Mendaki ‘Putri Tidur’

Matahari di Jingga di sebelah timur dan pemandangan gunung arjunaOleh Budi Akbar

Bila sesekali kita naik ke atap gedung di kampus dan melihat ke arah barat, maka mata kita akan disuguhi pemandangan deretan gunung yang biasa disebut ‘Putri Tidur’ karena posenya yang mirip perempuan sedang tidur. Rentetan pegunungan tersebut terdiri atas Gunung Panderman (kaki), Gunung Kawi (Dada), dan Gunung Butak (kepala). Pada satu kesempatan setelah mati-matian memperjuangkan skripsi di depan penguji, saya bersama seorang sahabat diajak mengikuti pendakian menuju Gunung Butak dengan alokasi perjalanan pulang-pergi tiga hari.
Perjalanan dimulai pada Jumat (22/07), setelah menunaikan sholat Jumat rombongan berangkat dari Kota Malang dan sampai pintu masuk Gunung Panderman memakan waktu 45 menit. Lalu kami membayar biaya masuk Rp8.000 serta biaya parkir sepeda motor Rp5.000. Pukul 02.00 WIB perjalanan pun dimulai dengan mengikuti rute yang berbeda karena jalur menuju Butak harus memutari kaki sang Putri Tidur. Dua jam pertama mata akan disuguhi pemadangan lahan hutan yang dipangkas dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk digunakan oleh penduduk setempat menanam sayur dan buah-buahan. Setelahnya kami melewati hutan tropis dengan jalan yang hanya cukup dilewati satu orang saja, di mana kanan dan kiri ditumbuhi pohon merambat. Tidak sampai di situ, setelah satu jam melewati hutan kami harus menaiki bukit berbatu dengan kemiringan hampir 45 derajat yang menguras waktu serta tenaga lebih. Ditambah kengerian apabila tergelincir ke dalam jurang. Tak terasa gelap pun jatuh dan kami harus beristirahat mendirikan tenda untuk bermalam.
Keesokan harinya, Sabtu (23/07) pukul 09.00 WIB, seluruh rombongan berangkat melanjutkan perjalanan. Perjalanan dimulai dengan jalan datar melewati hutan tropis yang mirip hari sebelumnya hanya lebih jauh dan pepohonan lebih lebat. Tampak banyak lumut hijau di pohon-pohon besar menandakan kadar oksigen di tempat tersebut sangat baik. Namun wajah-wajah yang sebelumnya antusias tiba-tiba berubah pucat karena setelah keluar dari hutan tersebut kami harus kembali menaiki bukit dengan kemiringan ekstrem. Ditambah lagi pijakannya bukan batuan, melainkan pasir kering yang mudah mengepul. Masalah kami bertambah dengan pasokan air yang semakin menipis, sedangkan perjalanan sampai ke titik selanjutnya masih jauh ketika berpapasan dengan pendaki yang turun.
Setelah beristirahat karena hampir 3 jam kami mendaki bukit berpasir pelan-pelan. Terdengar suara bising dari balik bukit yang kami kira sudah dekat dengan pos selanjutnya karena jalan yang terlihat di depan mata menurun. Setengah berlari kami menuruni bukit, namun yang ditemui malah jalan menanjak masuk ke hutan dengan deretan pohon berukuran besar seperti oak, pinus, dan cemara. Dengan persediaan air dan tenaga yang sudah habis, kami putuskan untuk terus mendaki. Mengingat bila beristirahat kami malah akan semakin sulit mengumpulkan tenaga mendaki bukit selanjutnya. Dengan perlahan-lahan, bukit tersebut dilewati. Tanah pegunungan yang lembab memudahkan kaki melangkah, sehingga perjalanan menaiki bukit ini terasa ringan. Lama kelamaan jalan yang semula lebar kian menyempit dan hanya bisa dilalui satu orang karena terdapat jurang curam di sebelah kanan. Pemandangan langit biru yang mengkilap, serta burung elang yang berputar-putar di atas kepala kami membuat takjub dan kagum. Pada akhir bukit terdapat jalan yang ditutupi semak belukar keluar hutan dan rasa takjub kami tak berhenti di situ. Tepat pukul 03.30 WIB, kami sampai di pos selanjutnya yang merupakan Padang Savana yang membentang dan tersembunyi keadaanya. Ditambah lagi terdapat sumber air bersih yang sudah diberi pipa agar mudah diambil. Sore itu kami mendirikan tenda untuk beristirahat.
Esoknya, Minggu (24/07) di pagi buta yang dingin kami bangun untuk bersiap-siap mendaki puncak dengan 30 menit alokasi waktu. Semua barang dan tenda ditinggalkan karena tidak akan ada yang mencuri, mengingat sikap dan rasa saling menghormati para pendaki satu sama lain. Udara pagi karena angin Savana yang menusuk ke tulang membuat sebagain orang menggunakan berlapis-lapis pakaian. Air untuk minum pun berubah menjadi sedingin es dengan embun yang mengkristal di permukaan botol. Selama perjalanan ke puncak jalan yang ditempuh lebih menanjak dari hari sebelumnya, namun setiap kami berhenti beristirahat, matahari mengikuti dan mucul dari kejauhan. Pelan-pelan kegelapan dimakan oleh kilatan jingga yang membelah horizon timur. Dengan perasaan takjub tersebut kami semakin bersemangat sampai ke puncak. Benar saja, di puncak terdapat hamparan tanah datar dengan pemandangan Gunung Arjuna di sebelah timur, Kota Blitar, Kota Kediri di Sebelah Barat, serta jajaran Gunung Kelud dan Gunung Lawu yang terlihat jelas dengan mata telanjang. Beberapa bunga edelweis mulai dibasuhi cahaya mentari membuat pagi itu makin indah untuk manusia seperti kami mencicipi secuil ciptaan Tuhan.
Tepat pukul 10.00 WIB, kami sudah bersiap mengemas barang-barang untuk pulang. Perjalanan pulang dengan jalan menurun membuat langkah semakin mudah. Ditambah lagi mitos bahwa perjalanan pulang selalu lebih cepat dari perjalanan pergi memang betul adanya. Pukul 16.00 WIB kami sudah sampai di tempat kami membayar tiket dan menitipkan motor. Akhirnya saya simpulkan bahwa tujuan naik gunung bukanlah sampai di puncak dan menangkap matahari terbit, tapi sampai kembali ke rumah dengan selamat.
Penulis adalah mahasiswa
Ekonomi Pembangunan
Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: