Kisah “Habibie Jepang”, Perintis Pesawat Legendaris Jepang

18165-series-header

Oleh Tri Arian Arnando

Judul                         : The Wind Rises (Kaze Tachinu)
Sutradara               : Hayao Miyazaki
Pengisi Suara        : Hideaki Anno, Miori Takimoto, Hidetoshi Nishijima, Masahiko Nishimura, Stephen Alpert.
Durasi                      : 126 menit
Genre                       : Historical Drama
Studio                      : Studio Ghibli
Distributor            : Toho

Mimpi merupakan awal dari terciptanya sesuatu. Keberadaan pesawat di era modern ini pula datang dari adanya mimpi manusia untuk dapat terbang. Film The Wind Rises merupakan film yang menceritakan mimpi seorang Jiro Horikoshi, insinyur pesawat terbang asal Jepang. Berawal dari kecintaannya akan pesawat dan keinginannya menjadi seorang pilot membuatnya berhasil merancang sebuah pesawat legendaris bernama Zero yang dianggap sebagai pesawat tempur terbaik di era Perang Dunia II.

Cerita dimulai dari masa kecil Jiro Horikoshi yang ingin menjadi pilot. Namun, cita-cita itu terhalangi oleh penyakit rabun mata yang dideritanya sejak kecil hingga dia memutuskan untuk menjadi perancang pesawat seperti Caprico, perancang pesawat idolanya.

Demi meraih cita-citanya sebagai perancang pesawat, Jiro berangkat ke Universitas Tokyo untuk mempelajari teknik penerbangan. Dalam perjalanannya, kereta yang ditumpangi Jiro terhenti akibat gempa besar Kanto yang melanda Jepang awal tahun 1900-an. Kejadian itu mempertemukannya dengan seorang anak perempuan dan pelayannya yang diselamatkan oleh Jiro.

Setelah lulus dari studinya di Universitas Tokyo, Jiro bersama dengan temannya Kiro Honjo mulai bekerja di pabrik pesawat terbang milik Mitshubishi dan membantu merancang pesawat tempur Falcon untuk tentara Jepang. Tetapi, Falcon hancur di udara pada saat dilakukan uji terbang yang membuat tentara Jepang menolaknya. Akibatnya, Jiro, Honjo, dan insinyur lainnya dikirim ke Jerman untuk mendapatkan hak produksi dan perancangan pesawat milik Jerman, G-38.

Sepulangnya dari Jerman, Honjo dan Jiro ditempatkan pada divisi yang berbeda. Jiro diangkat sebagai kepala desainer untuk merancang pesawat tempur bagi Angkatan Laut Jepang. Desain pertama Jiro langsung ditolak karena gagal uji terbang yang membuat Jiro frustasi dan pergi ke sebuah resort di Karuizawa.

Di resort Karuizawa, Jiro bertemu dengan Nahoko Satomi, anak perempuan yang pernah dia selamatkan saat gempa Kanto dulu dan mulai mendapatkan semangatnya kembali untuk merancang pesawat terbang. Jiro dan Nahokopun akhirnya memutuskan untuk bertunangan karena Nahoko menderita TBC dan menolak untuk menikah hingga penyakitnya sembuh.

Jiro dan Nahoko mulai berjuang di jalan mereka masing-masing. Jiro fokus memikirkan rancangan pesawatnya sementara Nahoko pergi ke sanatorium, pusat rehabilitasi TBC untuk menyembuhkan penyakitnya. Di tengah masa rehabilitasi itu Nahoko meninggalkan sanatorium menemui Jiro dan memutuskan menikah meski dokter melarang pernikahan itu karena bisa berakibat buruk terhadap penyakit yang dideritanya.

Ketika pesawat rancangan Jiro selesai dan akan dilakukan uji terbang, Nahoko menyadari umurnya yang tak lama lagi. Nahoko memutuskan untuk kembali ke sanatorium. Sementara itu di tempat uji terbang, pesawat rancangan Jiro sukses besar. Sembari menikmati kesuksesannya, Jiro merasakan adanya hawa angin yang seakan membawa suatu pesan kepada Jiro. Pada akhirnya, Jiro menyadari bahwa angin itu membawa pesan bahwa Nahoko telah meninggal.

Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Jiro bermimpi bahwa dia bertemu dengan Caproni. Dia menceritakan rasa penyesalannya karena pesawat hasil rancangannya digunakan untuk perang. Tetapi, Caproni menyemangatinya dan mengatakan bahwa tanpa sadar Jiro sudah membangun pesawat yang indah meski digunakan untuk tujuan perang.

Kisah Jiro Horikoshi ini sedikit mengingatkan kita tentang kisah perintis dirgantara Indonesia, B.J. Habibie. Bedanya, Habibie mengembangkan pesawat di tengah keadaan negara Indonesia yang sedang kayanya. Sementara itu, Jiro mengembangkan pesawat di tengah keadaan negara Jepang yang sedang berjuang untuk pulih dari kemiskinan. Selain itu, pesawat hasil rancangan Jiro juga dihadapkan pada penolakan dan langsung membuat dirinya putus asa. Di luar perbedaan itu, cerita dari kedua tokoh itu tidak jauh berbeda. Seperti akhir cerita yang mengungkapkan bahwa pasangan dari tokoh utama (istri Jiro dan Habibie) meninggal dunia karena suatu penyakit.

Di tengah keadaan yang sulit itu, Jiro menyadari bahwa hal yang dibutuhkannya saat itu bukanlah materi, melainkan dukungan dari orang yang terdekat. Oleh karena itu, Jiro memutuskan menikmati waktunya dengan istrinya di tengah kesibukannya dalam merancang pesawat.

Pesan yang ada pada film ini kurang lebih seperti yang dirasakan oleh Jiro tersebut, yakni dukungan yang didapat dari orang terdekat lebih bernilai dari materi atau apapun. Jika seseorang sedang berada di masa sulit, sebaiknya perhatikan orang-orang di sekitar yang memberi dukungan. Kemudian, jadikanlah dukungan tersebut sebagai pendorong untuk terus maju.

Penulis adalah mahasiswa Geografi.

Bagikan informasi ini: