Merayakan Natal Setiap Hari, Mengapa Tidak?

Merayakan Natal Setiap Hari, Mengapa Tidak?

Oleh : A.J.E Toenlioe

Natal adalah suatu tradisi. Tradisi merayakan kelahiran Yesus. Kapan tepatnya tanggal dan bulan kelahiran Yesus? Masih menjadi tanda tanya. Tapi, tanda tanya itu disepakati sebagai sesuatu yang tak cukup penting untuk dipersoalkan. Anggap saja 25 Desember adalah waktu Yesus dilahirkan. Cukuplah di situ diskusi tentang tanggal dan bulan Yesus dilahirkan.
Tanggal dan bulan hanyalah simbol. Substansi di balik tanggal dan bulan itulah yang terpenting, yang pertama dan utama. Bahwa simbol perlu sebagai alat berpikir dan berinteraksi, memang benar. Namun, bereligi hanya sebatas simbol, sama saja tak bereligi. Natal dengan pesta pora minus makna, sesungguhnya bukan beribadah. Hanya berpesta untuk kepuasan diri.
Kahadiran Yesus adalah wujud kasih Tuhan kepada manusia. Tuhan menyapa manusia dengan cara manusia. Melalui Yesus, Tuhan hadir untuk mengatakan secara langsung dan meneladankan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Kisah kehidupan Yesus sejak dilahirkan adalah wujud firman hidup, firman yang dicontohkan. Yesus dilahirkan di tempat amat sederhana, yakni di kandang domba. Yesus dilahirkan oleh seorang wanita perawan, yakni Maria. Yesus memberi makan mereka yang lapar, menyembuhkan mereka yang sakit, menghibur mereka yang berduka, membela mereka yang diperlakukan tidak adil, dan masih banyak lagi. Semuanya dilakukan tanpa batas dan sekat, tanpa pilih kasih. Itulah yang dicontohkan Yesus dari waktu ke waktu.
Singkatnya, peristiwa Natal membawa pesan tentang kebesaran kasih Tuhan kepada manusia, dan bagaimana seharusnya kasih itu direspon. Tentu saja bersyukur adalah bentuk respon yang paling tepat. Wujud konkret dari rasa syukur atas kasih Tuhan adalah dengan melaksanakan apa yang telah diteladankan. Melakukan kehendak Tuhan bukan lagi dalam rangka mendapatkan sesuatu, melainkan karena telah mendapatkan sesuatu, yakni kasih yang tak terbatas.

Merayakan Natal Setiap Hari
Apa yang dikemukakan di atas menyiratkan pesan bahwa kegiatan Natal sesungguhnya bukan hanya pada tanggal 25 Desember. Tanggal 25 Desember adalah simbol tonggak yang disepakati untuk pembaruan janji diri. Seharusnya 25 Desember dijadikan momentum memperbarui janji untuk melayani sesama, agar semakin sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Yesus sepanjang hidup-Nya. Kemudian menata diri, agar menjadi lebih baik, mulai tanggal 26 Desember. Sia-sialah berpesta Natal pada 25 Desember, tanpa ada perbaikan sikap kristiani mulai 26 Desember.
Kalau pengikut Yesus mau benar-benar meneladani apa yang Yesus lakukan, maka perayaan Natal akan terjadi setiap hari. Merayakan Natal secara hakiki, berarti berempati pada sesama, dengan aneka permasalahan hidup mereka. Memperlakukan orang lain, sebagaimana diri ingin diperlakukan, itulah kalimat kunci dalam merayakan Natal.
Mengacu pada teori kebutuhan manusia versi Maslow, merayakan Natal secara hakiki berarti memperjuangkan kecukupan makanan, memberikan rasa aman, membagikan kasih sayang, serta membangun rasa berharga bagi sesama. Hal-hal inilah yang seharusnya dilakukan tanpa sekat, tanpa pilih kasih, sebagaimana diteladankan Yesus.
Sampai saat ini, korupsi di negeri ini masih berada pada kawasan gawat darurat. Sia-sialah berhari raya Natal, bila masalah-masalah besar negeri ini, seperti korupsi, didiamkan. Sia-sialah berhari raya Natal, bila kita ikut hanyut menjadi bagian dari sistem yang korup. Selamat Natal 25 Desember 2015. Semoga menjadi lebih baik pada Natal 25 Desember 2016.
Penulis adalah Dosen TEP dan
Ketua Penyunting Majalah Komunikasi

Bagikan informasi ini: