Belajar menjadi Orangtua

Oleh M. Haninul Fuad

K ata “tua” sering dikaitkan dengan umur atau usia. Dalam konteks yang sama, “tua” berlawanan makna dengan kata “muda”. Berdasarkan gradasi usia, seseorang yang bertambah umur disebut juga bertambah tua. Dalam hal ini, untuk menjadi “orang tua” kita cukup diam menunggu hingga pertambahan usia akan mengantarkan kita menjadi orang tua. Lantas, kenapa kita harus belajar untuk menjadi orang tua?
Buku Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi memberikan definisi orang tua tidak sekedar orang yang berumur uzur dan kondisi fisik yang makin ringkih. Orang tua lebih sebagai orang yang memiliki tanggung jawab moral melakukan tindakan edukasi pada anak. Baik anak biologis maupun anak sosial yang hidup dan berkembang di sekitarnya.
Buku ini dengan tegas membagi fase anak menjadi lima bagian, yaitu pendidikan anak usia 0 sampai dengan 3 tahun; anak usia 4 sampai dengan 10 tahun; anak usia 10 sampai dengan 14 tahun, anak usia 15 sampai dengan 18 tahun; dan pendidikan anak usia pranikah. Secara tersirat buku ini juga memberikan batasan bahwa antara usia anak dan orang tua terdapat gerbang pembatas yang disebut pernikahan.
Melihat tanggung jawab moral menjadi orang tua yang begitu besar maka untuk menjadi orang tua tidak cukup menunggu usia tua atau menunggu momen pernikahan. Menjadi orang tua perlu mempersiapkan bekal ilmu.
Dalam buku ini, kajian bagaimana mendidik anak disajikan secara komprehensif dalam sudut pandang agama Islam. Jamal Abdurahman, penulis buku ini, memperkuat ulasanya dengan dasar rujukan utama dalam agama Islam, yaitu Alquran dan hadis.
Membaca buku ini tidak seperti membaca kitab suci atau buku referensi teoritis. Meski sebagian besar isinya adalah kutipan Alquran dan hadis, isi buku ini cukup aplikatif bahkan cenderung mirip buku-buku How to. Membacanya seperti menemukan resep atau petunjuk teknis mendidik anak.
Mengenalkan nilai-nilai keagamaan kepada anak penting dan harus dilakukan sejak dini. Islam mengajarkan untuk mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri sesaat bayi dilahirkan (halaman 34). Bayi menangis sesaat setelah dilahirkan dalam tinjauan medis adalah upaya mengeluarkan sisa air ketuban dalam saluran pernafasan dan sebagai indikator jantung dan organ tubuh yang lain berfungsi dengan normal. Namun, dalam pandangan Islam tangisan pertama bayi lebih diakibatkan karena sentuhan setan. Maka dari itu sangat dianjurkan untuk mengumandangkan adzan dan iqamat agar bayi terhindar dari gangguan setan.
Pendidikan akhlak terhadap anak diberikan secara bertahap sesuai fase-fase umur anak. Islam juga mengajarkan pemberian punishment dan reward. Hukuman yang sifatnya mendidik diperkenankan dalam ajaran Islam. Misalnya, orang tua diperkenankan memukul ketika anak sudah beranjak dewasa yang tidak mau melaksanakan ajaran agama misalkan sholat lima waktu. Namun Islam juga mengajarkan etika memukul. Memukul lebih memberikan hukuman yang sifatnya pengajaran, bukan memukul sebagai pelampiasan amarah orang tua.
Buku ini cocok untuk para orang tua yang ingin senantiasa memiliki akhlak mulia dan berikhtiar secara terus menerus mewujudkan generasi yang lebih baik. Tua bukan hanya masalah umur, tetapi masalah tanggung jawab moral tentang mendidik dan belajar yang terus menerus. Akhirnya, selamat membaca buku ini dan selamat belajar menjadi orang tua.
Penulis adalah alumnus reporter Majalah Komunikasi dan pustakawan yang bermukim di Kalimantan Barat.

Bagikan informasi ini: