Perempuan dan Kebebasan

Perempuan masa kini sudah memiliki kebebasan untuk memilih akan berperan sebagai apapun sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Berbagai bidang telah membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk para perempuan agar dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Pada bidang pendidikan misalnya, dapat kita cermati pada jurusan teknik yang biasanya didominasi oleh mahasiswa laki-laki, beberapa tahun terakhir ini sudah banyak mahasiswi yang turut menimba ilmu di sana. Pada bidang pekerjaan, karir perempuan juga berpeluang melejit hingga ke puncak pimpinan. Di Universitas Negeri Malang (UM), posisi strategis seperti Wakil Dekan dipercayakan kepada perempuan. Pada bidang politik, kesempatan IMG_7563sebagai wakil rakyat di DPR, kepala daerah hingga presiden juga terbuka untuk perempuan.
Kesempatan yang dinikmati perempuan masa kini tidak lepas dari perjuangan ibu kita Kartini. Pada masa 1900-an beliau sudah memikirkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Melalui banyaknya buku yang dibaca dan korespondensinya dengan teman-teman di luar negeri, beliau paham bahwa melalui pendidikan maka para perempuan dapat berkembang dan berkontribusi untuk bangsa dan negara. Kemudian, Kartini mendirikan sekolah wanita pertama di Rembang. Banyak pahlawan perempuan yang turut berjuang demi  kemerdekaan dan kemajuan Indonesia, namun Kartini lah yang menggagas persamaan hak perempuan.
Apakah persamaan hak dan keadilan untuk perempuan sudah dapat dinikmati oleh seluruh perempuan Indonesia? Pada kenyataannya, angka kekerasan terhadap perempuan semakin tahun juga semakin meningkat, misalnya  Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan di area publik. Oleh karena itu, kesadaran akan persamaan hak perempuan perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas. Kepada para perempuan perlu juga disadarkan akan hak-haknya dan dimotivasi untuk mandiri juga berani menyuarakan hak dan gagasannya.
Permasalahan lainnya, sebagian perempuan menjadi terlalu fokus pada pekerjaannya sehingga tidak seimbang dengan peran lainnya, yaitu sebagai istri dan ibu. Kebebasan perempuan tersebut dapat mengarah kepada orientasi nonproduktif. Erich Fromm, ahli psikologi, menyatakan “semakin seseorang bebas maka ia semakin teralienasi yang menyebabkan patologis psikologis”. Agar kebebasan perempuan menjadi orientasi produktif maka perempuan perlu menjaga keberakarannya, yaitu terhubung kembali dengan nilai-nilai religi, sosial-budaya dan kodratnya.
Pada edisi ini, Majalah Komunikasi meliput para perempuan di UM yang berkiprah secara profesional dan berprestasi tinggi, tanpa meninggalkan keluarga. Karena menjaga keharmonisan keluarga, sangat penting untuk tumbuh kembang anak-anak, di mana anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Semoga edisi ini dapat menginspirasi semua perempuan agar tetap berkiprah secara positif dan seimbang pada berbagai perannya.
Penulis adalah anggota penyunting Majalah Komunikasi dan dosen  Pendidikan Psikologi.

Bagikan informasi ini: