Spirit Berqurban: Meningkatkan Iman, Membina Persaudaraan

korbanOleh Ahya Mujahidin

Berqurban merupakan ajaran yang waktu pelaksanaannya bersamaan dengan ibadah haji. Ibadah Qurban ini, biasa dilakukan pada saat Hari Raya Idul Adha. Dengan kata lain, apabila kita mendengar Idul Adha, maka langsung terlintas pada benak kita akan tradisi berqurban yang sangat identik dengan menyembelih hewan qurban.

Mengenal Qurban
Topik Qurban selalu menjadi bahasan penting dan menarik dari dulu hingga sekarang. Pembahasan awal dari tulisan ini difokuskan pada apa yang dimaksud dengan qurban. Secara etimologi, “Qurban” berarti mendekat. Menurut istilah, Qurban berarti upaya pendekatan diri seorang hamba dengan jalan menyembelih hewan yang halal dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan untuk mencari ridha Allah SWT. Salah satu ajaran Islam yang penuh makna, mengandung sejarah, dan juga menumbuhkan rasa kepekaan sosial adalah ibadah qurban. Perintah untuk berqurban tertulis dalam QS. Al-Kautsar ayat 1 -2 yang artinya, “Sesungguhnya, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah”.
Memahami ibadah qurban bukan hanya ibadah individual semata. Ibadah qurban sebagai ibadah yang secara khusus dilaksanakan sekali dalam setahun, tepatnya pada hari besar Islam, yaitu Idul Adha. Penyebutan hari besar Islam untuk Idul Adha ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pada hari itu kaum muslim melakukan shalat Idul Adha. Kedua, adanya pelaksanaan ibadah haji di Makkah. Ketiga, dalam momentum ini pula, ada peristiwa penyembelihan hewan qurban.
Historitas Ibadah Qurban
Kehidupan Nabi Ibrahim penuh dengan keteladanan yang patut diikuti untuk mendapatkan kehidupan. Ketika beliau dan istrinya sudah berusia senja, anak yang ditunggu sebagai generasi pelanjut belum juga dikaruniakan. Masa penantian yang panjang seperti itu tidaklah menyebabkan Nabiyullah Ibrahim As berputus asa dari Rahmat Allah SWT. Beliau tetap istiqamah berdo’a dan memohon kepada-Nya agar dianugerahi keturunan yang shaleh. Beliau selalu berdo’a “Robbi habliminassholihin”, Wahai Tuhan-ku karuniakanlah kepadaku anak yang shaleh. Akhirnya Allah menganugrahkan kepadanya seorang anak yang diberi nama Ismail As.
Baru saja menikmati kebahagiaan dengan kelahiran putranya, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk membawa istri dan anaknya ke dekat Baitullah. Beliau diperintahkan untuk berpisah dengan keluarganya, bahkan disuruh untuk menempatkan istri dan anaknya di sebuah tempat yang sangat gersang. Dalam kondisi seperti itu Siti Hajar tidak berputus asa. Ketika semua perbekalannya telah habis, ia pun berlari mencari air dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa. Setelah perjuangannya mencapai titik optimal, Allah menurunkan pertolongan-Nya dengan mengeluarkan mata air di dekat kaki Ismail. Mata air itu kemudian kita kenal dengan sumur zamzam yang mengalir dan dapat dinikmati jutaan kaum muslimin hingga saat ini.
Ketika Ismail telah tumbuh dewasa dan dapat diajak bertukar pikiran untuk mencari penyelesaian problem yang ada, datanglah ujian keimanan berikutnya. Allah yang tidak pernah berbuat dzalim kepada hamba-Nya, memerintahkan kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putra tercinta, putra tunggal, harapan satu-satunya yang menjadi pelanjut risalah perjuangannya.
Nabi Ibrahim pun menajamkan keyakinannya untuk mewujudkan perintah itu. Beliau kemudian menyampaikan perintah Allah tersebut kepada putranya, Ismail As. Di luar dugaan, beliau mendapatkan jawaban dan respon yang luar biasa. Saat beliau mengatakan kepada putranya Ismail: “Wahai anakku sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu, maka kemukakanlah bagaimana pendapatmu? Nabi Ismail As menjawab : “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepada ayah, Insya Allah ayah akan mendapati saya dalam keadaan sabar” (QS. As-Shaffat; ayat 102).
Kesanggupan Nabi Ibrahim As menyembelih anak kandungnya sendiri, Nabi Ismail, bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta, tetapi meyakini bahwa perintah Allah SWT itu harus dipatuhi. Saat Nabi Ibrahim akan melaksanakan perintah tersebut, Allah mengutus malaikat Jibril mengganti dengan seekor domba sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran Surat Ash-Shoffat ayat 107.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS. Ash-Shoffat ayat 107).

Hikmah Berqurban
Terdapat banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan seseorang kepada Allah SWT. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin. Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah qurban bagi umat Islam adalah semata-mata mencari ridla Allah SWT. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketaqwaan hamba kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al-Hajj: 37).
Ibadah Qurban mengajarkan umat Islam untuk selalu mengembangkan ukhuwah Islam antar sesama muslim. Umat Islam belajar peka terhadap keadaan saudaranya yang mungkin secara ekonomi mendapat cobaan dari Allah, sehingga dengan disyari’atkannya menyembelih hewan pada hari raya ini, sesama muslim dapat saling berbagi, saling membantu, dan saling merasakan kebahagiaan di hari-hari yang penuh berkah ini.
Ibadah Qurban juga bertujuan mengangkat derajat dan martabat umat manusia. Pada zaman dulu, hampir semua peradaban mengenal yang namanya pengorbanan manusia untuk mendatangkan rezeki, menolak bencana , atau bahkan untuk sekadar persembahan kepada dewa-dewa. Mereka mengorbankan dan membunuh anak perempuan atau anak laki-laki mereka dengan harapan para dewa memberikan kebaikan dan menghindarkan bencana dari mereka. Dengan syari’at qurban, Allah menegaskan jika hamba-Nya ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka cukuplah hal itu dilakukan dengan cara menyembelih binatang ternak sesuai syari’at yang disertai niat tulus dan ikhlas mengharapkan ridha Allah SWT.
Jika hikmah seperti itu dicapai dengan qurban menyembelih hewan seperti unta, sapi, dan kambing serta membagikannya kepada sesama, sesungguhnya spirit yang sama juga harus kita miliki; baik ketika Idul Adha kita berqurban atau tidak. Spirit untuk peduli pada sesama, spirit untuk menebar kemanfaatan kepada manusia, spirit untuk mengorbankan sesuatu yang berharga demi kejayaan agama.
Penulis adalah mahasiswa Biologi, Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: