Dua pehijrah dari lombok perbaiki kampung halaman

IMG-20160802-WA0008Suasana lebaran masih terasa melekat. Meski kesucian Ramadan telah sampai ujung dan menyisakan rutinitas berkah yang selalu memikat bagi para umat Muhammad SAW. Takjil-takjil kini berganti menjadi kue kering dalam toples-toples yang dibiarkan tak ditutup rapat. Tak lagi menunggu bedug senja, menikmati sepuasnya opor ayam dengan ketupat. Menyucikan hati dengan sanak saudara melalui pelukan hangat. Membuat silahturahmi menjadi momen istimewa dengan keluarga dan tetangga terdekat. Namun, indahnya suasana tersebut tak dirasakan seutuhnya oleh sepasang kekasih halal, Nurchasanah dan Zulkipli. Dua insan pendatang dari Lombok yang merupakan mahasiswa Pascasarjana ini masih menetap di Kota Malang.
Macetnya jalan sepekan setelah lebaran tiba tak menjadi penghalang untuk menemukan asrama tempat Nurchasanah tinggal. Kesasar satu atau dua kali barulah menemukan gang yang tepat. Di Jalan K.H Hasyim Asy’ari, sebuah papan bertuliskan ”Wisma Lombok” terpampang pada bangunan tua dan sederhana dengan beberapa tanaman jagung yang menjulang tinggi. Tak lama menunggu, sesosok perempuan berjilbab keluar dari bangunan itu. Seakan bertemu dengan saudara muslimah yang lama tak ditemui, Nurchasanah langsung memberikan peluk hangat dan menempelkan kedua pipinya. Sambutan yang sungguh hangat di tengah terik matahari yang memancar kuat.
Setelah berkenalan sebentar, cerita mulai mengalir. Mengisahkan jalan mereka berdua hingga seperti saat ini. Zulkipli yang merupakan lulusan Teknik Informatika ini menjadi perintis Jurusan Teknik di sebuah SMK di Lombok. Empat tahun menjabat sebagai Ketua Jurusan tanpa tahu basic untuk mengajar dan tak mengantongi sertifikat pendidik menggerakkan hatinya untuk menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Negeri Malang (UM) Jurusan Teknologi Pembelajaran.
Berbeda dengan Zulkipli, sang istri mengajar madrasah di rumah. Perempuan yang menjadi Wakil Kepala Kesiswaan ini menghadapi kenyataan bahwa madrasah tersebut tak bisa berkembang. Sistem pendidikan yang digunakan adalah kekerasan. Hati kecil Nurchasanah seakan bergejolak menolak hal tersebut. Ia tak bisa berbuat banyak karena tak tahu cara mengelola madrasah dan pendidikan tersebut, terlebih keterbatasan untuk menyalahi cara dan aturan yang sudah diterapkan oleh pendidik yang lebih senior. Hal inilah yang membuat Nurchasanah memilih Pendidikan Manajemen.
Kedua permasalahan tersebut mengikat niat pada hati Nurchasanah dan Zulkipli. Tekad yang terpaku menggerakkan mereka untuk menstater sepeda motor menuju Malang. Berbekal uang yang tak terlalu banyak dan buta arah, perjalanan dimulai pukul empat sore kala itu. Deru ombak saat senja mengantarkan mereka ke Pulau Bali. Jarum jam menunjuk angka tiga ketika roda sepeda motor sampai di Denpasar. Dini hari yang sepi tak menyurutkan niat. Beruntung ada kenalan yang mempersilakan mereka untuk menginap.
Tak hilang rasa lelah dan kantuk. Setelah Subuh, sepeda motor kembali melaju. Sempat terhalang niat karena kenalan di Bali yang memperingatkan bahwa Malang itu kota yang jauh. Namun, tekad seakan tumpul, tak bisa dipecah hanya dengan pisau buah.
Tanpa peta dan aplikasi navigasi di android, roda motor kembali bergesekan dengan dermaga. Aroma air laut terhirup. Tak kering tenggorokan untuk berkali-kali bertanya arah menuju Malang. Bahkan Zulkipli baru mengetahui bahwa pelabuhan yang telah ia lewati bernama Gilimanuk ketika kapalnya terombang ombak. Sementara itu, Nurchasanah pingsan akibat kelelahan yang tak terelakkan.
Peluh keringat hanya jadi debu yang berhembus. Tak sekali Nurchasanah pingsan. Di musala kecil yang terletak di perbatasan Probolinggo, matanya kembali terpejam tak sadarkan diri. Namun, seperti makmum yang mengikuti imam, dia tetap meluruskan tekad bersama sang suami. Imamnya pun tak kalah memperhatikan. Sambil memegang tangan Nurchasanah karena takut jatuh lagi, ia melajukan motornya pelan-pelan. Baju terasa lusuh tak tertahankan. Alhasil, Zulkipli hanya memakai sarung dan melepas celananya.
Pukul dua dini hari mereka sampai di Lawang. Lalu, dijemput kenalan mereka yang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Akhirnya, mereka menginap di Asrama Lombok Barat di daerah Sigura-gura selama tiga hari. Tercengang rasanya ketika mereka menyampaikan bahwa perjalanan panjang melelahkan yang mereka ceritakan itu hanya untuk mencari informasi pendaftaran di Pascasarjana UM. Mereka pun kembali pulang setelah mendapatkan jawaban bahwa pendaftaran dibuka sebulan lagi, April 2014.
Rute Lombok-Malang yang ditempuh selama beberapa hari itu tak membuat jera. Mereka kembali lagi untuk melaksanakan tes masuk lalu pulang untuk menunggu pengumuman. Setelah dinyatakan lolos, tantangan luar biasa dari keluarga menjadi pagar besi. Pengakuan bahwa tak ada biaya tak bisa dipungkiri. “Saya cuma punya Allah dan keyakinan untuk hijrah. Saya ingin memperbaiki pendidikan di sini dan hijrah itu disukai Allah,” tegas perempuan yang lahir pada 15 Juli 1985 itu.
Keinginan hati ibarat ingin menyeberang pulau, tapi tak ada jembatan. Namun, seakan Mahakuasa menuntun dan merestui kesungguhan niat dan tekad mereka. “Kita buka Alquran waktu itu. Setiap membuka dan membacanya, selalu ada perintah hijrah di sana,” ungkap Zulkipli dengan logatnya yang khas. Allah menyiapkan sebuah kapal untuk menyeberang pulau. Tiba-tiba ada rezeki datang sehari sebelum batas akhir pembayaran SPP. “Alhamdulillah uang itu bisa pas untuk membayar SPP pertama. Sisanya hanya sedikit, tak pernah kita berpikir bagaimana akan tinggal dan makan di Malang,” tambahnya.
Tangan tak kasat mata Allah selalu terjulur untuk hamba-Nya yang membutuhkan. Sebuah keajaiban mereka bisa bertahan sampai pada semester berikutnya. Pernah dipisah selama tiga bulan di Asrama Lombok Barat, tinggal di Masjid Muhajirin, sampai pada akhirnya tinggal di Wisma Lombok paling tua yang ditempati sekarang. Bahkan berjalan dari alun-alun ke kampus pun tak jadi masalah saat tak ada sisa receh untuk membeli bensin. “Yang paling penting adalah bisa masuk kuliah setiap hari,” ujar Nurchasanah. Hari demi hari ia habiskan di perpustakaan karena memang tak ada biaya untuk fotokopi buku. “Dosen Pasca itu baik-baik. Saya sering diberi buku,” tambahnya. Lahan wisma pun tak dibiarkan menganggur dan mereka tanami beberapa bahan pangan untuk bantu biaya makan.
Hari-hari berlalu menjadi kehidupan yang lebih baik. Mahasiswi yang kerap disapa Bu Nur ini mengajar les privat untuk mencukupi kebutuhan. Zulkipli yang memang ahli dalam teknik menyebarkan brosur untuk menyediakan jasa menginstall software dan reparasi hardware. Sampai pada semester tiga yang sudah di hadapan mata, kembali mereka diuji dengan biaya yang belum ada di genggaman tangan. Sekali lagi Allah tak pernah sekali pun menutup mata pada hamba-Nya. Pada saat terakhir pembayaran SPP, bantuan dari pemerintah yang diajukan pada waktu lampau bagaikan uang yang jatuh dari langit. Bantuan pendidikan tersebut cukup membantu walaupun hanya untuk satu orang.
Berkah dan barokah tak ada henti. Permintaan mengajar semakin banyak. Penghasilan yang didapat digunakan untuk menebus sepeda motor yang digadaikan untuk membayar SPP semester akhir. “Kami ingin cepat kembali ke Lombok dan bekerja agar bisa melunasinya,” ungkap Zulkipli. Tak heran jika sepeda itu menjadi pusaka emas. Hanya itulah yang bisa membawa mereka enam kali pulang-pergi ke Lombok dalam waktu dua tahun ini.
Uang tak akan jadi jaminan untuk bisa menjadi sukses. Usaha dengan peluh bercucuran, sabar dengan ikhlas, dan qana’ah dengan terus bersyukur jadi harga mahal yang tak bisa ditebus dengan uang. Di saat pendidikan masih dipandang rendah di daerahnya dan banyak lulusan SMP yang lebih memilih untuk menikah ataupun menjadi TKI dengan pemalsuan usia, mereka berdua malah memilih untuk menempuh pendidikan tinggi sebagai hijrah. Entah Allah ingin melapangkan jalan atau apa sehingga sampai pada tahun kelima menikah, mereka belum dikaruniai momongan. Namun hal yang terpenting adalah selalu yakin, takdir Allah pasti indah.Maria

Bagikan informasi ini: