Mengupas Budaya POP

Seno Gumira Ajidana dalam pembukaan seminar Fakultas Sastra.

Seno Gumira Ajidana dalam pembukaan seminar Fakultas Sastra.

“Orang-orang yang sukses dan punya kemerdekaan tinggi adalah orang-orang menghargai seni dan budaya,” ungkap Dr. H. Kholisin, M. Hum., dalam pembukaan Seminar Budaya Fakultas Sastra (FS) pada Kamis (17/09). Sastrawan Seno Gumira Ajidarma dihadirkan dalam Seminar Budaya yang bertema “Di Balik Budaya Pop” dengan subtema “Berpikir Kritis dalam Arus Budaya Pop” itu. Menurut Wakil Dekan III FS, kemahasiswaan FS memiliki agenda yang diselenggarakan BEM dan HMJ, ada pula yang diselenggarakan oleh pimpinan. Seminar Budaya ini merupakan salah satu agenda tahunan yang dipanitiai langsung oleh dosen dan pegawai FS, di samping seminar bahasa, sastra, seni, dan karakter. “Tujuannya agar bermanfaat bagi seluruh mahasiswa, khususnya FS, bahkan banyak pula yang dari luar UM,” tutur Kholisin. Masih menurut Wakil Dekan III FS, Seno Gumira diundang karena memang mumpuni dalam bidang budaya.
Dalam seminar yang digelar di Gedung E6 Lantai II, sastrawan yang lahir pada 19 Juni 1958 itu mengupas tentang budaya pop. “Budaya pop selalu tumbuh sebagai perlawanan terhadap budaya kelompok dominan yang mapan,” terang laki-laki yang juga seorang jurnalis itu. Criticism merupakan bagian dari budaya pop. Menurutnya, makna tak selalu bergantung pada kamus, tetapi produksi sosial. Makna selalu diperjuangkan dan merupakan hasil perjuangan. Perjuangan produksi makna itu melibatkan proses negosiasi sesuai teks dan konteks. Dari situ muncullah identitas yang sekaligus berarti multiple identity.
Sastrawan yang pernah memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award itu menjelaskan konsep budaya pop dengan potret perjalanan punakawan, misalnya cerita Dagelan Petruk dan Gareng. Timbul banyak penafsiran tentang punakawan. Punakawan bisa melawan, menerima, dan bernegosiasi sehingga sekarang banyak alternatif komik dengan beragam cerita tentang punakawan. Awalnya sesuatu yang abstrak, kemudian ada di relief candi, wayang kulit, komik wayang kulit, namun di sisi lain ada pula wayang orang sehingga komik punakawan berangsur-angsur berkembang dan lahirlah macam-macam komik bahkan manga dengan tokoh punakawan. Kisahnya pun beragam, mulai dari kisah konflik klasik, konflik masyarakat Jawa bahkan luar negeri. Bagi seorang Seno Gumira Ajidarma, budaya pop terus lahir dan berkesinambungan. Ia tak pernah mati. “Budaya bukan untuk dimiliki, tapi dipelajari oleh siapa saja yang suka,” tutur sastrawan yang sedang produktif menulis serial “Naga Bumi” di Jawa Pos itu.Yana

Bagikan informasi ini: