Ber-MURI dengan Tari 1000 Topeng Lebih

 

IMG_0788

 

 

 

Ber-MURI dengan Tari 1000 Topeng Lebih

Oleh MistaramSuatu aktivitas bermakna, dalam suatu aksi kolosal, merupakan artefak yang mempunyai arti tiga wujud, yaitu: 1) wujud ide dan gagasan, 2) wujud aktivitas, dan 3) wujud benda. Wujud ide dan gagasan yang merupakan suatu rancangan yang melibatkan pikir dan nalar yang mengandung nilai estetika. Gagasan yang menengahkan ide yang berbunyi “kecil itu indah”. Hal tersebut sering terngingang di telinga kita. Pengembangannya berikut “kolosalpun juga indah”, adalah suatu ide dan gagasan yang memerlukan dukungan kesigapan dari pencetus ide tersebut, serta strategi yang jitu agar gagasan tersebut terwujud. Wujud aktivitas ini melibatkan ribuan orang dengan langkah, berlatih, dan berunjuk rasa bersama untuk menampikan tarian yang bernilai sejarah Majapahit. Aktivitas yang diangkat kembali pada era industri kreatif di abad 21. Kebermaknaannya adalah upaya melakukan revitalisasi moral berkesenian dan moral berkarya kolosal. Wujud benda berupa topeng yang mempunyai nilai historis karena keberadaan topeng untuk menutup wajah di zaman Majapahit. Dalam suatu legenda bahwa Patih Gajah Mada seorang Mahapatih di zaman Kerajaan Majapahit, beliau mempunyai delapan puluh jenis topeng yang berbeda-beda dalam wujud fisiknya. Topeng-topeng itu digunakan menutupi wajah Patih Gajah Mada agar tidak diketahui pasti raut muka Gajah Mada yang sebenarnya.IMG_0808
Seribu topeng lebih yang diangkat apada tahun 2016, berkaitan dengan berbagai aktivitas, yaitu memperingati 102 tahun Kota Malang dan merayakan Hari Tari sedunia, yang digelar UM dan ditarikan di Stadion Gajayana Kota Malang untuk memecahkan rekor MURI. Pelaksanaan kegiatan tersebut untuk memecahkan rekor sebelumnya. Rekor sebelumnya pernah dipecahkan oleh Kabupaten Kediri dan Kabupaten Banyuwangi. Akhirnya Kota Malang bekerja sama dengan UM. Dimotori oleh Program Studi Seni Tari di Fakultas Sastra UM.
IMG_0956
Nilai Estetika Tari Topeng Kolosal
Nilai estetika pada saat festival tari 1000 topeng di UM yang ketujuh menunjukkan nilai-niali estetika dalam wujud fisik dan estetika non fisik. Para penari menggunakan ragam hias, topeng, aksesoris, dan pakaian yang berbeda-beda. Namun, tetap merupakan suatu kesatuan yang harmoni. Unsur-unsur properti dalam tari Topeng ini dipenuhi secara lengkap, mulai dari irah-irahan, topeng, sampur, selendang dan gongseng. Estetika dalam gerak saat berpentas di lapangan merupakan gerakan yang harmoni, seperti tiupan angin yang menggerakkan pepohonan, sehingga keselarasanpun dapat dirasakan dari keindahan gerakannya. Dari tinjauan estetika non fisik dapat dideskripsikan bahwa ‘kebersamaan’ merupakan suatu hal yang dapat menimbulkan rasa indah. Selain itu, motivasi untuk dapat menampilkan tari secara bersama-sama dengan suasana panas terik matahari, tidak menjadi halangannya. Kesungguhan menyuguhkan suatu tarian yang bersifat kolosal di tengah Stadion Gajayana merupakan motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang berpadu mewujudkan tarian yang bernilai kebersamaan.

Nilai Nuturant Effect dalam Tari Topeng Kolosal
Nuturant Effect dalam kegiatan tari kolosal ini berkaitan erat dengan aktivitas sosial. Maksudnya, adanya nilai kebersamaan dalam tarian yang melibatkan antar personal para penari yang berasal dari berbagai sekolah dan kemampuan berkolaborasi, serta saling menghargai antar sesama penari. Selain nilai sosial terdapat  nilai pula nilai pendidikan, yaitu nilai-nilai untuk belajar menari, berlatih bersama, dan dimulai dari pelatihan para guru di SMP dan SMA. Nuturant Effect yang lain adalah kegiatan seni dan pariwisata. Kegiatan ini mempunyai nilai kebersamaan antar lembaga, yaitu antara Universitas Negeri Malang dengan Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Kerja sama perlu dipupuk dan dikembangkan karena kedua lembaga tersebut saling membutuhkannya.
IMG_0837
Museum Rekor Indonesia (MURI)
Universitas Negeri Malang juga banyak mendapatkan penghargaan MURI. Penghargaan MURI di UM yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah lomba menggambar yang diikuti oleh lima ribu orang pada Ulang Tahun UM ke-50 yang lalu. MURI yang didapat di tahun 2016 ini adalah jumlah penari Topeng Malangan sejumlah 1300 penari. Pada tahun berikutnya MURI ini harus dipecahkan lagi dengan jumlah penari mencapai 1500 orang. Ini merupakan target antara UM dengan Pemerintah Kota Malang.
Ada yang menarik dari festival ini, yaitu pementasannya dilaksanakan pada hari Jumat dan sebagian penari adalah laki-laki dan beragama Islam. Sebagai seorang muslim yang berkewajiban melaksankan salat Jumat, ternyata untuk mengantisipasi hal tersebut, mereka telah mempersiapkannya dengan seksama.
Penulis adalah dosen Seni dan Desain.

Bagikan informasi ini: