Kemerdekaan Para Mantan

Oleh Ardi Wira Saputra

udul Film : Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Tayang : 28 April 2016
Durasi : 1 jam 52 menitCinta, apa yang saya lakukan ke kamu itu tidak adil”
“Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu, Ja Ha T!”
Sepotong dialog tersebut pasti sudah tak asing lagi bagi para pecinta film Indonesia. Bahkan, tingkat popularitasnya merambah pada meme serta berbagai versi poster di jejaring sosial. Salah satu hal yang menjadikan sepotong dialog tersebut sangat populer karena yang mengucapkan adalah Rangga dan Cinta. Dua sejoli yang sempat bombastis namanya empat belas tahun silam, saat keduanya masih duduk di bangku SMA dalam film Ada Apa dengan Cinta (AADC). Sepasang cinta pertama yang berbeda tipe, berbeda latar belakang sosial, dan berbeda watak namun serasi. Mereka ibarat Kamajaya dan Kamaratih. Dewa dan dewi cinta.
Banyak orang berspekulasi tentang kelanjutan kisah Rangga dan Cinta namun akhirnya spekulasi tersebut terjawab dalam film AADC 2. Dalam film ini, dikisahkan Rangga sengaja datang ke Indonesia untuk mencari Cinta. Mereka sudah putus selama sembilan tahun, bahkan teman-teman mereka banyak yang sudah menikah. Nasib Cinta lebih baik, dia baru saja bertunangan dengan pebisnis muda sekaligus kaya bernama Trian. Sedangkan Rangga yang baru saja memiliki kedai kopi di Amerika dan menjadi seorang kolumnis media, nyatanya masih menjomblo. Tak betah dengan kesendiriannya, Rangga pun ingin menemui Cinta.
Awalnya Cinta sempat marah sekaligus judes pada Rangga, bahkan Cinta juga menampar lelaki yang dulu sangat dicintainya itu. Namun Rangga dengan sabar mengajak Cinta untuk mau mendengarkan semuanya dalam sebuah pertemuan di Jogja yang hanya diagendakan satu jam. Nyatanya keduanya pun larut dalam berbagai topik pembicaraan sambil jalan-jalan mengelilingi sudut kota. Tak terasa, seharian penuh mereka bersama.
Larut dalam romantika masa lalu inilah yang dinantikan oleh para penonton. Prof.Abd. Syukur Ghazali, pengajar sastra dari Universitas Negeri Malang, mengatakan bahwa sastra dapat membuat penikmatnya larut dalam kisah yang disajikan sehingga mampu mengalihkan perhatian penikmat sastra dari realita yang sedang dialaminya. Sejenak lupa akan kenyataan dan hanyut dalam kisah yang dialami para tokoh. Rupanya efek inilah yang dipahami benar oleh produser film AADC2. Bagi para pemuda yang berada pada zaman AADC 1, sedikit banyak pasti memiliki kenangan manis mengenai film tersebut. Apalagi jika percintaanya mirip atau terinspirasi dari film itu sehingga efek terbawa perasaan (baper) cukup tinggi ketika menyaksikan film tersebut.
Kisah cinta yang disajikan dalam film AADC 2 secara tidak langsung juga merupakan representasi kisah cinta zaman sekarang. Khususnya representasi kelas sosial menengah untuk mencintai kelas sosial atas. Rangga merupakan perwujudan representasi kelas menengah. Hal itu ditunjukkan dengan belum siapnya dia menikahi Cinta sembilan tahun yang lalu karena masih menyelesaikan kuliah. Di sisi lain, ayah Cinta berpesan pada Rangga agar dia segera bergegas menikahi anaknya. Rangga yang tidak siap memilih untuk memutuskan Cinta dan sembilan tahun memendam rasa sayangnya. Walhasil Cinta bertemu dengan pebisnis kaya raya yang siap untuk menikahinya. Meskipun demikian, kekuatan cinta tiada banding. Keberanian Rangga yang merasa sudah siap menikah untuk menggugah kembali cinta pertamanya diakui jempol. Dia hendak menebus ketidaksiapan sembilan tahun lampau.
Ibarat pahlawan Troya yang berada pada garda terdepan barisan perang. Rangga seolah memimpin para pemuda yang senasib, sekaum dengannya untuk berani menyatakan cinta mereka. Ketulusan dan tanggung jawab adalah modal utamanya. Harta dan materi dikesampingkan semuanya. Hanya dalam waktu sehari semalam, Rangga berusaha mengulang kembali ingatan-ingatan Cinta pada masa-masa indah yang telah ditelan ratusan purnama silam.
Apabila dampak dari film AADC 1 menginspirasi para pemuda untuk menemukan cinta pertamanya, maka layak dinanti dampak dari film AADC 2 ini. Akankah timbul benih-benih Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) atau justru malah menimbulkan niatan untuk kembali mengejar cinta pertamanya? Kita tunggu saja, apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka inilah momen yang tepat sebagai awal kemerdekaan para mantan!
Penulis adalah mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: