Ahli Nujum yang Menjalin Cinta dengan Budaknya

Oleh Royyan JulianPergilah, Kasihku. Pergilah ke tanah selatan yang jauh. Mumpung hari belum gelap, segeralah ke pelabuhan. Di sana akan kaujumpai galiung orang-orang Portugis atau jung para saudagar Swarnadwipa, Arab, Persia, Gujarat, dan Tiongkok. Berlayarlah bersama kapal rempah-rempah atau apa pun yang menjauhi negeri ini. Hiduplah sebagaimana manusia pada umumnya. Beranak-pinaklah dan catatlah namamu dalam darah dan silsilah keturunanmu.
Tak perlu kuatirkan aku. Esok hari, ketika matahari terbit sepenggalah, segalanya akan usai. Takkan ada lagi orang yang membicarakan kita. Semuanya akan terlupakan. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu.
***
Jangan salahkan kisah cinta kita. Inilah takdir yang mesti kita jalani. Bila Tangan Syah Alam berkehendak, segalanya bakal terjadi. Manusia fana takkan mampu menolaknya. Kau tuanku, sedangkan aku budakmu. Bila dilihat dengan zahir, hubungan kita begitu musykil. Tetapi siapa pula yang bisa menepis suratan Yang Mahakuasa?
Bukan salah kita bila semua ini terjadi. Tetapi segalanya berawal dari pertemuanku dengan Pangeran Marjan, putra mahkota yang gemar bersolek itu.
Saban sore kauminta aku memberi makan ikan-ikan koi di kolam taman. Taman itu dibangun di tepi tebing, bersebelahan dengan istana di atas bukit. Setiap senja mekar, orang-orang istana menghabiskan waktu di sana. Tak hanya manusia, tetapi satwa: rusa-rusa, burung-burung, dan kera-kera.
“Ikan-ikan koi itu adalah hadiah kaisar Nippon kepada sultan. Hewan-hewan cantik itu akan membawa keberuntungan bagi kerajaan. Aku dimandatkan untuk merawatnya. Segala yang berkaitan dengan untung-sial adalah tanggung jawabku sebagai ahli nujum istana. Jadi, kuminta engkau untuk memberi mereka makan, Rahman.”
Beberapa meter dari kolam itu berdiri sebuah gazebo bercat putih. Di sanalah Pangeran Marjan menghabiskan senja dengan membaca atau menulis. Ketika sibuk dengan ikan-ikan itu, aku merasa bahwa pangeran menatapku. Mungkin perasaanku saja. Sampai beberapa hari kemudian, ia memanggilku.
“Kemarilah budak, kemarilah.” Ia lambaikan tangannya yang lentik. Kuduga ia melihat kalung perhambaan yang melingkar di leherku. Aku belum yakin ia tengah memanggilku, tetapi ia mengangguk ketika kutujukan telunjuk pada dadaku.
“Setiap sore kulihat kamu memberi makan ikan-ikan. Siapa namamu?” Lalu kusebut namaku: Salem Abdul Rahman. Orang-orang memanggilku Rahman.
“Kau hamba siapa?” dan kusebut nama tuanku: Dewi Anggrek Jingga.
“Oh… tukang nujum itu. Aku tak mengerti mengapa ayah masih percaya astrologi. Semestinya di kerajaan maritim yang jaya ini tak ada lagi seorang dukun.”
Aku tak mengerti apa yang dibicarakannya. Kutaksir, ia adalah seorang rasionalis. Mungkin buku-buku yang dibacanya telah memengaruhi isi kepalanya. Dan begitulah ihwal perjumpaan kami.
Setiap sore, ia selalu mengundangku ke gazebo, minum teh atau anggur, membacakan kutipan-kutipan dari buku. Membicarakan apa-apa yang tak kupahami. Aku hanya menjadi pendengar setia.
Suatu kali Pangeran Marjan berkata, “Kau tahu, Rahman, menurutku, Syahriar adalah khalifah yang tolol. Ia gampang terbuai oleh segala ocehan Syahrazad. Bisa saja pada akhirnya Syahrazad mengkhianati Syhariar sebagaimana istri pertamanya dulu berbuat serong dengan budak kulit hitam. Coba kaupikir, apa menariknya bergaul dengan seorang budak?”
Pertanyaan itu menyentakku. Coba kaupikir, apa menariknya bergaul dengan seorang budak? Seharusnya langsung kubilang kepadanya, Pangeran, aku seorang budak, lalu mengapa kau bergaul denganku?
Teka-teki itu sulit kutebak hingga jawabanya mulai tersingkap perlahan-lahan. Sebenarnya aku tak boleh berprasangka apa pun, tetapi gerak-gerik sang pangeran menununjukkan bahwa ia tertarik secara seksual kepadaku. Kalau bukan karena itu, mengapa ia harus mengingkari ucapannya sendiri bahwa bergaul dengan seorang budak sama sekali tak menarik?
Pada suatu senja yang lembut, seperti biasa, pengeran memanggilku. Lalu membawaku duduk di bawah pohon dewandaru yang ridang. Ia berdiri di hadapanku sambil menggenggam sehelai kertas.
“Aku akan membacakan sebuah syair yang amat singkat.”
Dari dinding tebing yang terjal, laguku melantun bersama nyanyian camar. Angin berembus dari nafas nafsuku. Mengapa gelombang menjadi pasang ketika kaudatang, saat senyummu melenyapkan bangkai waktuku?
“Selesai.” Ia tersenyum lebar. Aku ternganga. “Syair ini kutulis khusus untukmu.”
Kupikir segala amsal puisi itu mengarah pada gairah cinta. Tapi aku gagal memahaminya. Kusimpan saja teks syair itu ketika Pangeran Marjan menyerahkannya kepadaku, lalu kutunjukkan padamu. Kau hanya berkata, “Apa kau melihat api di kedua matanya? Apa kau melihat rona merah muda di wajahnya?” Aku tak pernah memerhatikan itu.
Tetapi Pangeran Marjan tidak berhenti sampai di situ. Ia terus menulis syair-syair untukku. Ketika kutanya apa maknanya, ia hanya menjawab, “Kau pikir-pikir sendiri” sembari tersipu-sipu.
“Kita belum bisa menyimpulkan apa pun.” Kau berkata seperti itu ketika kutunjukkan syair-syair Pangeran Marjan kepadamu.
“Lagi pula, sudah menjadi rahasia umum bahwa pangeran telah memiliki kekasih mantan budak yang sekarang tinggal di harem,” tambahku yang sebenarnya lebih terdengar seperti menghibur diri.
Tapi aku masih merasa janggal ketika Pangeran Marjan pernah berkata, “Kau tahu tidak kalau bibirmu sangat bagus? Apa aku boleh menyentuhnya?”
Tanpa persetujuanku, ia langsung menyentuh bibirku sambil mendesis, “Matang, enak, dan brutal.” Lalu ia tertawa, meninggalkanku dalam keadaan penuh tanda tanya. Selama ia tak berbuat sesuatu yang mencederaiku atau apa, aku masih bisa mengabaikan segala sikapnya yang aneh.
“Rahman, apa kau pernah makan hati angsa?”
“Tidak pernah.”
“Tentu saja. Kau hanya seorang budak. Hati angsa adalah makanan para raja. Apa kau mau mencicipinya?”
“Tidak terlalu.”
“Jangan munafik, Rahman. Besok aku akan mengajakmu ke Danau Kabut. Pada musim yang mulai dingin ini, kawanan angsa akan bermain di situ. Kita akan berburu angsa.”
“Aku harus meminta izin kepada Anggrek Jingga.”
“Jangan konyol. Aku lebih berkuasa atasmu ketimbang tukang nujum itu.”
Dan kau memang menginzinkanku. Esok harinya, ketika matahari mulai condong ke arah barat, kami berkuda menuju Danau Kabut.
Setelah menyantap dua hati angsa yang begitu nikmat, pangeran berucap, “Malam ini bayangan purnama akan jatuh di permukaan danau. Tentu kita tidak akan melewatinya. Jadi, kita akan bermalam di sini. Aku sudah membawa tenda, sitar, dan beberapa botol anggur. Kita akan menghabiskan waktu di sini.”
Aku mulai kuatir, tetapi anggur yang lezat dan panorama di tepi danau telah membuatku mabuk kepayang.
Ketika sinar mentari menampar wajahku, aku terkesiap dan bangun dalam keadaan telanjang. Selangkanganku basah. Menyadari keadaanku yang bugil, kutarik selimut. Pangeran Marjan duduk di sebelahku, menyesap sisa anggur semalam.
“Tadi malam kau teler parah. Kau bilang gerah, lalu kau tanggalkan seluruh pakaianmu. Padahal malam sangat dingin. Kau tahu, suhu rendah kerap membuat orang mimpi basah.”
Wajahku memerah. Kuceritakan segala apa yang terjadi kepadamu.
“Itu sudah menunjukkan semuanya.” Hanya itu yang kauucapkan.
***
Penyakit tua telah merenggut nyawa perempuan renta itu. Lalu kau datang menggantikannya. Perlu beberapa pekan hingga tim kerajaan menemukanmu sebagai ahli nujum yang baru, saat usiamu telah matang, dua puluh lima tahun, sedangkan aku dua tahun di bawahmu.
Pada mulanya aku adalah budak seorang kadi. Setelah kau hadir di istana, sultan membeliku dari kadi tersebut dan menghadiahkanku padamu. Jadilah aku budakmu. Ketika cinta kita bersemi, kau berkata-kata, “Mungkin orang-orang menganggap hubungan kita adalah tuan-budak, tetapi cukuplah kita yang tahu bahwa sebenarnya kita adalah sepasang satwa yang tengah dilanda asmara.” Kata-katamu membuat martabatku sebagai manusia berharga. Aku tak perlu penghormatan orang lain. Darimu saja sudah lebih dari cukup.
Persisnya, aku tak pernah tahu asal mula kita menjadi sepasang kekasih. Tetapi aku yakin, masa-masa berat yang telah kaulewati bersamaku telah membuat kuncup-kuncup cinta berbunga di dalam hati kita. Aku bisa merasakan beban yang kaupikul sebagai seorang ahli nujum. Hidup-mati negeri ini bergantung padamu.
Sejak kau di sini, nujum dan takwilmu memang tak pernah luput. Kau tak kalah hebat dari perempuan tua yang telah kaugantikan. Tafsirmu atas tanda-tanda telah menyelamatkan negeri ini dari bencana paceklik, wabah mematikan, serangan puak barbar, tipu daya kaum lanun, dan sebagainya. Berkatmu, kerajaan selalu siap siaga bila akan terjadi petaka. Jasamu sudah tak terhitung banyaknya, Jingga.
Memang harus ada harga yang mesti dibayar atas semua itu. Akulah saksi dari betapa beratnya ketika kau menerima nubuwat-nubuwat yang kausebut sebagai pertanda. Bila isyarat-isyarat itu turun, kau kerap menggigil seperti demam, mengucurkan keringat dingin, dan wajahmu menjadi sepucat mayat.
“Peluklah aku, Rahman, peluklah aku.” Lalu kupeluk tubuhmu yang kaku. “Jangan pernah kaulepaskan.” Takkan pernah kulepaskan, Kasihku.
Setelah itu, badanmu menjadi begitu lemah. Kau butuh minum bergelas-gelas air. Kau akan segera melaporkan apa yang kauterima kepada wazir atau sultan.
Pertanda-pertanda itu datang bukannya tanpa risiko. Terkadang “aku merasa bahwa nyawaku sedang ditarik-ulur oleh Izrail.” Itu “membuatku sesak napas.” Kesadaranmu “seperti diambang batas antara hidup dan alam kematian.” Bayang-bayang itu tidak pernah lenyap ketika kau telah pulih sepenuhnya. Untuk itu “jangan pernah jauh dariku, Rahman. Kaulah satu-satunya orang yang memahamiku. Aku tak sanggup menanggung beban ini sendirian.”
Tetapi hal paling hakiki yang telah kaukorbankan sebagai seorang ahli nujum adalah cinta. Cinta, bagimu hanya sebatas perasaan. Tak lebih dari itu. Bila kau ingin lebih, nasibmu sebagai ahli nujum akan tamat. Seorang ahli nujum perempuan tak diperkenankan menikah, sebab bila ia tak lagi perawan sunti, dipercaya bahwa kekuatannya akan lenyap. Seorang perempuan yang telah berkomitmen menjadi ahli nujum istana dan ketahuan telah tidak perawan, hukumannya akan berat, sebab reputasi dan nasib kerajaan bergantung pada kemampuan magisnya.
“Terimalah, Rahman, bahwa kita takkan pernah bersatu. Mahligai perkawinan hanya akan menjadi angan-angan kita. Jangan pernah mengharapkan apa-apa dariku kecuali perasaan cinta itu sendiri.”
Kata-kata itu begitu pahit terdengar. Kenyataan bahwa aku adalah seorang budak cukup menghiburku. Bagaimanapun juga, kendatipun engkau bukan seorang ahli nujum, menikah denganmu adalah sebuah kemustahilan. Aku mencintaimu, kau mencintaiku, dan kita bisa selalu bersama adalah anugerah yang tak ternilai. Tak perlulah aku berharap lebih dari itu. Seorang hamba memang tidak boleh punya cita-cita. Aku adalah seorang budak dan takdirku adalah dimiliki, bukan memiliki.
***
Sekitar tengah malam, terdengar ketukan pintu. Kami tinggal di sebuah menara di sebelah barat taman tepi tebing. Menara itu terlihat seperti sebuah mercusuar. Balkon puncak menara adalah tempat kau biasa menatap konstelasi bintang-bintang dan membaca pertanda musim.
Ketukan itu telah beberapa kali. Kau segera mengenakan busanamu yang hitam. Rambutmu yang panjang dan kelam jatuh menutupi punggungmu. Aku bergegas membukakan pintu. Di ambangnya telah berdiri wazir dan dua prajurit.
“Kalian berdua ditunggu sultan dan hakim Zaidc di balairung,” ucap wazir. Ada nada kuatir di setiap kata-katanya.
Tentu aku juga kuatir. Aku tak tahu kenapa kami harus menghadap kepada sultan dan hakim Zaidc pada malam nyaris dini hari.
Di balairung sudah hadir sultan, hakim Zaidc, Pangeran Marjan, dan beberapa prajurit. Pasti ada yang tidak beres. Kami berdiri di tengah aula.
“Kalian tahu mengapa kalian dipanggil ke sini?”
Kami sama sekali tak tahu.
“Kalian tidak perlu berpura-pura. Aku telah memergoki kalian bersenggama di taman beberapa jam setelah isya.” Tiba-tiba Pangeran Marjan angkat suara.
Ya, tentu aku ingat. Beberapa jam setelah isya, kami duduk di bangku taman yang sunyi. Purnama perak menggantung di ufuk selatan, menggenapi sapuan cahaya bintang junubi. Pada momen kesekian, kami berciuman. Pada saat itulah kami mendengar kerisik dari semak-semak di belakang kami. Sontak aku bangkit dari tempat duduk dan memeriksa sumber suara, tetapi yang kudengar hanyalah tapak kaki yang menjauh. Di kegelapan, kulihat bulu merak melambai tertiup angin pada sepucuk topi sesosok manusia yang bergegas. Dan baru kusadari bahwa satu-satunya orang yang memiliki topi itu hanyalah Pangeran Marjan yang modis.
Apa yang dikatakan pangeran adalah dusta. Kami tak pernah bersenggama. Seorang ahli nujum yang telah berkomitmen tak akan bersenggama. Kau, Jingga, adalah orang yang setia kepada kerajaan. Aku tahu itu. Aku dan kau pun sudah bisa menebak bahwa tuduhan Pangeran Marjan digerakkan oleh rasa cemburu. Rasa cemburu bahwa kau dan aku adalah sepasang kekasih. Dia telah melihat kau dan aku berpagut mesra di bawah sihir bulan yang menggetarkan.
“Aku tak pernah melakukan perbuatan terlarang—”
“Aku telah mendatangkan enam saksi,” potong pangeran sembari menunjuk ke jejeran prajurit.
Sudah bisa dipastikan bahwa prajurit-prajurit itu telah dibayar!
Singkatnya, aku dan kau tak bisa melakukan pembelaan apa pun hingga hakim Zaidc memutuskan eksekusi atasmu.
“Biar aku saja yang menanggungnya.” Kuajukan diriku.
“Jangan sok jadi pahlawan, Rahman. Keputusan hakim tak bisa digugat,” tukas pangeran. “Hukum dijatuhkan atas tukang nujum itu biar menjadi contoh bagi semuanya. Ini telah tertulis dalam undang-undang kerajaan.”
Setelah itu aku tak punya kekuatan apa pun.
Melihatmu digiring oleh prajurit-prajurit membuat airmataku nyaris jatuh. Kau tak bisa membendung air kesedihan itu. Lalu tangis kita tumpah. Dari jendela yang terbuka, angin berhembus, membawa siut yang menyakitkan.
Sepanjang malam, aku tak dapat memejamkan mata. Aku tak bisa membiarkanmu mati sia-sia atas apa yang tak pernah kita lakukan. Kau masih menjaga kesucianmu. Sebagai kekasih, aku telah melindungimu.
***
Tak ada kesempatan untuk mengulur waktu, sebab esok adalah hari ketika kau akan dieksekusi, dirajam. Itulah hukuman yang tertulis di dalam undang-undang kerajaan. Dalam pikiran yang dituntut cepat, telah kutemukan solusi untuk menyelamatkanmu.
Hari telah dini. Dengan menyaru sebagai seorang prajurit, aku memasuki rumah tahanan. Kubawa beberapa botol minuman yang telah kucampuri dengan obat tidur yang kudapat dari laboratorium tabib istana. Tanpa berpikir panjang, para penjaga selmu lahap menuntaskan beberapa teguk minuman berempah itu. Kini semua penjaga tak sadarkan diri. Kurebut kunci sel tahananmu. Ini cara yang klise. Aku mendapatkan siasat ini dari buku-buku picisan yang kubaca di perpustakaan istana.
“Izinkanlah hamba memenuhi tugas sebagaimana seorang budak. Kuabdikan diriku untuk menyelamatkanmu.”
Jingga bergeming. Ia hanya menatapku. Matanya berair.
“Jingga, kita tak punya banyak waktu. Segera tanggalkan jubah eksekusi itu biar lekas kaukenakan baju prajurit ini. Dan pergilah secepatnya. ”
Ia masih tak berkutik.
“Aku berjanji padamu kita akan berjumpa di pelabuhan pulau seberang.” Aku berbohong. “Kau harus segera pergi sebelum ayam berkokok.”
“Bagaimana kau akan lolos dari ini semua?”
“Aku punya cara.”
“Katakan padaku.”
“Ceritanya panjang. Ayolah, kau harus segera pergi.”
“Kau berjanji kita akan bertemu?”
“Ya.” Jawaban singkat itu terdengar begitu gentar.
Kau kecup keningku sebelum pergi. Sebelum aku pergi untuk selamanya. Setelah ini kita takkan pernah bertemu.
Cahaya matahari menembus kisi-kisi. Strategi ini akan berhasil. Semuanya telah rapi. Sel tahanan terkunci kembali. Para penjaga tak tahu bahwa mereka telah dikelabui. Aku meringkuk di pojok dengan jubah putih. Takkan ada yang mengenaliku. Jubah itu melingkupi sekujur tubuhku, menutupi kepalaku. Yang terlihat hanyalah kedua mataku.
Segalanya akan tiba pada waktunya.
Di sepetak lahan eksekusi, sebuah lubang telah menganga. Lubang kematianku. Aku digiring menuju ceruk mautku.
Kurasakan lembap lubang itu menghimpitku. Aku tak bisa bergerak sama sekali. Separuh badanku terkubur di dalam tanah. Mataku telah ditutup dengan sehelai kain. Kurasakan terik matahari duha menyambar wajahku.
Setelah itu yang kudengar adalah pekik nama Tuhan. Lalu batu-batu itu menghantamku bertubi-tubi. Sisanya adalah pekat.
Maka pergilah, Kasihku. Pergilah ke tanah selatan yang jauh. Pergilah mumpung hari belum gelap….

Yogyakarta, 3 November 2014
Penulis adalah alumnus Sastra Indonesia UM. Buku mutakhirnya, Tandak (2015) memenangkan Sayembara Sastra Dewan Kesenian
Jawa Timur.

Bagikan informasi ini: