Tidak Sadarkan Diri

agama illustSungguh waktu itu berjalan detik demi detik dan terus berputar maju tak pernah mundur, hingga masa yang dahulu terasa hanya selama kedipan mata. Ketika waktu terus berjalan perlu kita renungi dan pikirkan untuk diri sendiri, “Apakah selama ini kita dikuasai waktu, atau selama ini kita menguasai waktu?” Jawabannya pasti beragam dan mempunyai alasan tersendiri. Namun, terlepas dari itu semua sudah bisa dipastikan bahwa kita akan meninggalkan waktu (mati).
Selama kita masih hidup, kita akan tetap terikat dengan waktu. Tetapi, ingatlah bahwa setelah jatah hidup kita habis di dunia, kita akan memasuki ruang di mana waktu sudah tak berarti lagi, yaitu akhirat. Tempat di mana tak ada jam yang berputar serta tak ada siang dan malam. Ketika di dunia, waktu terlewati dengan kesalahan. Menyesali dan memperbaikinya sekarang masih bisa. Syukurlah bagi kita yang mau memperbaiki dan tak mengulangi menggunakan waktu dengan salah. Tetapi ingat, waktu yang sudah kita lewati di dunia ini semuanya akan dipertanggungjawabkan kegunaanya di tempat yang tidak terikat waktu, yaitu “akhirat”. Untuk itu, mari kita gunakan berjalannya waktu yang masih bisa kita rasakan ini dengan melakukan hal yang bermanfaat dan sebaik mungkin sebelum jatah kita menikmati waktu di dunia habis.
Sebagai umat yang beriman kita pasti sudah pernah melewati waktu yang sangat mulia dan berharga, yaitu ramadan. Begitu juga ramadan yang baru saja meninggalkan kita. Tak terasa ramadan begitu cepat berlalu, apakah ramadan berlalu begitu saja bagi kita? Sudah berapa kali kita mejumpai ramadan? Apa saja yang kita dapat dalam setiap ramadan yang kita lalui? Adakah perubahan dalam diri kita setelah ramadan berlalu? Ataukah kita selalu sia-sia dalam memanfaatkan setiap momentum ramadan? Apa kita sudah pasti bisa bertemu ramadan lagi? Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri kita pribadi dengan merenung pada saat kita berjumpa dengan ramadan dan setelahnya. Sungguh kita sangat rugi apabila ramadan berlalu tanpa ada sesuatu pun yang berubah pada diri kita. Sungguh sangatlah celaka bagi kita yang bisa menjumpai ramadan, namun kita justru tidak semakin baik.
Ramadan adalah waktu paling mulia dan paling istimewa yang telah diberikan Tuhan kepada seluruh manusia. Tidak untuk umat muslim saja, namun untuk seluruh manusia. Memang perintah berpuasa hanya untuk orang yang beriman tetapi berkah waktu ramadan ini bisa menyebar ke semua manusia. Salah satu realita yang bisa kita tangkap, yaitu dari segi perekonomian. Tidak memandang dari suku atau agama apa pun, ketika ramadan, omzet pemasukan pedagang naik berlipat ganda karena tingkat kebutuhan masyarakat di Indonesia meningkat drastis daripada waktu selain ramadan. Itulah mengapa waktu ramadan selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh pedagang.
Terkhusus bagi kita yang beragama muslim, ramadan merupakan sebuah waktu berharga di mana kita diberi kesempatan oleh Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dengan imbalan pahala yang dilipat gandakan. Perkara yang mubah seperti tidur dan diam saja ketika berpuasa juga mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT, bahkan khusus untuk ganjaran orang yang berpuasa adalah langsung dari Allah sendiri yang memberikan. Subhanallah, sungguh betapa besar nikmat yang bisa kita peroleh di bulan ramadan. Sungguh sangat rugi apabila di antara kita ada yang tidak bisa mendapatkan apa-apa dari waktu yang mulia ini.
Di dalam bulan mulia ini terdapat suatu hal tersirat yang apabila seorang mukmin sedang mengerjakannya pasti akan merasakannya, yaitu pendidikan nafsu. Nafsu adalah sebuah fitrah yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap manusia. Pada saat ramadan, nafsu dididik untuk tidak mengalahkan akal dan hati nurani manusia dengan jalan berpuasa. Kita dituntut untuk memerangi nafsu agar tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan puasa batal atau pahala puasa hilang. Menahan makan ketika lapar, menahan minum ketika haus, dan menahan diri dari perkara yang membatalkan pahala puasa seperti berbohong atau menggunjingkan orang lain. Itulah sebuah perang nyata yang harus dilawan jika ingin menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.
Namanya saja perang, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Selama satu bulan penuh kita berperang dengan nafsu untuk berpuasa menahan dari yang membatalkan puasa dan pahala puasa di bulan ramadan, tidak lain supaya kita menjadi pemenang, sehingga setelah ramadan berlalu akan datang sebuah perayaan kemenangan yang diidam-idamkan, yaitu hari raya idul fitri. Di sini kita bisa menilai pada diri sendiri untuk merasakan bahwa kita sedang menikmati kemenangan atau tidak. Seorang pemenang akan merasakan fitrah atau kesucian alami sebagai seorang manusia terlahir kembali, seperti saling memaafkan dan mengakui kesalahan yang diperbuat sehingga timbullah kedamaian dan keharmonisan dalam beribadah dan bersosial.
Dalam rangka menikmati waktu yang masih bisa kita rasakan, alangkah baiknya kita teruskan hasil dari sebuah pendidikan pada bulan ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Bila setelah nafsu kita terdidik ketika menjalankan ibadah puasa dapat berimbas ke dalam sebuah hubungan yang indah dengan Allah dan sesama, kenapa tidak diteruskan? Agar waktu yang masih bisa kita nikmati ini berjalan dengan damai dan aman.

Penulis adalah mahasiswa
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Bagikan informasi ini: