untuk mencoba memperbaikinya. Demikianlah esensi dari lesson study, belajar dari pembelajaran yang diobservasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Cara ini pula yang semestinya menjadi wahana bagi para dosen di UM untuk terus belajar dan mengembangkan pendidikan dan pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan dengan wadah Kelompok Bidang Keahlian (KBK) dan menunjukkan jati dirinya sebagai The Learning University.
Mari bergabung bersama BLSCM untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dan pendidikan bagi calon guru. Semoga semakin banyak guru, dosen, dan pendidik di Indonesia yang menyadari permasalahan ini.

Penulis adalah Wakil Dekan 1 FMIPA UM

Bagikan informasi ini: