Romansa Pimnas XXVIII Haluoleo

“…..seminggu tuk selamanya…..seminggu tuk selama-lamanya…..”
-Mars Pimnas-

DSC05190

Demikian salah satu petikan lagu mars Pimnas XXVIII yang selalu diputar dan dinyanyikan bersama-sama baik ketika acara pembukaan dan penutupan Pimnas. Mars tersebut masih menyisakan kenangan bagi seluruh tim PKM Pimnas delegasi UM tentang program Pimnas XXVIII oleh Kemenristek Dikti di Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara September (05-09/09). Hasilnya, dari sekitar delapan puluh medali yang diperebutkan di ajang presitisius tersebut, sembilan tim perwakilan Pimnas yang terdiri dari dua tim PKM-K, dua tim PKM-KC, satu tim PKM-T, dan empat tim PKM-PE UM mampu menyabet satu medali emas presentasi PKM-K, satu medali perunggu presentasi PKM-K, satu medali emas poster PKM-K, satu medali perak poster PKM-P. Hebatnya, satu tim PKM-K berjudul “Bimbel Interaktif dengan Aplikasi Android” berhasil menyumbangkan dua emas untuk UM sehingga memposisikan UM ke dalam sepuluh besar universitas terbaik di bidang PKM se-Indonesia. Tentu bukan perjalanan yang mudah, sebab hasil tersebut dilalui dengan suka, duka, rintangan, dan hambatan.
Secara umum untuk mencapai tingkatan tersebut, seluruh tim PKM yang didanai harus melaksanakan program PKM tersebut selama beberapa bulan dengan banyak sekali kendala seperti manajemen keuangan, kekompakan tim, dan ketersediaannya narasumber serta alat dan bahan untuk program PKM. Tentunya sebelum didanai, ribuan proposal PKM seluruh Indonesia melalui proses screening yang panjang sekitar tiga bulan. Jadi, PKM yang didanai merupakan PKM yang benar-benar terseleksi dari segi isi, kualitas, dan kebermanfaatannya. Dari pihak UM sendiri, proposal PKM yang didanai diberi pengarahan untuk melaksanakan program PKM sampai tahap untuk monitoring dan evaluasi (monev). Sebelum menghadapi monev eksternal Dikti, tim penalaran dan kemahasiswaan UM menyelenggarakan dua kali monev internal dengan maksud menggali potensi dan ciri khas dari masing-masing tim PKM. Setelah dilakukan proses monev eksternal oleh Dikti pada bulan Juni 2015 lalu, pada akhir bulan Juli 2015 ditetapkan 440 tim yang lolos Pimnas dari seluruh Indonesia.
Beberapa perjalanan panjang itu juga dirasakan pemenang Pimnas XXVIII delegasi UM, yakni tim PKM-K “Bimbel Interaktif dengan Aplikasi Android”, tim PKM-K “Roh Garuda”, dan tim PKM-PE “Menchester”. Perjalanan panjang tersebut dinilai tidak sia-sia oleh mereka, karena mereka memang benar-benar berusaha memberikan yang terbaik untuk UM. Bahkan sebelum keberangkatan Pimnas, mereka harus dikarantina di WISMA TGP UM selama lima hari untuk mematangkan isi PKM, serta ditambah materi tentang public speaking, cara presentasi, dan berlatih menjawab pertanyaan juri. Meskipun harus meninggalkan kuliah dan bekerja, namun selama lima hari itu pula mereka saling menyemangati satu sama lain.
Desy Eka Ratnasari, mahasiswa jurusan Pendidikan Kimia yang merupakan anggota PKM-K “Bimbel Interaktif” peraih dua medali emas mengaku untuk mencapai semua itu memang dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Beberapa kendala yang dihadapi seringkali secara teknis, yaitu mengenai sistem android (aplikasinya). Selain itu, kendala non teknisnya adalah ketua kelompok PKM-K ini, yakni Maulidiyah Rahmawati, S.Pd, sudah mengajar di sebuah sekolah sehingga seringkali berada di Kepanjen. Ada pula kendala lain, yakni dosen pembimbing berbeda jurusan sehingga seringkali sedikit malu dan sungkan untuk melakukan bimbingan. “Itu sebelum masuk Pimnas, mbak. Ketika menghadapi Pimnas, saya harus lebih memantapkan lagi mekanisme promosi dan menyiapkan materi presentasi,” ujarnya. Mahasiswa yang merupakan Duta Wisata Kangmas Nimas Kota Wisata Batu tersebut mendapat peran sebagai marketing yang bertugas untuk membuat pamflet, banner, dan brosur serta menerima pendaftaran baik online maupun offline.

foto 3
Kendala lain dirasakan oleh Nukelon Jefri Nur Rahman, yakni salah satu anggota PKM-K yang bertugas untuk merancang algoritma aplikasi mobile sekaligus sebagai admin di website dan mengaktifkan akun siswa dan tentor. Kendalanya masih seputar teknis, yakni builder aplikasi yang sampai sekarang masih terkendala dengan dana pengembangan. Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika tersebut mengaku sebelum Pimnas, ia dan tim bekerja keras untuk mengecek aplikasinya dan bug atau celah dalam aplikasi agar lebih sempurna.
Berbeda dengan tim itu, tim PKM-K “Roh Garuda” memiliki kendala khusus ketika presentasi Pimnas. “Potensi bisnis kami ini memang terbilang baru dan di Indonesia, hanya beberapa perusahaan saja yang menerapkan sistemnya. Sehingga penjelasannya pun harus lebih umum agar dapat dimengerti oleh juri dan peserta umum,” jelas Ricky Ramadhan Setiyawan, ketua PKM-K “Roh Garuda” yang merupakan mahasiswa aktif DKV UM. Dia menambahkan, dari dua puluh tim seluruh Indonesia di kelas PKM-K 1, hanya timnya sendiri yang berbeda dari tim lainnya. “Banyak dari tim lain yang menjual produk dan jasa sehingga bisa dilihat prospek, BEP, dan ROI nya. Namun, bisnis tim kami ini bisnis konten yang diakui juri sistemnya berbeda dari sistem bisnis yang lain,” ujar pemilik studio di jalan Bantaran ini. Kendala lain dirasakan oleh anggota PKM-K “Roh Garuda”, yakni Faris Arman dan Fitri Anwar. “Kendala utama memang terkait pendanaan, karena memang untuk sebuah film animasi membutuhkan uang yang tidak sedikit. Namun, dengan uang yang diberikan pihak DIKTI, setidaknya kami bisa memulai start-up bisnis kami untuk launching produk dan mengikuti event bisnis,” tambah mereka.
Meskipun banyak sekali kendala, namun mereka mengaku sangat antusias dalam mengikuti Pimnas. “Dibalik duka, pasti ada suka,” ujar Desy. Sebagian besar dari mereka mengaku senang bertemu dan berbagi dengan teman-teman lain di seluruh Indonesia. Bahkan sampai sekarang, banyak dari mereka yang masih saling berbagi info lomba melalui jejaring sosial. Selain itu, mereka sangat senang bertemu dengan dosen-dosen UM yang sangat berkompeten sewaktu karantina Pimnas “Mereka sangat totalitas dan tulus, apa yang diberikan sewaktu karantina sangat bermanfaat ketika kami berlaga di depan juri,” pungkas Nukleon. Pengalaman yang tak terlupakan lainnya adalah naik pesawat dan bonus jalan-jalan gratis ke luar Jawa. “Jika dengan biaya sendiri akan sangat mahal,” tambah Anwar yang pertama kali merasakan naik pesawat ke Kendari. Ricky juga senang melihat mahasiswa begitu kreatif sesuai dengan passionnya. Ia bisa melihat dari gelar produk yang dilaksanakan setelah sesi presentasi Pimnas dilaksanakan. “Saya jadi bisa berharap banyak untuk Indonesia di masa depan,” tambahnya.
Sejalan dengan Ricky, Nukleon mengungkapkan kalau pengalaman mengikuti Pimnas bisa membuka wawasannya tentang banyak hal. “Pelajaran yang berharga terutama di dalam dunia bisnis,” jabarnya. Ia menegaskan kalau setiap orang punya peluang bisnis, tinggal bagaimana kita melakukan dan mengembangkannya. “Banyak sekali jenis bisnis yang kreatif, jadi jangan hanya duduk di balik bangku kuliah saja, masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan segudang pengalaman dan ilmu,” tegasnya. Desi yang satu tim juga dengannya menambahkan, “Sebagai mahasiswa, kita harus berani terjun ke dunia bisnis dan menjadi individu yang memberikan peluang pekerjaan kepada orang yang membutuhkan“.
Meskipun ajang Pimnas sudah selesai, namun ide-ide mereka tidak akan berhenti sampai di situ saja. Sama dengan sifat khas wirausahawan yang harus ulet dan pantang menyerah, mereka pun juga begitu. Untuk program bimbel berbasi android, saat ini aplikasi masih dalam perbaikan (maintenance) untuk meningkatkan kualitas. Ada murid dan tentor yang tetap mendaftar, dan proses belajar mengajar di aplikasi android tetap berjalan. “Setelah Pimnas, kami juga sedang gencar mencari investor untuk meningkatkan program kami,” ujar Nukleon. Sedangkan tim Roh Garuda, mereka sudah memiliki studio sendiri di Jalan Bantaran yang bertempat di rumah ketua tim. Ke depannya, produk-produk yang dihasilkan akan dikembangkan menjadi komik dan animasi yang ditargetkan rilis di tahun 2016-2017. “Mohon doanya saja, agar ide yang berasal dari mimpi kami sebagai anak-anak Indonesia bisa terwujud. Salah satu cara mendukung kami adalah dengan mem-follow instagram kami @rohgaruda dan terus memantau perkembangan kami,” pungkas Ricky yang juga animator KuKuRockYou Indosiar.
Adapun harapan dari para pemenang baik untuk mahasiswa maupun bagi civitas akademika di UM agar bisa menyukseskan UM di ajang Pimnas tahun depan. Tentunya, dari tahun ke tahun harus semakin ditingkatkan lagi dalam hal pengunggahan proposal dan pembagian job desk dari masing-masih anggota. “Dari pengalaman Pimnas kemarin, juri menyarankan agar lebih berhati-hati lagi dalam penyusunan laporan kemajuan dan laporan akhir. Akan ada diskualifikasi bagi tim yang mengunggah laporan dengan halaman yang melebihi dari ketentuan di panduan,” tambah Ricky. Ricky meyakini banyak mahasiswa UM yang kreatif. Namun menurutnya, kreatif saja tidak cukup. Kreativitas itu membutuhkan keberanian. Keberanian untuk mengatatakan “Saya punya solusi!”. “Pimnas merupakan tempat yang tepat untuk menguji keberanian kalian, jadi semoga teman-teman yang lain bisa lebih berani,” tutupnya. Yang tidak kalah penting, mahasiswa UM harus mempersiapkan yang terbaik untuk Pimnas XXIX di UNPAD, Bandung, Jawa Barat. Menurut Anwar, hal itu bisa tercapai jika ada keselarasan antara mahasiswa dan kampus. Mahasiswa harus terus menggali ide kreatif dan mengeksekusinya agar bisa bersaing di Pimnas. Sedangkan kampus, harus memberikan dukungan penuh mulai dari apresiasi berupa materi serta pelayanan yang nyaman dalam hal administrasi.Tanty

Bagikan informasi ini: