Dua Puluh Empat Jam Jilbab Berlonceng

Kepekaan dan kepedulian yang mendasari melangkah hingga kini. Membaca beragam situasi dalam mengambil keputusan. Perawakan yang ceria menyapa sana sini setiap kawan yang ia temui. Mau berteman dengan siapa saja. Tak heran jika banyak yang mengenalnya dari sudut gedung psikologi hingga ujung gedung keolahragaan. Role model bagi teman-temannya. Selalu menyusuri setiap penjuru cakrawala dengan lincah. Pribadi ramah dan renyah pada sosok Salsabila yang selalu membawa nama fakultas di setiap perjumpaan menyapa.Hot-selling-Vintage-France-font-b-Paris-b-font-Colourful-French-Country-Tuscan-Style-font-b
Gadis berdarah asli kota apel yang memilih pendidikan bahasa Indonesia sebagai fokus bidang studi. Dengan koleksi puisi yang diciptakan penuh kreasi, sejuta prestasipun mampu ia raih. Gadis mungil nan ceria yang biasa di panggil Bela dengan kekhasannya yang selalu memakai bros lonceng tersemat di kedua helai jilbab layaknya doraemon. “Alasanku selalu memakai bros lonceng karena aku gampang lupa nama orang dan tidak menutup kemungkinan orang lain juga lupa dengan namaku. Maka dengan lonceng ini yang berbunyi ‘bel’ ditambah bunyi huruf A akan menjadi Bela. Itu yang membuat orang lain terus ingat dengan namaku,” kata Bela.
Dari luar, sosoknya terlihat percaya diri dan friendly. Tidak dapat dipungkiri, ia adalah salah satu finalis Duta Kampus UM 2015. “Nggak percaya sih sebenarnya, masak ada orang kecil item berjajar dengan para duta kampus yang putih tinggi. Tapi, nyatanya namaku ada di daftar semifinalis Duta Kampus UM,” canda Bela. Di balik background-nya kini sebagai sekretaris negara BEM UM, Bela ingin menepis anggapan umum kalau anak BEM tidak mengerti dunia kampusnya sendiri. “Buktinya saya bisa menghapus semua persepsi tersebut. Selain itu, saya unggul dalam tes bahasa dan psikologis,” tambahnya.
Di antara rutinitas yang mengisi hari-harinya, ia selalu bersajak dari syair-syair nyata. Bela pernah pula membuat sajak ketika ada teman bercerita. “Kesalahanmu sendiri wahai perempuan. Kenapa sampai lelakimu selingkuh. Karena kau terlalu membosankan.” Seperti itulah kira-kira sepenggal puisi yang ia gambarkan. Ia selalu menjadi tempat berlabuh bagi teman-temannya. Tak jarang berbagi cerita tentang banyak hal. Mungkin karena Bela diberi kelebihan tersendiri oleh Allah untuk sensitif dengan keadaan orang lain. Hingga banyak rekan di sekitarnya nyaman dengan kehadirannya. Selain menjeratkan diri di berbagai fakultas dengan bercanda tawa, ia juga mendapat begitu luas informasi dari setiap kepala yang ia temui. Sering pula dalam satu hari ia mendapat stempel karcis lengkap dari delapan fakultas. Ia bilang itu hanya main-main saja untuk menghabiskan waktu luang berkunjung ke fakultas mereka.
Di balik itu, Bela juga tertarik dengan dunia psikologi. Karena sudah terbiasa menjadi sandaran dari banyak sahabat yang lelah berjalan menghadapi kehidupan. Ia juga berani belajar mengenai konsep dasar pemahaman orang lain yang kemungkinan kecil diulas dalam perkuliahan formalnya. “Saya sebenarnya memanfaatkan ilmu ketika ada di LKMTM yang selalu menganalisis situasi hingga lanjut sebagai kader bangsa di LKMTL,” tegasnya. Ia juga begitu mendalami saat mempelajari psikolinguistik dan sosiallinguistik mengenai perpaduan bahasa yang ia senangi dengan kondisi real orang lain.

2015-11-27 07.17
“Buat apa kita hanya mempelajari satu ilmu jika kita bisa mendapatkan lebih. Beruntung saya bisa bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai jurusan bahkan akrab dengan sejawat di kampus sebelah dan saya bisa belajar mengenai bidang keilmuannya,” ujar Bela. Ia punya referensi mengenai judul skripsi yang ia ajukan di semester lima ini, yakni mengulas polemik MEA dengan kedahsyatan bahasa Indonesia yang menurutnya menggema dan membahana. “Dari situ saya bisa melihat dari banyak sisi bahwa Indonesia bisa lebih hebat,” tukasnya.
Kedekatan bersama keluarga, bukan dari intensitas bertemu, tetapi dari kualitas hubungan. “Waktu bersama saat weekend. Kita selalu berusaha meluangkan waktu satu sama lain. Biasanya sih kita kumpul di pondok pesantren Bangil. Tempat kedua adik perempuanku bersekolah,” jelas Bela. Meskipun ia juga tidak selalu ikut sowan ke saudara-saudaranya. Pernah ditegur oleh ayahnya ketika pulang saat matahari telah tergelincir ke arah barat dan mega merah mulai tak terlihat lagi dengan air wajah yang letih. Namun, Bela mampu membuktikan pada ayah dengan beasiswa di pundaknya. Dengan nama “Salsabela” yang bermakna dua air mata surga yang tertera jelas dalam surat Al-Insan (76): 6). Nama sebuah harapan dari sang pemberi amanah untuk kedua orang tuanya.
Tiada hidup yang hambar tanpa rasa jika tak ada konflik. Bela pun juga pernah merasakan jenuh dengan semua aktivitas berorganisasi. Ia mengambil cuti satu minggu dari BEM karena kebosanan yang meradang. Namun, ia juga memiliki penawar untuk kembali on. Ada teman-teman yang mendampingi dari kolega Fakultas Sastra. Dia pun juga digadang-gadang menjadi PRESMA periode berikutnya di samping kesibukan mengikuti organisai internasional. Menurut ia organisatoris yang baik adalah organisatoris yang mampu melobi waktunya sendiri.
Selalu mampu mengulas dan menganalisis pergulatan kehidupan. “Saya pernah mengikuti berita tentang Ridwan Kamil yang seorang Gubernur Jawa Barat. Beliau mengundang orang gila di jalanan pada saat berpidato dan beliau juga mengatakan ‘ini adalah rakyatku dan dia juga yang saya pimpin saat ini, secara tidak langsung orang inilah yang mendukung saya hingga saya dapat berdiri di depan Anda,” kenang Bela. Dari situ Bela berkeyakinan jika menjadi seorang public relation dan pemimpin ia harus mampu merangkul semua kalangan dan menyampaikan pada publik usaha yang sudah terealisasi dan yang mungkin belum terwujud.
Berawal dari kepedulian saat SMP hingga ia menjadi sosok organisatoris. Saat berada di bangku seragam biru putih yang sering bolos dan bermain game. Hingga suatu saat ia bertemu dengan temannya yang nge-drug tidak tertolong. Ia merasa iba. “Saya mengatakan pada ibu, bahwa saya ingin menolongnya dan ibu mengatakan bahwa sebelum saya menolongnya, Bela harus bisa berorganisasi untuk bisa mengoordinasi diri sendiri dan mendalami strategi untuk menolong orang lain,” jelasnya. Hingga ia membuktikan saat SMA, Bela mengikuti organisasi sekolah hingga memiliki organisasi yang ia rintis dan diminati hingga kini. Kelihaian berbahasa asing, yakni Jerman, Jepang, Mandarin, Arab, dan Inggris yang begitu lancar. Ia membentuk sebuah klub bahasa dengan usahanya sendiri yang mencapai lebih dari target awal. Saat ini, klub bahasa tersebut beranggotakan 620 orang. Angka yang fantastis untuk ukuran klub sekolah. Tapi, itulah salah satu hasil ia berorganisasi. Klub tersebut tak boleh dipandang sebelah mata. Menjuarai berbagai kompetisi di bidang bahasa adalah hal yang biasa. Mengadakan pagelaran seni juga salah satu apresiasi membagakan dengan tim klub.
Kalau ditanya, kenapa bisa seenergik ini, bisa mobile dari tempat ke tempat dan dari pergeseran waktu yang sangat tipis. “Entah ya.. dulu IQ-ku ada di 140, tapi itu dulu saat masih SD dan ketika saat ini akan lain lagi,” ujar Bela. Bela selalu dianggap anak akselerasi. Ia lebih dini dibanding seangkatannya. “Iya, akselerasi saat TK,” candanya. Namun, itu memang yang sebenarnya terjadi. Bela tertarik dengan sepupunya yang memakai rok merah putih saat ia masih di bangku TK. Alhasil hanya satu tahun saja ia di TK dan langsung mengikuti seleksi untuk masuk SD. Gambaran karakter Bela hingga kini yang mudah tertarik dan penasaran dengan berbagai hal.
Salah satu kelebihan Bela yang mampu menafsirkan semua kondisi yang ia lihat. Hingga Bela mampu belajar dari segala fenomena dan ia modifikasi sendiri dengan keunikan yang dimiliki. Dari situ gadis berzodiak Gemini ini, mampu mentransformasi keunikan dengan berteater sejak SMA hingga kini. Bela bergabung di Teater Pelangi Sastra Indonesia sebagai aktris. Tak jarang berperan sebagai bocah dengan suara khas childish-nya dan berperan sebagai seorang laki-laki. Bela sangat lihai untuk mengubah suara dengan beragam gaya. Jiwa seni yang mendarah daging dengan kemampuan berteater. “Menurut aku, teater sebagai wadah berbohong. Dengan arti lain, bahwa anak teater tidak akan berbohong di tempat luar. Karena sudah memiliki wadah untuk mengeksplor kencenderungan tersebut,” jelas Bela.
Selalu ingin mencari tahu bagai bianglala dalam kehidupan. Lihat saja saat pagelaran di sudut-sudut kampus UM. Akan di temukan salah satu sisi wajah sumringah jilbab berlonceng, Bela.Arni

Bagikan informasi ini: