Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. (Alm.),

Final - Free Version

 

Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. (Alm.),

Penjunjung Tanggung Jawab dengan Kerendahhatian

Oleh : Asep Sunandar

 

Selepas Subuh, Jumat (11/03) penulis membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang diminta oleh bagian fakultas. Pada pukul 05.49 ada sebuah pesan masuk melalui Whatsapp berasal dari Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan UM yang memberikan sebuah kabar duka. Belum usai membaca keseluruhan isi pesan, ada sebuah panggilan masuk yang menanyakan apakah benar tentang berita duka meninggalnya Prof. Hendyat Soetopo. Pertanyaan tersebut sontak membuat kaget. Ada apa dengan Prof. Hen? Kemarin (10/03) beliau masih membimbing mahasiswa di ruang dosen, sehat dan bugar. Beliau sempat membuat kopi, bercengkrama dan guyon dengan beberapa dosen senior. Kepergiannya sungguh sangat mendadak. Tidak ada berita sakit atau keluhan dari beliau kalau sedang merasakan sakit. Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd kini telah tiada.  Guru, tentor, kolega, sejawat, dan orang tua bagi seluruh mahasiswa UM itu kini telah berpulang.

Gaya Khas
Perkuliahan yang dibina oleh almarhum tersaji dengan suasana santai, canda gurau, tapi masih mengedepankan keseriusan.  Penjelasannya inspiratif, membedah fakta dan menganalisis nilai di balik fenomena. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis, menuangkan ide dan menemukan solusi atas permasalahan pendidikan yang sedang dibahasnya. Perkataan aaseeli yang diucapkan setengah bergurau menunjukkan kesenjangan fenomena dengan keharusannya. Layaknya penggambaran des sain and des sollen yang sering kita temui dalam sistem pendidikan Indonesia.
Kedisiplinan adalah pegangan utama beliau, langkah kakinya cepat, emosinya stabil. Tidak pernah marah dan jika membahas suatu masalah dilakukan secara terfokus. Pada saat kuliah S3 bersama beliau ada suatu hal yang beliau tidak sukai, namun kemarahannya disampaikan melalui sindiran dan gurauan. Para mahasiswa diajak merenung dan meresapi kesalahan yang dibuat hingga akhirnya benar-benar sadar bahwa telah melakukan kesalahan yang beliau tidak sukai.
Jabatan dan pangkat yang pernah beliau sandang tidak menjadikannya jumawa, susah ditemui dan sulit berkomunikasi. Pesan singkat dan telepon dari para mahasiswa yang ingin berkonsultasi dengannya selalu direspon. Pada saat rapat pun beliau menyempatkan mengangkat telpon mahasiswa. Ungkapan tersebut merupakan bagian kecil dari gambaran perilaku kesehariannya. Begitu banyak teladan yang dicontohkan, sebagai inspirasi perkembangan keilmuan manajemen pendidikan.

Mendidik Pemimpin
Sebuah ungkapan Abraham Lincoln (Fred R. David, 2011) If we know where we are and something about how we got there, we might see where we are trending and if the outcomes which lie naturally in our course are unacceptable, to make timely change. Ungkapan tersebut menggambarkan suatu pemikiran strategis dalam menentukan sebuah keputusan. Lincoln sebagai salah seorang pemimpin dunia mengajarkan kepada kita untuk mengetahui dimana posisi kita dan bagaimana kita bisa mencapai tujuan. Kita diminta untuk mengamati trend dan jika hasilnya berupa kebohongan maka hal tersebut tidak bisa diterima untuk membuat perubahan di waktu yang tepat. Keberadaan kita merujuk pada analisis internal terkait dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi. Sementara itu kecenderungan dan balikan merupakan faktor eksternal yang harus diperhatikan organisasi dalam menetapkan langkah dan tujuan.
Perjalanan organisasi pendidikan mensyaratkan tumbuhnya sumber daya internal sebagai sebuah kekuatan dan peluang yang ada di luar organisasi dimanfaatkan dengan maksimal. Layanan organisasi pendidikan tidak hanya berperan dalam mentransfer ilmu pengetahuan, namun meluas hingga terjadi transformasional ilmu, pengetahuan dan perilaku. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar yang hanya menyampaikan bahan ajar, tetapi turut membentuk pola pikir, perilaku, dan karakter peserta didik.
Helen M. Gunter (2001) berpendapat  Leadership in educational studies can be seen as the process and product by which powerful groups are able to control and sustain their interests. Pendapat tersebut mempertegas bahwa kepemimpinan di bidang pendidikan merupakan sebuah proses dan produksi sekelompok orang yang mampu mengontrol dan menjaga keberlangsungan ketertarikannya. Pendidikan merupakan wahana dalam melahirkan pemimpin baru. Proses pendidikan berjalan dengan bimbingan seorang pendidik yang menginspirasi hingga lahirnya pemikiran baru yang lebih konstruktif.
Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya terletak pada kesuksesannya dalam memimpin, tetapi juga kesuksesan dalam menghasilkan penerus kepemimpinannya. Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang mampu mempertahankan kekuasaan dalam waktu lama, namun pemimpin yang dapat mendorong lahirnya generasi pemimpin baru yang dapat meneruskan cita-cita pemimpin lama. Gagasan-gagasan tersebut merupakan potret pijakan yang ditempuh mendiang dalam menanamkan jiwa kepemimpinan kepada para mahasiswa dan koleganya. Pemimpin hari ini harus memberikan kesempatan kepada yang muda untuk merasakan lika-liku dan dinamikan memimpin sebuah organisasi. Generasi muda dipacu untuk memahami realita dan mampu menemukan solusi. Sistem pendidikan Indonesia masih membutuhkan banyak inovator dan kreator untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Pemimpin Pendidik
Sebagai seorang pendidik mendiang berkesempatan menjabat pada berbagai posisi strategis di lembaga pendidikan. Pernah mejabat sebagai ketua jurusan (kajur), dekan, wakil rektor dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Malang. Beberapa jabatan tersebut dipandangnya hanya sebagai sarana dan alat dalam menularkan pikiran dan karakter bagi para bawahannya. Aktivitas sebagai seorang pemimpin dimulai dengan role model kedisiplinan dan konsisten dengan janji. Kehadirannya di kelas selalu datang lebih awal dibanding dengan mahasiswa atau dosen junior yang menjadi team teachingnya. Jabatan sebagai Dekan dan Wakil Rektor 1 tidak menjadi alasan beliau tidak bisa mengajar. Jadwal perkuliahan Prof. Hendyat biasanya dimulai pukul 7.00 dan beliau selalu hadir sebelum waktu perkuliahan dimulai. Kalaupun tidak bisa hadir karena ada dinas ke luar kota dosen asisten dan mahasiswa selalu diberitahu. Pengakuan salah seorang rekan dosen junior yang mendampinginya berkata, “Jika beliau tidak bisa hadir dikelas, kami akan diberitahu dan kami diberikan bahan yang harus disampaikan di kelas”.
Gambaran perilaku tersebut merupakan cerminan bagi yang muda untuk tetap memegang teguh tanggung jawab. Jabatan struktural di kampus atau ditempat lainnya jangan sampai mengalahkan tanggung jawab hakiki sebagai pendidik. Pendidik adalah pendidik apapun posisi dan jabatan yang diemban seorang pendidik harus bernilai pendidikan. Keberhasilan pemimpin di lembaga pendidikan terukur dari parameter seberapa banyak lulusan yang mampu berperan dan memimpin lembaga pendidikan. Pemimpin pendidik menempatkan dirinya dalam posisi melayani. Melayani yang dia pimpin dan melayani kemajuan yang dicapai anak didik yang dipimpin.
Semoga sepeninggalan mendiang inspirator-inspirator pendidik yang mampu memimpin dan melahirkan pemimpin akan selalu bertumbuh dan berkembang. Menutup tulisan ini penulis sampaikan sebuah pepatah yang diposting salah seorang teman “nec beneficii immemor injuziae” yang mempunyai arti lupakan kepedihan jangan lupakan kebaikan. Semoga Almarhum ditempatkan di surga Allah SWT. Aamiin.
Penulis adalah dosen
Jurusan Administrasi Pendidikan

Bagikan informasi ini: