Sentuhan Titik Winarti Mengeksplor Talenta Difabel

TItik Winarti, kakak dari Wahju Wibowo (Dosen Manajemen UM) yang memandang penyandang difabel bukan sebagai orang yang patut dikasihani, namun layak dihamparkan kesempatan.
Minggu pagi tak seperti biasanya. Jalanan menuju arah Kota Pahlawan, Surabaya yang identik dengan macet kini lengang. Seakan mempersilahkan perjalanan saya menuju kompleks perumahan yang tak sulit untuk ditemukan. Jalan Sidosermo Indah 2 tepatnya nomor 5 Wonocolo, sebuah rumah yang nampak tak terlalu besar dari luar. Plakat dengan tulisan “Tiara Handicraft” terpampang di depan rumah. Terlihat beberapa pekerja yang sedang asyik mengobrol.  Saya dipersilahkan masuk ke ruang tamu oleh seorang wanita. Iye-7a3

sumber : repost Internet

Sambil menunggu karena tak langsung bertemu dengan si pemilik, saya mengedarkan penglihatan ke setiap sudut ruang tamu. Semua yang ada di depan mata terekam. Ruangan itu begitu padat. Ada berbagai macam tas, dompet, maupun kerajinan handmade lain berjajar di rak. Berbagai macam piagam dan sertifikat menghiasi dinding juga beberapa artikel koran yang dibingkai. Tak lama, seorang laki-laki menemui saya. Sayangnya si pemilik, Titik Winarti sedang berhalangan sehingga yang menjumpai saya adalah anak laki-lakinya, Ade Rizal. Begitu fasihnya ia memaparkan seluk beluk mengenai cerita yang ingin saya rekam.  Ada hal istimewa  yang membulatkan niat saya untuk jauh-jauh datang kemari.
Alih-alih saat banyak perusahaan atau pengusaha berlomba-lomba meninggikan kualifikasi  untuk menerima pekerja, usaha di bidang kerajinan tangan ini hanya mensyaratkan satu hal. Syarat yang mungkin tak pernah terbesit perusahaan lain, yaitu yang mengharuskan pekerjanya menyandang difabel.
Awalnya usaha ini hanyalah sebuah hobi. Membuat pernak-pernik ruang tamu yang kemudian menggugah hati untuk dikembangkan. Pesanan pun datang dari tetangga di dekat rumah yang semakin lama semakin membludak. Sampai pada tahun 1995, usaha mulai berkembang layaknya usaha normal berprofit dengan pekerja yang normal pula. Namun, pada tahun 1999, Tiara Handicraft oleng ditinggal semua pekerjanya. Sulitnya perekonomian saat itu, mereka yang keseluruhan berasal dari desa enggan untuk kembali ke kota.
Niatan untuk menutup usaha tak bisa dipungkiri. Modal, bahan, dan peralatan menjadi sia-sia jika tidak ada yang menjalankannya. Suatu hal yang membuka jalan terang adalah ketika teman Bu Titik memperkenalkan dua orang difabel. Ragu memang ketika akan memulainya. Tapi siapa tahu kalau itulah akar dari pohon yang rindang. Dengan tekad yang ikhlas, kesabaran yang melebihi batas, dan perjuangan ketika melatih mereka mulai dari nol membuahkan hasil. Tiara Handicraft berhasil merangkak lagi.
Saya semakin terenyuh mendengar cerita awal mula dua orang difabel tersebut. Salah satunya berasal dari Nganjuk. Tangan kirinya lebih pendek dari ukuran yang seharusnya. Dengan menguras keringat dan ketabahan, ia belajar menjahit. Pekerjaan yang menuntut keseimbangan antara tangan kanan dan kiri membuat kepalanya sering terbentur antukan jarum. Terasa terlalu berat untuk melakukannya sehingga ia diajari keterampilan lain, yaitu menyulam. Di sinilah talentanya terkuak. Tangan kirinya memegangi bidang sulam sementara tangan kanannya dengan lincah dan gemulai menyulam. Sekarang, ia menjadi senior yang mengajari sulam bagi pekerja lain.
Pekerja difabel kedua berasal dari Situbondo. Salah satu dari kedua kakinya lebih pendek. Peralatan dan mesin jahit yang dimodifikasi, ia pun bisa terampil dalam menciptakan berbagai macam karya.
Tak puas, rasa ingin tahu saya semakin meronta. Mengikuti alur cerita, jumlah pekerja semakin melonjak. Ada yang dari desa, kota, maupun balai pelatihan. Walaupun ada yang pernah mendapat pelatihan, ketika awal bekerja mereka tetap dibina mulai dari dasar. Menyelaraskan cara dan standar yang digunakan.
Ambil satu contoh yang membuat decak kagum, yaitu ketika mengenali kebiasaan seorang difabel yang kedua tangannya buntung. Jika ia bisa memegang sendok untuk melahapkan nasi, maka ia pun bisa dipastikan bisa memasukkan benang ke lubang jarum. Cara demi cara dikenali. Produk yang dihasilkan mampu membidik pasar internasional. Tak ayal pada tahun 2004, Tiara Handicraft diundang oleh PBB ke New York, Amerika Serikat untuk menerima Microcredit Awards. Pekerja difabel turut serta hadir untuk memberi sepatah dua patah mengenai cover story dari produk handmade tersebut.

Mengantongi keterampilan yang diperoleh dengan segenap usaha, kemuliaan hati para pekerja masih menyumbang kemampuan. Mereka bermurah hati untuk memberikan pelatihan dan pengajaran bagi warga desa atau ibu-ibu rumah tangga dengan tingkat ekonomi minim. Tiada pemikiran kalau itu rahasia perusahaan itu nantinya akan dijiplak, bisa membagi ilmu dan memotivasi orang lain membuat mereka bersuka cita.
Suatu pemikiran ironis yang membudaya adalah anggapan bahwa seorang difabel tidak akan bisa melakukan apa-apa. Mereka sering dikucilkan, dianggap aib yang memalukan di keluarga, dan tidak pantas untuk mengenyam pendidikan. Ada salah satu keluarga yang menganggap mereka tidak perlu mendapat identitas penduduk atau KTP karena hal itu tidak berguna. Mental mereka serasa dilemahkan. Menjadi tertutup, mudah tersinggung, dan selalu minder. Dari sinilah Tiara Handicraft mendobrak pemikiran itu. Usaha yang juga berperan sebagai mini lembaga pendidikan untuk berwirausaha ini mencoba untuk memutihkan pemikiran yang semula hitam dengan berbagai penyuluhan.
Cacat fisik bukanlah alasan yang menjadi dinding penghalang untuk memekarkan bakat dan kreativitas. Yang kurang adalah kondisi fisik. Selebihnya mereka sama. Keinginan hati, pola pikir, ego, dan ambisi. Karakter mereka seperti warna-warni pelangi. Tidak jarang pula mereka saling cekcok satu sama lain.
Tinggal dalam satu atap memaksa mereka untuk mandiri. Mindset dan cara kehidupan mereka diubah total. Fasilitas dan perhatian khusus dihilangankan. Tidak lagi diladeni. Mereka saling membantu.
Saya menangkap maksud sebenarnya dari pola hidup mereka saat ini. Pola seperti inilah yang seharusnya ditimpakan. Fasilitas dan tempat tinggal yang dinaungkan dari Yayasan Bina Karya memang disengaja untuk mencetak mental mereka. Membiasakan mereka agar tidak selalu tergantung pada orang laiIMG_8594n. Yayasan yang dibentuk oleh Tiara ini juga berfungsi sebagai payung hukum. Karena sempat pada tahun 2009, beberapa oknum pemerintah datang dan meragukan Tiara Handicraft sebagai tempat penyalahgunaan kaum difabel.
Cuaca semakin terik ketika saya selesai berbincang dengan Ade Rizal. Menyempatkan untuk berbaur dengan tenaga pekerja yang sedang mengobrol. Tak membutuhkan waktu sejam atau dua jam, beberapa menit bersama mereka sudah menghangatkan hati saya. Tak henti-hentinya mereka melemparkan canda tawa yang membuat saya terpingkal tak kuasa menahan tawa. Jika didengar celotehan mereka berisi ejekan satu sama lain tentang kekurangan mereka. Bukan tersinggung atau muka merah padam, yang terjadi malah saling membalas melempar ejekan. Salah satu dari mereka yang bernama Adi, yang mengalami tuna grahita, menjadi santapan teman-temannya. Dengan bicaranya yang lambat seperti anak kecil baru belajar berbicara, ia menyahuti ejekan teman-temannya dengan sabar dan tenang, “Saya betah tinggal di sini. Karena banyak teman dan pekerjaan yang bisa saya lakukan.”

Banyak hal yang bisa saya petik. Mereka menyimpan luka gores di hati, memendam luka cerita perih dan miris, namun mereka masih menyuguhkan senyuman yang tulus. Mereka tetap membusungkan dada. Lebih kuat. Di samping kenyataan kondisi yang kurang, belajar untuk memahami dan menerima diri sendiri bagaikan berjalan di satu tali. Berusaha percaya diri di saat banyak yang memandang sebelah mata. Mereka tak pantas dikucilkan karena tidak ada seorang pun yang menginginkan dilahirkan dalam kondisi yang kurang.Maria

Bagikan informasi ini: